Kajian Teori, Mata Pelajaran SD SMP SMP SMA SMK MTS dan Mata Kuliah Mahasiswa

Minggu, 16 Oktober 2016

Pengertian Cuaca dan Iklim Definisi Unsur Klasifikasi Jenis Vegetasi Alam Perubahan Iklim Global dan Infomasi

Pengertian Cuaca adalah keadaan udara pada saat tertentu dan di wilayah tertentuyang relatif sempit dan dalam jangka waktu yang singkat. Cuaca terbentuk dari gabungan unsur cuaca dan jangka waktu cuaca bisa hanya beberapajam saja. Misalnya pagi hari, siang hari, atau sore hari, dan keadaannya dapat berbeda-beda untuk setiap tempat serta setiap jamnya.

Di Indonesia keadaan cuaca selalu diinformasikan untuk jangka waktu sekitar 24 jam melalui prakiraan cuaca hasil analisis Badan  Meteorologi dan Geofisika (BMG), Departemen Perhubungan. Untuknegara yang sudah maju perubahan cuaca sudah diumumkan setiap jam dan sangat akurat (tepat).

Definisi Iklim adalah keadaan cuaca rata-rata dalam waktu satu tahun yang penyelidikannya dilakukan dalam waktu yang lama (minimal 30 tahun)dan meliputi wilayah yang luas. Matahari adalah kendali iklim yang  sangat penting dan sumber energi di bumi yang menimbulkan gerakudara dan arus laut. Kendali iklim yang lain, misalnya distribusi darat dan air, tekanan tinggi dan rendah, massa udara, pegunungan, serta arus laut dan badai. Perlu Anda ketahui bahwa ilmu yang mempelajari tentang iklim disebut Klimatologi, sedangkan ilmu yang mempelajari tentang keadaan cuaca disebut Meteorologi.

Meteorologi atau ilmu cuaca adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji peristiwa-peristiwa cuaca dalam jangka waktu dan ruang terbatas. Klimatologi adalah ilmu pengetahuan yang juga mengkaji tentang gejala-gejala cuaca. Perbedaannya di antara keduanya adalah pada klimatoligi tetapi sifat-sifat dan gejala-gejala cuaca tersebut memiliki sifat umum dalam jangka waktu dan daerah yang luas di atmosfer permukaan bumi.


2. Unsur-Unsur Cuaca dan Iklim

a. Suhu Udara
Suhu udara adalah suatu keadaan panas atau dinginnya udara. Alat untuk mengukur suhu udara atau derajat panas disebut Termometer. Biasanya pengukuran dinyatakan dalam skala Celcius (C), Reamur (R), dan Fahrenheit (F). Suhu udara tertinggi di muka bumi adalah di daerahtropis (sekitar ekuator) dan semakin ke kutub, semakin dingin. Beberapa skala pengukuran suhu udara dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut ini.

BACA JUGA :

  1. Sejarah dan Pengertian Pembentukan Bumi
  2. Cabang - Cabang Geografi Fisik dan Manusia
  3. Pengertian dan Macam-Macam Perairan Darat


Udara akan menjadi panas karena adanya penyinaran matahari.
Tabel 4.1 Skala Pengukuran Suhu Udara

Akibat penyinaran matahari, permukaan bumi menerima panas. Udara akan menerima panas dari permukaan bumi yang dipancarkan kembali setelah diubah dalam bentuk gelombang panjang.

Radiasi yang dipancarkan matahari tidak seluruhnya diterima oleh bumi. Bumi menyerap radiasi sebesar 51%, selebihnya dipantulkan kembali oleh awan 20%, oleh bumi 4%, dan oleh atmosfer 6%, serta dibaurkan oleh molekul udara dan debu atmosfer sebesar 19%.
 
Gambar 4.4 Persentase radiasi sinar matahari yang dipancarkan dan tidak seluruhnya diterima oleh bumi.

Perubahan suhu yang paling dominan dikarenakan faktor lintang dan ketinggian tempat. Pada umumnya, keadaan suhu akan menurun jika seseorang berangkat menuju ke arah kutub, dan demikian halnya suhu itu akan menurun jika seseorang bergerak ke arah atas atmosfer.

Keadaan suhu suatu tempat di permukaan bumi bergantung pada hal-hal sebagai berikut.
  1. Intensitas dan durasi harian dari energi matahari yang diterima di atmosfer di atas permukaan daerah.
  2. Pelenyapan energi dalam atmosfer terjadi oleh pemantulan, pemancaran, dan penyerapan.
  3. Kemampuan penyerapan di permukaan daerah.
  4. Sifat-sifat fisik permukaan daerah dan daerah sekitarnya.
  5. Pertukaran panas dalam penguapan (evaporasi), pengembunan (kondensasi), pembekuan (freezing), dan pencairan (melting) air.

Banyaknya sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut.

1) Lamanya Penyinaran Matahari
Semakin lama matahari memancarkan sinarnya di suatu daerah, semakin banyak panas yang diterima bagian bumi itu. Keadaan cuaca yang cerah sepanjang hari akan semakin panas, jika dibandingkan dengan keadaan cuaca yang berawan sepanjang hari.

2) Sudut Datang Sinar Matahari
Jika sudut datang sinar matahari di suatu daerah lebih tegak, panas yang diterima daerah tersebut cenderung lebih banyak, daripada sudut datang sinar matahari yang miring.

Contohnya, di wilayah ekuator yang memiliki suhu paling tinggi, sudut datang sinar matahari relatif tegak. Di daerah ini sinar matahari selalu ada sepanjang tahun, sehingga rata-rata suhu yang ada di daerah ini relatif konstan.

3) Keadaan Permukaan Bumi
Hal yang berkaitan dengan keadaan permukaan bumi ialah perbedaan warna batuan dan perbedaan sifat darat dan laut. Batuan yang berwarna cerah lebih cepat menerima panas jika dibandingkan dengan jenis batuan yang berwarna gelap. Bentuk permukaan daratan lebih cepat menerima panas jika dibandingkan dengan permukaan laut.

Pemanasan oleh bumi terjadi melalui proses sebagai berikut.
  • Pemanasan langsung terjadi karena kontak langsung.
  • Konveksi terjadi karena terjadi perpindahan udara.
  • Turbulensi terjadi karena pergerakan udara yang tidak teratur, pada umumnya berputar-putar.
  • Adveksi terjadi karena perpindahan udara ke arah horisontal atau mendatar.

