Kajian Teori, Mata Pelajaran SD SMP SMP SMA SMK MTS dan Mata Kuliah Mahasiswa

Minggu, 11 September 2016

Makalah Keragaman Ideologi serta Dampaknya terhadap Pergerakan Kebangsaan Indonesia

Keragaman Ideologi serta Dampaknya terhadap Pergerakan Kebangsaan Indonesia

Pergerakan Nasional Indonesia yang muncul pada dekade pertama abad ke-20 merupakan suatu fenomena baru dalam sejarah bangsa Indonesia. Dalam hal tertentu, Pergerakan Nasional dapat dianggap sebagai lanjutan perjuangan yang masih bersifat pranasional dalam menentang praktik-praktik kolonialisme ]dan imperialisme Belanda pada masa-masa sebelumnya. Akan tetapi, ada sedikit perbedaan di antara keduanya, yaitu bahwa Pergerakan Nasional Indonesia yang muncul pada permulaan abad ke-20 itu telah mengambil bentuk lain. Pergerakan Nasional pada awal abad ke-20 lebih terorganisasi, mempunyai asas dan tujuan yang jelas, berjangkauan panjang, serta mempunyai ideologi baru, yaitu menciptakan masyarakat maju. Suatu ideologi yang kemudian mengalami pendewasaan dengan hasrat mendirikan sebuah negara nasional.


1. Ideologi yang Berkembang pada Masa Pergerakan Nasional Indonesia Nasionalisme Indonesia mengalami pertumbuhan dan perkembangan pada masa lalu bersamaan dengan pertumbuhan dan perkembangan Pergerakan

Nasional Indonesia. Oleh karena itu, sifat dan corak perkembangannya tampil sesuai dengan sifat dan corak organisasi pergerakan yang mewakilinya. Sifat dan corak nasionalisme pada saat lahirnya Budi Utomo (1908) misalnya, berbeda dengan nasionalisme yang dikembangkan oleh Sarekat Islam dan ]Indische Partij. Kelahiran Budi Utomo telah dilandasi oleh nasionalisme dalam bentuk yang masih samar-samar, hal itu tampak dari aktivitasnya. Perkumpulan Budi Utomo dengan jelas membatasi gerakannya pada Jawa dan Madura. Sasaran perjuangannya juga tampak belum tegas perjuangan politik atau terbatas pada sosial budaya. Sikap ragu-ragu itu menyebabkan aktivitasnya cenderung hanya di bidang kebudayaan.

Lahirnya Sarekat Islam (1912) memberikan titik terang bagi perkembangan nasionalisme Indonesia. Latar belakang ekonomis perkumpulan ini adalah persaingan dengan pedagang perantara Cina. Akan tetapi, Sarekat Islam lahir tidak semata-mata hanya karena mengadakan perlawanan terhadap pedagang Cina, tetapi membuat front melawan semua penghinaan terhadap rakyat pribumi. Keanggotaan Sarekat Islam berhasil sampai pada lapisan masyarakat kelas bawah dengan lingkup yang lebih luas. Akan tetapi, ada ciri-ciri yang dijiwai oleh Islam pada organisasi tersebut telah menutup kemungkinan masuknya anggota dari masyarakat non-Islam. Perkembangan nasionalisme Indonesia mengarah pada konsep nasionalisme yang bercorak ekonomi, religius, dan demokratis.

Lebih luas dan tegas dari kedua organisasi di atas adalah konsep nasionalisme yang diperkenalkan oleh Indische Partij. Walaupun belum menggunakan nama Indonesia, organisasi ini telah dengan tegas mencanangkan kemerdekaan Tanah Air dan bangsa Hindia lepas dari Nederland sebagai akhir dari tujuan perjuangannya. Nasionalisme yang dikembangkan memiliki corak yang tegas, bahkan radikal. Hal itu pula yang telah menempatkan organisasi tersebut sebagai organisasi politik pertama di Indonesia. Meskipun usianya tidakpanjang, konsep nasionalisme yang dicanangkan memberikan angin dan corak baru bagi perjuangan pergerakan kebangsaan kaum pribumi.