Untuk mengetahui temperatur rata-rata suatu tempat digunakan rumus sebagai berikut.
                                 h
Tx = To– 0,6 ×  _______
                               100

Keterangan:
Tx = temperatur rata-rata suatu tempat (x) yang dicari (oC).
To = temperatur suatu tempat yang sudah diketahui (oC).
h = tinggi tempat (m dpl)

Contoh:
Temperatur daerah Sukamakmur 20°C. Ketinggian tempatnya 700 m di atas permukaan laut. Berapakah temperatur rata-rata daerah Sukamakmur?
Jawab:
Diketahui:
To = 20° C
h = 700 m dpl
Ditanyakan: Tx?
Tx = 20 – 0,6 ×
   = 20 – (0,6 × 7)
   = 20 – 4,2
   = 15,8° C

Di Indonesia, keadaan suhu udara relatif bervariasi. Data rata-rata suhu udara di beberapa kota di Indonesia, dapat Anda lihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Rata-Rata Suhu Udara di Beberapa Kota di Indonesia


Rata-rata suhu tahunan di Indonesia sekitar 26,8° C. Dalam peta, daerah-daerah yang suhu udaranya sama dihubungkan dengan garis yang disebut isotherm.

b. Tekanan Udara
Tekanan udara adalah berat massa udara pada suatu wilayah. Tekanan udara menunjukkan tenaga yang bekerja untuk menggerak kan massa udara dalam setiap satuan luas tertentu. Tekanan udara semakin rendah jika semakin tinggi dari permukaan laut.

Alat untuk mengukur tekanan udara disebut barometer. Satuan tekanan udara adalah bar. Satu bar = 1000 milibar (mb). Satu atmosfer (1 atm) sama besarnya dengan 1.013 bar atau 1013 mb. Orang yang kali pertama mengukur tekanan udara adalah Torri Celli (1643). Alat yang digunakannya adalah barometer raksa.

Barometer yang banyak digunakan, yaitu menggunakan kolom air raksa. Tinggi kolom air raksa menyatakan besaran tekanan udara. Barometer yang tidak menggunakan air raksa disebut barometer aneroid.

Garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat yang sama tekanan udaranya disebut isobar. Bidang isobar ialah bidang yang tiaptiap titiknya memiliki tekanan udara sama. Jadi perbedaan suhu akan menyebabkan perbedaan dari tekanan udara.

Daerah yang banyak menerima panas matahari, udaranya akan mengembang dan naik. Oleh karena itu, daerah tersebut bertekanan udara rendah. Di tempat lain terdapat tekanan udara tinggi sehingga terjadilah gerakan udara dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan udara rendah. Gerakan udara tersebut dinamakan angin.

c. Angin
Angin merupakan fenomena keseharian yang selalu dirasakan. Secara sederhana, angin diartikan sebagai massa udara yang bergerak dari suatu tempat ke tempat lain.

Dari mana dan menuju ke manakah angin itu bergerak? Tiupan angin terjadi jika di suatu daerah terdapat perbedaan tekanan udara, yaitu tekanan udara maksimum dan minimum. Angin bergerak dari daerah bertekanan udara maksimum ke minimum.

Misalnya, pada Desember, matahari sedang berada di Belahan Bumi Selatan (BBS), contohnya Benua Australia. Oleh karena pengaruh sinar matahari, udara di Benua Australia akan memuai sehingga tekanannya menjadi rendah (minimum). Adapun di Belahan Bumi Utara (BBU), Benua Asia, pada Desember sedang mengalami musim dingin sehingga tekanan udaranya tinggi (maksimum). Akibat perbedaan tekanan udara tersebut, bergeraklah massa udara (angin) dari Benua Asia ke Benua Australia.

Ada tiga hal penting yang berhubungan dengan sifat angin, yaitu kekuatan angin, arah angin, dan kecepatan angin. Kecepatan angin diukur dengan menggunakan anemometer. Semakin cepat angin bertiup, semakin cepat mangkuk berputar.

Dalam kehidupan sehari-hari, Anda mengenal beberapa jenis angin. Penamaan angin bergantung dari arah mana angin itu bertiup. Misalnya, jika datangnya dari arah gunung disebut angin gunung, dan jika datangnya dari arah timur disebut angin timur.

1) Angin Passat (Trade Wind)
Angin Passat adalah angin yang bertiup tetap sepanjang tahun dari daerah subtropik menuju ke daerah ekuator (khatulistiwa). Angin ini berasal dari daerah maksimum subtropik menuju ke daerah minimum ekuator. Sesuai dengan hukum Buys Ballot yaitu karena pengaruh gaya Corriolis (rotasi bumi), angin di belahan bumi utara berbelok ke arah kanan dan di belahan bumi selatan bergerak ke arah kiri. Angin Passat yang datangnya dari arah timur laut (di daerah iklim tropika di belahan bumi utara) disebut angin Passat Timur. Adapun Angin Passat yang bertiup dari arah tenggara disebut Angin Passat Tenggara.

Di sekitar khatulistiwa, kedua angin passat ini bertemu. Oleh karena temperatur di daerah tropis selalu tinggi, maka massa udara tersebut dipaksa naik secara vertikal (konveksi). Daerah pertemuan kedua Angin
 
Gambar 4.5  Anemometer dapat digunakan untuk mengetahui kecepatan angin

Passat tersebut dinamakan daerah teduh khatulistiwa (doldrums) atau daerah tidak ada angin. Daerah ini disebut juga sebagai Daerah Konvergensi Antar Tropik (DKAT) yaitu daerah yang merupakan zona dengan suhu udara tertinggi. Oleh karena suhu yang tinggi tersebut, maka disebut juga ekuator thermal. Suhu yang tinggi tersebut mengakibatkan tekanan udara menjadi rendah.

2) Angin Anti-Passat
Udara di atas daerah ekuator yang mengalir ke daerah kutub dan turun di daerah maksimum subtropik merupakan Angin Anti-Passat. Di belahan bumi utara disebut Angin Anti-Passat Barat Daya dan di belahan bumi selatan disebut Angin Anti-Passat Barat Laut.

Pada daerah sekitar lintang 20°–30° LU dan LS, Angin Anti-Passat kembali turun secara vertikal sebagai angin yang kering. Angin kering ini menyerap uap air di udara dan permukaan daratan. Akibatnya,terbentuk gurun di muka bumi, misalnya gurun di Saudi Arabia, Gurun Sahara (Afrika), dan gurun di Australia.
 
Gambar 4.6 Gurun Sahara salah satu bentang alam yang terbentuk akibat adanya angin Anti-Passat yang bersifat kering.

3) Angin Barat (Westerlies)
Angin Barat adalah angin yang selalu berembus dari arah barat sepanjang tahun pada daerah garis lintang 35°LU–60°LU dan 35°LS–60°LS. Angin barat yang lebih stabil dan teratur adalah di daerah 40°LS–60°LS, karena daerah ini letaknya lebih luas sehingga udaranya relatif merata. Pengaruh Angin Barat di belahan bumi utara tidak begitu terasa karena hambatan dari benua. Di belahan bumi Selatan pengaruh Angin Barat ini sangat besar, terutama pada daerah 60° LS. Di sini bertiup Angin Barat yang sangat kencang dan oleh pelaut-pelaut disebut roaring forties.

4) Angin Timur Kutub (Polar Easterlies)
Di daerah Kutub Utara dan Kutub Selatan bumi terdapat daerah dengan tekanan udara maksimum. Kemudian dari daerah ini mengalirlah angin ke daerah minimum subpolar (60° LU/LS). Angin ini disebut angin Timur. Angin Timur bersifat dingin karena berasal dari daerah kutub.

5) Angin Muson (Monsun)
Angin Muson adalah angin yang berganti arah secara berlawanan setiap setengah tahun. Umumnya pada setengah tahun pertama bertiup angin darat yang kering dan setengah tahun berikutnya bertiup angin laut yang basah.

Pada April–Oktober di Asia mengalami tekanan udara minimum sedangkan di Afrika Selatan dan Australia mengalami tekanan udara maksimum. Pada saat itu mengalir angin musim dari afrika bagian selatan dan Australia menuju ke Asia.

Bagi kawasan Indonesia angin tersebut merupakan angin musim tenggara atau timur yang tidak membawa hujan, karena tidak melewati lautan yang luas. Akan tetapi untuk daerah bagian selatan yaitu Pulau Seram dan Pantai Timur Sulawesi Selatan pada saat itu turun hujan. Hanya saja persebarannya tidak merata di setiap wilayah. Semakin ke timur curah hujan semakin berkurang karena kandungan uap airnya semakin sedikit. Angin musim ini diberi nama angin Muson Barat.

Pada Oktober–April matahari terdapat di belahan bumi selatan. Di Afrika Selatan dan Australia mengalami tekanan udara minimum, sedangkan di Asia mengalami tekanan udara maksimum.

Angin berembus dari Asia ke Afrika Selatan dan Australia. Angin itu merupakan angin yang banyak membawa uap air dari Samudera Pasifik sehingga bagi Indonesia saat itu turun hujan. Oleh karena tidak melewati lautan yang luas maka angin ini tidak banyak mengandung uap air. Oleh karena itu pada umumnya di Indonesia terjadi musim kemarau, kecuali pantai barat Sumatra, Sulawesi Tenggara, dan pantai Selatan Papua. Angin musim ini diberi nama angin Muson Timur.

 
Peta 4.1 (a) Angin Muson Barat, dan (b) Angin Muson Timur



Antara kedua musim tersebut ada musim yang disebut musim pancaroba. Adapun ciri-ciri musim pancaroba, yaitu udara terasa panas, arah angin tidak teratur, dan terjadi hujan secara tiba-tiba dalam waktu singkat, serta turun hujan dengan lebat.

6) Angin Lokal
Di samping angin musim, di Indonesia juga terdapat angin lokal (setempat), yaitu sebagai berikut.

a) Angin Darat dan Angin Laut
Angin darat dan angin laut merupakan jenis angin yang biasa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama penduduk yang menetap di daerah pesisir. Angin darat bertiup dari daratan menuju laut, sedangkan angin laut bergerak dari laut menuju darat.

Dilihat dari sifat benda, daratan itu merupakan benda padat, sedangkan lautan merupakan benda cair. Anda mungkin telah mengetahui bahwa daratan sebagai benda padat akan mudah menyerap panas sinar matahari dan lebih cepat melepaskan panas. Oleh karena itu, pada malam hari, daratan lebih cepat dingin daripada laut. Oleh karena suhu di daratan pada malam hari lebih rendah, menyebabkan tekanan udara di daratan tinggi (maksimum), sedangkan tekanan udara di lautan rendah.

Sesuai dengan hukum Buys Ballot, udara akan bergerak dari daerah bertekanan udara maksimum ke daerah minimum. Jadi pada malam hari bertiuplah angin dari darat menuju laut. Itulah yang dinamakan angin darat. Angin darat dimanfaatkan oleh para nelayan tradisional untuk pergi melaut pada malam hari.

Pada siang hari, daratan lebih cepat menerima panas dan lautan relatif lebih lambat. Hal tersebut menyebabkan daratan merupakan pusat tekanan rendah (minimum) dan lautan merupakan pusat tekanan tinggi (maksimum). Oleh karena itu, pada siang hari berembuslah angin dari laut menuju darat. Itulah yang dinamakan angin laut.
 
Gambar 4.7 (a) Angin laut bergerak dari laut menuju darat (b) Angin darat bertiup dari daratan menuju laut.

b) Angin Gunung dan Angin Lembah
Angin gunung merupakan jenis angin yang bergerak dari gunung menuju lembah, dan sebaliknya angin lembah bertiup dari lembah menuju  gunung. Proses terjadinya angin gunung dan angin lembah tidak jauhberbeda dengan angin darat dan angin laut.

Pada pagi hari sampai kira-kira pukul 14.00, gunung atau pegunungan lebih cepat menerima panas matahari jika dibandingkan dengan lembah. Oleh karena itu, pada siang hari suhu udara di gunung atau pegunungan lebih tinggi jika dibandingkan dengan lembah. Hal ini menyebabkan tekanan udara di gunung atau pegunungan relatif lebih rendah (minimum), sedangkan tekanan udara di lembah lebih tinggi sehingga berembuslah angin dari lembah menuju gunung. Itulah yang dinamakan angin lembah. Jadi, angin lembah terjadi pada pagi hari sampai menjelang sore hari.

Pada sore hari dan malam hari, terjadi kondisi yang sebaliknya. Di wilayah lembah, suhu udaranya masih relatif tinggi dibandingkan gunung atau pegunungan. Hal ini menyebabkan tekanan udara di lembah lebih rendah (minimum). Akibatnya, berembuslah angin arah gunung menuju lembah. Itulah yang dinamakan angin gunung. Suasana kedua angin ini akan sangat terasa jika Anda berada di wilayah kaki gunung atau pegunungan.

c) Angin Jatuh
Angin jatuh disebut juga angin fohn. Fohn adalah angin jatuh atau turun yang kering dan panas. Angin sejenis ini pada awalnya diketahui di lereng pegunungan Alpina Utara. Angin sejenis ini pada daerah tersebut dinamakan angin fohn yaitu angin kering yang bergerak menuruni lereng pegunungan. Dilihat dari proses terjadinya, angin jatuh sebenarnya hampir sama dengan angin gunung. Faktor yang membedakan antara angin jatuh dan angin gunung terletak pada sifat-sifatnya.