Organisasi yang memberikan andil sangat besar dalam mempertegas danmendewasakan konsep nasionalisme Indonesia menjadi konsep nasionalisme yang sesungguhnya adalah perkumpulan mahasiswa Indonesia di Negeri\  Belanda yang bernama Perhimpunan Indonesia (PI). Pada mulanya, organisasiitu bernama Indische Vereeniging (1908). Seperti halnya Budi Utomo yang lahir di Indonesia, organisasi itu semula hanyalah perkumpulan sosiokultural. Akan tetapi, sejak 1925 Indische Vereeniging telah berkembang menjadi organisasi politik. Sebagai bagian dari identitas nasional yang baru, Indische Vereeniging memakai nama Perhimpunan Indonesia serta menggunakan nama Indonesia Merdeka pada judul majalahnya. Lewat organisasi PerhimpunanIndonesia itulah, konsep nasionalisme diberi corak yang lebih tegas dan revolusioner. Kecuali tuntutannya yang tegas tentang kemerdekaan Indonesia  dengan kekuatan sendiri, Perhimpunan Indonesia juga telah memberikan sumbangan yang sangat penting bagi perkembangan nasionalisme Indonesia itusendiri. Sumbangan itu berupa penggunaan nama Indonesia sebagai identitas  nasional dan nama bagi bangsa dan negara yang sedang diperjuangkan untukmerdeka.

Kelahiran Partai Nasional Indonesia (PNI) di Indonesia tahun 1927 pada hakikatnya melanjutkan ide-ide yang dikembangkan oleh Perhimpunan Indonesiaselain dilandasi oleh nasionalisme yang revolusioner. Dicetuskannya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 merupakan bukti bahwa nasionalisme telah melandasi dan dijunjung tinggi dalam aktivitas bangsa Indonesia. Dalam keputusan itu dicantumkan alasan utamanya untuk bersatu adalah kemauan bersama yang akan mengatasi alasan-alasan lainnya dengan tetap menghormati perbedaan-perbedaan yang ada.

Dari pertumbuhan dan perkembangan organisasi Pergerakan Nasional Indonesia, tampaklah bahwa proses pendewasaan dan pematangan konsep nasionalisme Indonesia bergerak dari nasionalisme kultural, berkembang kesosio-ekonomis dan memuncak menjadi nasionalisme revolusioner.

a. Budi Utomo (20 Mei 1908)

Untuk membangkitkan jiwa kebangsaan dan rasa harga diri yang kuat terhadap seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, kaum terpelajar yangdipelopori oleh dr. Wahidin Sudirohusodo dan (pemuda) Sutomo mulai menggerakkan para pemuda dan pelajar Indonesia untuk membentuk organisasi yang akan bergerak dalam bidang sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Pada tahun 1906, kaum terpelajar tersebut mulai terjun ke daerah-daerah untuk mencari dukungan moral dan material dari kaum bangsawan, para pegawai, dan dermawan agar bersedia secara aktif membantu usaha dalam memperbaiki nasib bangsanya. Dalam ceramahnya di depan para pelajar STOVIA, dr. Wahidin Sudirohusudo melontarkan keinginannya untuk mendirikan badan pendidikan yang disebut studiefonds. Ajakan tersebut mendapat sambutan hangat dari seluruh pelajar.