Sebagian besar angin jatuh bersifat kering dan panas. Hal ini terjadi jika angin jatuh bertiup dari daerah yang memiliki temperatur lebih tinggi dibandingkan dengan daerah yang didatangi. Contoh angin jatuh yang terdapat di Indonesia, antara lain Angin Wambraw (Biak), Bahorok (Deli), Kumbang (Cirebon), Gending (Pasuruan), dan Brubu (Makassar).

Angin ini juga dapat bersifat kering dan dingin jika angin bergerak dari puncak pegunungan yang tinggi, misalnya Angin Mistral di pantai selatan Prancis, Angin Bora di pantai Samudra Atlantik, dan Angin Scirocco di pantai Laut Adriatik.

d. Kelembapan Udara
Kelembapan udara dinamakan juga kelengasan udara, yaitu kandungan uap air dalam udara. Uap air yang berada di udara berasal dari hasil penguapan air di permukaan bumi, air tanah, atau air yang berasal dari penguapan tumbuh-tumbuhan. Semakin tinggi suhu udara, semakin banyak uap air yang dapat dikandungnya. Hal ini berarti semakin lembaplah udara tersebut. Alat untuk mengukur kelembapan udara dinamakan hygrometer atau psychrometer.

Kelembapan udara dapat dibedakan kedalam kelembapan udara spesifik, absolut, dan relatif.
  1. Kelembapan spesifik adalah perbandingan kandungan uap air dalam tiap unit berat udara. Pada umumnya, dinyatakan dalam satuan berat (gram/kg). Misalnya, dalam 1 kg udara terdapat 60 gram uap air. Hal tersebut berarti kelembapan spesifiknya 60 gram/kg.
  2. Kelembapan absolut adalah perbandingan kandungan uap air dalam setiap volume udara. Pada umumnya, dinyatakan dalam satuan berat gram/liter atau gram/meter3. Misalnya, dalam satu liter udara terdapat uap air sebanyak 30 gram. Jadi, kelembapan absolutnya adalah 30 gram/liter.
  3. Kelembapan relatif adalah perbandingan antara jumlah uap air yang ada secara nyata (aktual) dan jumlah uap air maksimum yang mampu ditampung oleh setiap unit volume udara dalam suhu yang sama. Selain itu, kelembapan relatif dapat diartikan perbandingan antara tekanan uap yang ada secara nyata/aktual dengan tekanan uap air maksimum pada suhu udara yang sama.

Berikut formulasi perhitungan kelembaban relatif.


e. Curah Hujan
Hujan ialah peristiwa sampainya air dalam bentuk cair maupun padat yang dicurahkan dari atmosfer ke permukaan bumi. Garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat yang memiliki curah hujan yang sama disebut isohyet.

Secara sederhana, proses hujan berasal dari penguapan air laut dan permukaan akibat penyinaran matahari. Kemudian, mengalami peng embunan (kondensasi) membentuk titik air yangberkumpul menjadiawan.Jika titik-titik air sudah berat, turunlah dalam bentuk hujan.

Curah hujan diukur dengan menggunakan rain gouge (fluviometer). Air hujan ditampung pada suatu wadah. Pada sore hari, air dalam wadah tersebut dituangkan ke dalam tabung pengukur yang ditandai dengan skala milimeter. Tiap hari air yang terkumpul dimasukkan ke tabung ukuran. Dari tabung tersebut dapat dilihat banyaknya curah hujan harian. Curahhujan diukur dalam skala harian, bulanan, dan tahunan.
 
Gambar 4.8 Curah hujan dapat diukur dengan menggunakan tabung dan gelas pengukur yang dapat menampung air hujan.

Berikut ini adalah beberapa klasifikasi hujan, antara lain sebagai berikut.
1) Berdasarkan Ukuran Butirnya
  • Hujan gerimis (drizzle), diameter butirannya kurang dari 0,5 mm.
  • Hujan salju (snow), terdiri atas kristal-kristal es yang temperatur udaranya berada di bawah titik beku.
  • Hujan batu es, merupakan curahan batu es yang turun di dalam cuaca panas dari awan yang temperaturnya di bawah titik beku.
  • hujan deras (rain), yaitu curahan air yang turun dari awan yang temperatur nya di atas titik beku dan diameter butirannya kurang lebih 7 mm.

2) Berdasarkan Proses Terjadinya
  • Hujan zenithal, terjadi karena massa udara yang banyak mengandung uap air naik secara vertikal. Massa udara tersebut terus mengalami penurunan suhu, pada akhirnya terjadilah pengembunan (kondensasi) dan membentuk awan konveksi. Awan tersebut turun menjadi hujan, dan hujan tersebut adalah hujan zenithal (konveksi). Disebut juga hujan zenithal karena pada umumnya hujan terjadi pada waktu matahari melalui zenit daerah itu. Semua tempat di daerah tropis mendapat dua kali hujan zenithal dalam satu tahun.
  • Hujan frontal, terjadi di daerah pertemuan antara massa udara panas dan massa udara dingin. Massa udara panas yang kurang padat akan naik ke atas massa udara dingin yang lebih padat. Sepanjang bidang miring ini disebut daerah front. Hujan terjadi di daerah front karena massa udara panas yang lembap bertemu dengan massa udara dingin sehingga terjadi kondensasi. Kemudian, terbentuklah awan pada akhirnya turun hujan.
  • Hujan orografis, terjadi karena massa udara yang mengandung uap air dipaksa bergerak menaiki lereng gunung atau pegunungan. Oleh karena itu, massa udara tersebut terus mengalami penurunan suhu sehingga mengalami kondensasi menjadi titik-titik air. Akhirnya, titik-titik air turun di sekitar lereng pegunungan. Fenomena itulah yang dinamakan hujan orografis.
Gambar 4.9 Proses terjadinya: (a) hujan frontal (b) hujan orografis

f. Awan
Awan ialah kumpulan titik-titik air/kristal es di dalam udara yang terjadi karena adanya kondensasi/sublimasi dari uap air yang terdapat dalam udara. Awan yang menempel di permukaan bumi disebut kabut.

Jenis-jenis awan antara lain sebagai berikut.

1) Berdasarkan Morfologinya (Bentuknya)

  • Awan Commulus, yaitu awan yang bentuknya bergumpal-gumpal (bundar-bundar) dan bagian dasarnya horizontal.
  • Awan Stratus, yaitu awan yang tipis dan tersebar luas sehingga dapat menutupi langit secara merata. Dalam arti khusus awan stratus adalah kelompok awan yang rendah dan luas.
  • Awan Cirrus, yaitu awan yang berdiri sendiri halus dan berserat, berbentuk seperti bulu burung. Sering terdapat kristal es tetapi tidak menyebabkan turunnya hujan.


2) Berdasarkan Ketinggiannya
a) Awan Tinggi (lebih dari 6000 m–9000 m), karena tingginya awan ini selalu berupa kristal-kristal es.

  • Cirrus (Ci)            : awan tipis seperti bulu burung
  • Cirrostratus (Ci-St)   : awan putih merata seperti tabi
  • Cirrocummulus (Ci-Cu)   : seperti sisik ikan


b) Awan Sedang (2000 m–6000 m).

  • Altocummulus (A-Cu)     : awan bergumpal-gumpal tebal
  • Altostratus (A-St)      : awan berlapis-lapis tebal


c) Awan Rendah (di bawah 200 m).

  • Stratocummulus (St-Cu) : awan yangtebal, luas, danbergumpalgumpal
  • Stratus (St)           : awan merata rendah dan berlapislapis
  • Nimbostratus (No-St)   : lapisan awan yang luas, sebagian telah merupakan hujan


d) Awan yang terjadi karena udara naik, terdapat pada ketinggian 500 m–1500 m.

  • Cummulus (Cu) : awan bergumpal-gumpal, dasar nya rata
  • Cumulonimbus (Cu-Ni) : awan yang bergumpal-gumpal, luas, dan sebagian telah meru pakan hujan, serta sering terjadi angin ribut

 
Gambar 4.10 Jenis-jenis awan yang terdapat di alam semesta.

Klasifikasi Iklim

Terjadinya kondisi iklim yang bervariasi di muka bumi, disebabkan rotasi dan revolusi bumi, serta adanya perbedaan garis lintang dari setiap region di dunia. Beberapa macam iklim, antara lain sebagai berikut.

1. Iklim Matahari
Klasifikasi iklim matahari didasarkan pada banyak sedikitnya intensitas sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi. Tempat-tempat yang lintangnya tinggi lebih sedikit daripada tempat-tempat yang lintangnya rendah.

Berdasarkan iklim matahari, bumi dibagi menjadi lima daerah iklim, yaitu sebagai berikut.
a. Daerah Iklim Tropis : 0° – 23,5° LU/LS
b. Daerah Iklim Subtropis : 23,5° – 40° LU/LS
c. Daerah Iklim Sedang : 40° – 66,5° LU/LS
d. Daerah Iklim Dingin : 66,5° – 90° LU/LS

2. Iklim Koppen
Koppen membuat klasifikasi iklim berdasarkan data temperatur udara dan endapan yang dihubungkan dengan kelompok-kelompok tanaman. Iklim ini paling banyak dipergunakan orang. Klasifikasinya berdasarkan curah hujan dan temperatur. Koppen membagi iklim dalam lima daerah iklim dan dinyatakan dengan simbol huruf.
Gambar 4.11 Pembagian iklim matahari didasarkan pada intensitas cahaya matahari.

a. Iklim A - Iklim Hujan Tropis (Tropical Climate)
Ciri-cirinya temperatur bulan terdingin tidak kurang dari 18° C, curah hujan tahunan tinggi, rata-rata lebih dari 70 cm/tahun. Jenis vegetasi beraneka ragam.

b. Iklim B - Iklim Kering/Gurun (Dry Climate)
Ciri-cirinya terdapat di daerah gurun atau semiarid (steppa), curah hujan terendah 25,5 mm/tahun. Tingkat penguapan tinggi.

c. Iklim C - Iklim Sedang (Warm Temperate Climate) Temperatur bulan terdingin berkisar 18° C sampai –3° C.

d. Iklim D - Iklim Salju atau Mikrothermal (Snow Climate) Suhu rata-rata bulan terpanas lebih dari 10° C, sedangkan suhu ratarata bulan terdingin –3° C.

e. Iklim E - Iklim Kutub (Ice Climate) Terdapat di derah Arctic dan Antartika. Suhu tidak pernah lebih dari 10° C. Tidak memiliki musim panas yang benar-benar panas.
 
Gambar 4.12 Puncak pegunungan Jaya Wijaya yang tertutup salju abadi termasuk ke dalam tipe iklim E (kutub).

Berdasarkan klasifikasi Koppen, sebagian besar wilayah Indonesiaberiklim A, di daerah pegunungan beriklim C, dan di Puncak Jaya Wijaya beriklim E. Tipe iklim A dibagi menjadi tiga subtipe yang ditandai dengan huruf kecil yaitu f, w, dan m sehingga terbentuk tipe iklim Af (iklim tropik basah), Aw (iklim basah tropik), dan Am (iklim basah tropik dengan musim kering yang singkat). Rincian pembagian iklim Koppen secara mendalam adalah sebagai berikut.
a. Af = iklim hujan tropik
b. Aw = iklim sabana tropik
c. Bs = iklim stepa
d. Bw = iklim gurun
e. Cf = iklim hujan sedang, panas tanpa musim kering
f. Cw = iklim hujan sedang, panas dengan musim dingin kering
g. Cs = iklim hujan sedang, panas dengan musim panas yang kering
h. Df = iklim hujan salju tanpa musim kering
i. Dw = iklim hujan salju dengan musim dingin yang kering
j. Et = iklim tundra
k. Ef = iklim salju

3. Iklim Schmidt – Fergusson
Cara perhitungan pembagian iklim menurut Schmidt-Ferguson berdasarkan perhitungan jumlah bulan-bulan terkering dan bulan-bulan basah setiap tahun kemudian dirata-ratakan. Untuk menentukan bulan basah dan bulan kering dengan menggunakan metode Mohr. Menurut Mohr suatu bulan dikatakan:

a. bulan kering, yaitu bulan-bulan yang curah hujannya kurang dari 60 mm;
b. bulan basah, yaitu bulan-bulan yang curah hujannya lebih dari 100 mm;
c. bulan lembap, yaitu bulan-bulan yang curah hujannya antara 60–100 mm.

Penentuan iklim Schmidt-Fergussondapat ditentukan dihitung denganmenggunakan rumus sebagai berikut.
       Rata-Rata Bulan Kering
Q =    _____________________  × 100 %
       Rata-Rata Bulan Basah

Makin besar nilai Q, berarti iklimnya semakin kering dan semakin kecil nilai Q, iklim semakin basah. Schmidt dan Fergusson menggolongkan tipe-tipe iklim sebagai berikut. Perhatikan Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Tipe Iklim Menurut Schmidt-Fergusson

4. Iklim Oldeman
Seperti halnya metode Schmidt-Ferguson, metode Oldeman (1975) \hanya menggunakan unsur curah hujan sebagai dasar dari klasifikasi iklim. Bulan basah dan bulan kering secara berturut-turut dihubungkan dengan pertanian untuk daerah-daerah tertentu. Oleh karenanya penggolongan iklimnya dikenal dengan sebutan zona agroklimat (agro-climatic classification). Misalnya, jumlah curah hujan sebesar 200 mm setiap bulan dipandang cukup untuk membudidayakan padi sawah. Untuk sebagian  besar palawija, jumlah curah hujan minimal yang diperlukan adalah 100mm tiap bulan. Musim hujan selama 5 bulan dianggap cukup untuk mem budidayakan padi sawah selama satu musim.

Dalam metode ini, bulan basah didefinisikan sebagai bulan yang memiliki jumlah curah hujan sekurang-kurangnya 200 mm. Meskipun lamanya periode pertumbuhan padi terutama ditentukan oleh jenis padi yang digunakan, periode 5 bulan basah berurutan dalam satu tahun dipandang optimal untuk satu kali tanam. Jika lebih dari 9 bulan basah, petani dapat menanam padi sebanyak 2 kali masa tanam. Jika kurang dari 3 bulan basah berurutan, petani tidak dapat membudidayakan padi tanpa adanya irigasi tambahan.

Berikut ini adalah tipe-tipe iklim menurut Oldeman.
Iklim A : Jika terdapat lebih dari 9 bulan basah berurutan.
Iklim B : Jika terdapat 7–9 bulan basah berurutan.
Iklim C : Jika terdapat 5–6 bulan basah berurutan.
Iklim D : Jika terdapat 3–4 bulan basah berurutan.
Iklim E : Jika terdapat kurang dari 3 bulan basah berurutan.

Bulan basah, lembap, dan kering yang digunakan Oldeman adalah sebagai berikut.
a. Bulan basah jika curah hujan lebih dari 200 mm.
b. Bulan lembap jika curah hujannya berkisar antara 100 - 200 mm.
c. Bulan kering jika curah hujannya kurang dari 100 mm.

5. Iklim F. Junghuhn
Junghuhn mengklasifikasi daerah iklim di Pulau Jawa secara vertikal sesuai dengan kehidupan tumbuh-tumbuhan, seperti yang terlihat pada gambar.

Gambar 4.13 Pembagian iklim menurut F. Junghuhn. Berdasarkan pada faktor ketinggian tempat dan jenis vegetasi.

Pembagian daerah iklim tersebut adalah sebagai berikut.
a. Daerah Panas/Tropis
Tinggi tempat : 0–600 m di atas permukaan laut.
Suhu : 22° C–26,3° C.
Tanaman : padi, jagung, kopi, tembakau, tebu, karet, kelapa.

b. Daerah Sedang
Tinggi tempat : 600 m–1500 m di atas permukaan laut.
Suhu : 17,1° C–22° C
Tanaman : padi, tembakau, teh, kopi, kina, sayur-sayuran.

c. Daerah Sejuk
Tinggi tempat : 1500–2500 m di atas permukaan laut.
Suhu : 11,1° C–17,1° C
Tanaman : kopi, teh, kina, sayur-sayuran.

d. Daerah Dingin
Tinggi tempat : lebih dari 2500 m di atas permukaan laut.
Suhu : 6,2° C–11,1° C
Tanaman : Tidak ada tanaman budidaya.

W.F Junghuhn tokoh yang melakukan penelitian keadaan alam Indonesia terutama kondisi iklimnya. Beliau banyak melakukan penelitian dan menghasilkan teoriteori dan sampai saat ini masih digunakan.

Jenis-Jenis Vegetasi Alam Menurut Iklim

1. Padang Rumput
Padang rumput adalah suatu wilayah yang tumbuhannya didominasi vegetasi rerumputan dengan karakteristik wilayah sebagai berikut.
a. Terletak di daerah tropis sampai subtropis.
b. Curah hujan berkisar antara 25 cm–50 cm per tahun.
c. Terdapat di daerah basah, seperti Amerika Utara dan India.

2. Gurun
Gurun merupakan daerah tandus di permukaan bumi yang ber batasan dengan padang rumput dan semakin menjauh dari padang rumput kondisinya semakin gersang. Ciri-ciri gurun, antara lain sebagai berikut.
a. Curah hujan rendah (kurang dari 25 cm per tahun).
b. Hujan turun tidak teratur dan tidak pernah lebat.
c. Matahari sangat terik (pada musim panas suhu mencapai ± 40° C).
d. Amplitudo suhu harian yang terjadi sangat besar.

3. Tundra
Tundra adalah daerah dingin (beku), dengan ciri-ciri sebagai berikut.
a. Terletak hanya di daerah kutub utara.
b. Memiliki iklim kutub.
c. Pohon relatif pendek, seperti semak dan lumut.
d. Masa pertumbuhan vegetasi sangat pendek.

4. Hutan Basah
Hutan basah terdapat di daerah tropis dan subtropis. Hutan ini sepanjang tahun selalu mendapatkan air dan memiliki spesies pepohonan yang beragam. Ciri-cirinya sebagai berikut.
a. Masa pertumbuhannya lama.
b. Jenis tumbuhannya bervariasi.
c. Ketinggian vegetasi 20 m sampai 40 m.
d. Berdaun lebar.
e. Hutan memiliki kelembapan tinggi.
f. Jenis pohon sulur sampai kayu keras.
 
Gambar 4.14 Padang rumput salah satu bentang alam yang banyak terdapat di daerah tropis dan subtropis.

5. Hutan Gugur
Hutan ini selain didominasi padang rumput, juga memiliki tumbuhan yang daunnya gugur pada musim gugur. Hutan gugur memiliki ciri-cirisebagai berikut.
a. Curah hujan merata sepanjang tahun.
b. Curah hujan antara 75 cm–100 cm per tahun.
c. Terdapat di daerah yang memiliki empat musim.
d. Kondisi vegetasi tidak terlalu rapat.
e. Ketinggian tumbuhan 10 m–20 m.
f. Jumlah spesiesnya sedikit.
Pengertian Cuaca

Gambar 4.15 Ciri-ciri hutan gugur salah satunya kerapatan pohonnya tidak terlalu rapat


6 Taiga
Taiga adalah hutan yang didominasi oleh jenis tanaman berdaun jarum (conifer).

Perubahan Iklim Global

Kondisi iklim di dunia selalu berubah, baik menurut ruang maupun waktu. Perubahan iklim ini dapat dibedakan berdasarkan wilayahnya(ruang), yaitu perubahan iklim secara lokal dan global. Berdasarkan waktu, iklim dapat berubah dalam bentuk siklus, baik secara harian, musiman, tahunan, maupun puluhan tahun. Perubahan iklim adalah suatu perubahan unsur-unsur iklim yang memiliki kecenderungan naik atau turun secara nyata.

1. Faktor Penyebab Perubahan Iklim Global
Perubahan iklim secara global disebabkan oleh kerena meningkatnya kon sentrasi gas di atmosfer. Hal ini terjadi sejak revolusi industri yang membangun sumber energi yang berasal dari batu bara, minyak bumi, dan gas, yang membuang limbah gas di atmosfer, seperti Karbondioksida (CO2), Metana (CH4), dan Nitrous oksida (N2O). Matahari yang menyinari bumi juga menghasilkan radiasi panas yang ditangkap oleh atmosfer sehingga udara bersuhu nyaman bagi kehidupan manusia. Jika kemudian atmosfer bumi dijejali gas, terjadilah efek selimut seperti yang terjadi pada rumah kaca, yakni radiasi panas bumi yang lepas ke udara ditahan oleh selimut gas sehingga suhu mengalami kenaikan dan menjadi panas. Semakin banyak gas dilepas ke udara, semakin tebal selimut bumi, semakin panas pula suhu bumi.

Aktivitas manusia dapat memengaruhi terjadinya gangguan dan perubahan iklim secara global, antara lain sebagai berikut.

a. Efek Rumah Kaca (Green House Effect)
Secara umum, bumi memiliki fungsi memantulkan cahaya matahari\ dalam bentuk sinar inframerah ke atmosfer. Kemudian sinar inframerah tersebut akan diserap (absorpsi) kembali oleh gas-gas atau zat-zat yang ada di atmosfer, sehingga keadaan bumi menjadi tetap hangat atau panas walaupun pada saat malam hari.

Gas atau zat-zat yang berfungsi menyerap dan menahan pantulan sinar inframerah dari bumi disebut gas-gas rumah kaca (green house glasses) karena seolah-olah gas-gas itu berfungsi sebagai kaca pada suatu rumah kaca. Tertahannya sinar inframerah oleh gas-gas rumah kaca, mengakibatkan terjadinya kenaikan suhu udara di muka bumi yang disebut efek rumah kaca (green house effect). Naiknya suhu udara di bumi secara menyeluruh disebut pemanasan global (global warming).
 
Gambar 4.16 Ilustrasi gas efek rumah kaca (green house effect) terjadi akibat kenaikan suhu permukaan bumi.

Gas-gas yang berfungsi seperti rumah kaca, antara lain Karbondioksida (CO2), Metan (CH4), gas atau senyawa Nitrogen (NO, NH3 dan N2O), senyawa Sulfur (H2S dan SO2), Ozon (O3) dan Clorofluorocarbon (CFC). Di antara gas-gas rumah kaca tersebut, Karbondioksida (CO2) dan Clorofluorokarbon (CFC) merupakan gas yang paling dominan dan penting dalam memberikan konstribusi pada terjadinya pemanasan global. Karbondioksida dikeluarkan ke atmosfer melalui aktivitas pembakaran pada mesin-mesin industri yang berbahan bakar batu bara, bensin, minyak tanah, atau solar, selain itu dari asap kendaraan bermotor serta hasil metabolisme dan respirasi makhluk hidup. Adapun CFC dilepaskan ke atmosfer melalui aktivitas manusia dalam bentuk penggunaan lemari es, AC (Air Conditioner), atau aerosol yang disemprotkan, misalnya parfum yang menggunakan freon dan halon.

Akibat dari banyaknya CO2, CFC, dan gas-gas rumah kaca lainnya yang dilepaskan ke atmosfer, maka suhu udara di bumi akan semakin cepat meningkat yang pada akhirnya akan mengakibatkan gangguan dan perubahan iklim secara global. Hal ini ditandai dengan meningkatnya pencairan es atau salju di kedua kutub bumi dan naiknya permukaan air  laut secara keseluruhan sehingga memungkinkan tergenangnya kota-kotadi sepanjang pantai.

b. Penipisan Lapisan Ozon (Ozon Deplation)
Lapisan ozon merupakan suatu lapisan tipis yang banyak mengandung gas ozon (O3) yang terdapat pada bagian stratosfer yang berfungsi antara lain menyerap (absorption) dan memantulkan (reflection) radiasi sinar ultraviolet (UV) dari matahari sehingga sinar yang sampai ke permukaan bumi tidak berlebihan.
 
Gambar 4.17 Pencairan es di kutub diakibatkan oleh adanya perubahan iklim secara global

Akibat dari meningkatnya aktivitas manusia di berbagai negara di dunia, keberadaan lapisan ozon tersebut menjadi semakin menipis bahkan di beberapa lokasi terutama kutub utara dan selatan bumi dalam keadaan berlubang.

Aktivitas manusia yang berperan dalam penipisan lapisan ozon, antara lain aktivitas manusia dalam bidang industri. Industri banyak mengemisikan CFC dari limbah pabrik berupa gas dari pabrik, refrigrator, AC (Air Conditioner), dan aerosol.

Akibat dari menipisnya lapisan ozon pada atmosfer bumi, membawa konsekuensi, sebagai berikut.
  1. Perubahan iklim global, hal ini disebabkan sinar matahari yang mengarah ke bumi biasanya sebagian besar dipantulkan kembali ke jagat raya dan sebagian diserap oleh atmosfer bumi serta sebagian kecil lainnya sampai ke permukaan bumi. Akibat dari menipisnya lapisan ozon yang merupakan bagian dari atmosfer bumi, sinar matahari dapat secara langsung sampai ke permukaan bumi tanpa melalui adanya proses pemantulan (refleksi) dan penyerapan (absorpsi). Akibatnya, suhu udara di bumi akan lebih cepat panas dan pada akhirnya akan mengakibatkan terjadinya perubahan iklimdi bumi secara global.
  2. Bahaya terhadap kelangsungan makhluk hidup di bumi, hal ini disebabkan radiasi sinar matahari terutama ultraviolet yang sampai ke permukaan bumi dapat mencapai jumlah yang sangat berlebihan. Hal ini dapat menimbulkan berbagai akibat, seperti timbulnya penyakit kanker kulit, katarak, proses penuaan kulit menjadi lebih cepat, dan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Selain itu radiasi ultraviolet yang berlebihan dapat pula mengakibatkan terganggunya fotosintesis pada tumbuhan di darat maupun di laut sehingga rantai makanan menjadi terganggu dan mengalami ketidakseimbangan.
 
Gambar 4.18 Kekeringan yang melanda Indonesia diakibatkan oleh adanya gejala El Nino

2. Dampak Perubahan Iklim Global
Dampak perubahan iklim secara global, antara lain sebagai berikut.
  • Mencairnya bongkahan es di kutub sehingga permukaan laut naik.
  • Air laut naik dapat menenggelamkan pulau dan menghalangi menga lirnya air sungai ke laut dan pada akhirnya menimbulkan banjir di dataran rendah.
  • Suhu bumi yang panas menyebabkan mengeringnya air permukaan sehingga air menjadi langka.
  • Meningkatnya risiko kebakaran hutan.
  • Mengakibatkan El Nino dan La Nina.
  • Terjadinya perubahan pada cuaca dan iklim.

El Nino dan La Nina merupakan gejala yang menunjukkan perubahan iklim. El Nino adalah peristiwa memanasnya suhu permukaan air permukaan laut di pantai barat Peru–Ekuador (Amerika Selatan) yang mengakibatkan gangguan iklim secara global. Biasanya, suhu air permukaan laut di daerah tersebut dingin karena adanya arus dari dasar laut menuju permukaan (upwelling). Menurut bahasa setempat El Nino berarti bayi laki-laki karena munculnya di sekitar hari Natal (akhir Desember).


Gambar 4.19 El Nino yang melanda California (1982–1983) mengakibatkan terjadinya kerusakan bangunan-bangunan sarana penduduk lainnya.

Sejak 1980, telah terjadi lima kali El Nino di Indonesia, yaitu pada 1982, 1991, 1994, dan 1997/98. El Nino tahun 1997/98 menyebabkan kemarau panjang, kekeringan luar biasa, terjadi kebakaran hutan yang hebat di berbagai pulau, dan produksi bahan pangan turun dratis, yang kemudian disusul krisis ekonomi.

El Nino juga menyebabkan kekeringan luar biasa di berbagai benua, terutama di Afrika sehingga terjadi kelaparan di Ethiopia dan negaranegara Afrika Timur lainnya.

Sebaliknya, bagi negara-negara di Amerika Selatan munculnya El Nino menyebabkan banjir besar dan turunnya produksi ikan karena melemahnya upwelling. La Nina merupakan kebalikan dari El Nino. La Nina menurut bahasa penduduk lokal berarti bayi perempuan. Peristiwa itu dimulai ketika El Nino mulai melemah, dan air laut yang panas di pantai Peru - Ekuador kembali bergerak ke arah barat, air laut di tempat itu suhunya kembali seperti semula (dingin), dan upwelling muncul kembali, atau kondisi cuaca menjadi normal kembali. Dengan kata lain, La Nina adalah kondisi cuaca yang normal kembali setelah terjadinya gejala El Nino.

Perjalanan air laut yang panas ke arah barat tersebut akhirnya akan sampai ke wilayah Indonesia. Akibatnya, wilayah Indonesia akan berubah menjadi daerah bertekanan rendah (minimum) dan semua angin di sekitar Pasifik Selatan dan Samudra Hindia akan bergerak menuju Indonesia. Angin tersebut banyak membawa uap air sehingga sering terjadi hujan lebat. Penduduk Indonesia waspada jika terjadi La Nina karena mungkin bisa menyebabkan banjir.

Informasi Cuaca

Pada saat ini telah banyak media, baik cetak maupun elektronik yang memuat informasi cuaca dalam bentuk ramalan cuaca. Ramalan cuaca secara langsung dapat pula Anda simak dari media televisi. Di Indonesia, lembaga yang paling berwenang dalam memberikan informasi cuaca adalah Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Departemen Perhubungan Nasional. Hal-hal yang diinformasikannya pada umumnya berupa kecenderungan suhu udara, tekanan udara, arah dan kekuatan angin, kondisi perawanan, serta kecenderungan akan peluang terjadinya hujan. Informasi cuaca sebaiknya dikemas semenarik mungkin, agar masyarakat menjaga tertarik. Hal ini disebabkan informasi cuaca penting untuk berbagai pihak, seperti aktivitas perhubungan udara, perhubungan laut, serta aktivitas pertanian. Keadaan awan yang mendung, kabut tebal di atas laut, serta kekuatan angin sangat berpengaruh terhadap aktivitas penerbangan udara dan pelayaran.

Data suhu udara, tekanan, kelembapan udara, serta hujan sangat terkait dengan aktivitas pertanian dan perkebunan. Tanaman-tanaman tertentu dapat tumbuh dengan baik, jika sesuai dengan suhu udara, tekanan, serta kelembapan. Tanaman teh dan sayuran sesuai ditanam pada daerah dataran tinggi dengan suhu udara yang relatif rendah.

 
Gambar 4.20 Aktivitas pertanian di Indonesia dan di wilayah lainnya sangat memerlukan data-data informasi cuaca yang akurat.

Untuk dapat meramalkan cuaca tentu tidak sembarangan, tetapi harus didukung oleh keahlian dan penelusuran data yang akurat. Tanpa keahlian khusus dan data yang akurat, akan menyebabkan ramalan dan informasi cuaca itu memiliki penyimpangan yang sangat besar. Namun demikian, ramalan cuaca tersebut dapat saja tidak mengena dengan tepat, jika tibatiba ada perubahan secara mendadak.

Badan ramalan cuaca di Amerika Serikat sangat berperan dalam memberikan informasi cuaca kepada masyarakat luas. Ramalan mengenai akan terjadinya badai tornado dan angin topan selalu diinformasikan jauhjauh hari sebelum terjadi. Hal tersebut dimaksudkan agar masyarakat lebih bersikap waspada dan dapat melakukan tindakan antisipatif.

Badan ramalan cuaca di Amerika Serikat juga membuat ramalanramalan khusus mengenai kadar polusi udara, pasang surut air laut, udara dingin, dan hal-hal khusus yang berhubungan dengan cuaca yang sangat diperlukan oleh masyarakat perdesaan.

 
Gambar 4.21 Badan ramalan cuaca di Amerika Serikat berperan dalam memberikan informasi mengenai terjadinya badai tornado


Daftar Pustaka Makalah Definisi Cuaca dan Iklim

Hartono, 2007. Geografi 1 Jelajahi Bumi dan Alam Semesta : untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas /Madrasah Aliyah. Jakarta. Depdiknas

Pengertian Cuaca dan Iklim Definisi Unsur Klasifikasi Jenis Vegetasi Alam Perubahan Iklim Global dan Infomasi Rating: 4.5 Posted By: Sekolah Online

0 comments:

Poskan Komentar