Salah seorang pelajar STOVIA yang bernama Sutomo segera menghubungi kawan-kawannya untuk mendiskusikan mengenai nasib bangsanya. Pada hari  Minggu, tanggal 20 Mei 1908 Sutomo dan kawan-kawannya di ruang kelasSekolah Kedokteran STOVIA di Batavia atau Jakarta mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama Budi Utomo (Budi Luhur). Para pelajar yang aktif dalam pembentukan Budi Utomo tersebut adalah M. Suradji, Muhammad Saleh, Mas Suwarno, Muhammad Sulaiman, Gunawan, dan Gumbreg. Pada akhir pidatonya, Sutomo mengatakan, “berhasil dan tidaknya usaha ini bergantung kepada kesungguhan hati kita, bergantung kepada kesanggupan kita bekerja. Saya yakin bahwa nasib Tanah Air di masa depan terletak di tangan kita.” Ucapan itu disambut dengan tepuk tangan yang amat meriah.

Makalah Keragaman Ideologi serta Dampaknya terhadap Pergerakan Kebangsaan Indonesia

Budi Utomo setelah terbentuk, para pengurus dan anggotanya segera mempropagandakan mengenai maksud dan tujuan pembentukan organisasi tersebut kepada semua masyarakat, terutama kelompok pelajar, pegawai, kaum priayi, dan pedagang kecil. Propaganda itu ternyata mendapat sambutan hangat. Berita tentang pembentukan Budi Utomo akhirnya tersiar juga lewat surat kabar sehingga diketahui oleh pelajar-pelajar di berbagai kota. Akhirnya, para pelajar di kota-kota, seperti Yogyakarta, Magelang, dan Probolinggo ikut mendirikan  cabang-cabang Budi Utomo. Nama Sutomo sebagai pendiri dan ketua umumBudi Utomo makin populer sekaligus mengundang risiko besar.

Beberapa staf pengajar dan pemerintah Belanda menuduh Sutomo dan kawan-kawannya sebagai pemberontak. Sutomo diancam akan dipecat dari  sekolahnya. Akan tetapi, kawan-kawannya mempunyai solidaritas tinggi. JikaSutomo dikeluarkan, mereka akan ikut keluar juga. Dalam persidangan di sekolah, Sutomo masih dipertahankan oleh pemimpin umum STOVIA, Dr. H. E. Roll sehingga ia dan kawan-kawannya tidak jadi dikeluarkan dari sekolah.  Jelaslah bahwa setiap perjuangan pasti mendapat tantangan, rintangan, bahkanancaman, tetapi mereka tetap tegar.

Budi Utomo berkembang makin besar sehingga perlu menyelenggarakan  kongres. Untuk keperluan itu, mereka mempersiapkan segala sesuatunya atasusaha sendiri.

Dr. Wahidin berkampanye keliling daerah untuk mendapatkan dukungan dan bantuan dari semua pihak. Kongres Budi Utomo yang pertama berhasil  diselenggarakan pada tanggal 5 Oktober 1908 di Yogyakarta. Dalam kongresdihasilkan beberapa keputusan penting, seperti:

  1. merumuskan tujuan utama Budi Utomo, yaitu kemajuan yang selaras untuk negara dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan, perdagangan, teknik dan industri, ilmu pengetahuan dan seni budaya bangsa Indonesia;
  2. kedudukan pusat perkumpulan berada di Yogyakarta;
  3. menyusun kepengurusan dengan Ketua R.T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar (Jawa Tengah);
  4. kegiatan Budi Utomo terutama ditujukan pada bidang pendidikan dan kebudayaan
  5. wilayah gerakannya difokuskan di Jawa dan Madura
  6. BU tidak ikut mengadakan kegiatan politik.


Penyerahan pimpinan pusat organisasi oleh Sutomo kepada kaum tua tersebut mempunyai tujuan strategis berikut:
  1. menghargai kaum tua yang lebih berpengalaman;
  2. mengajak kaum tua untuk ikut memikirkan dan memajukan pendidikanrakyat lewat Budi Utomo;
  3. Sutomo dan kawan-kawannya masih harus menyelesaikan pendidikannya lebih dahulu di STOVIA, Jakarta.


Pada tahun awal berkembangnya Budi Utomo dapat menjadi tempat penyaluran keinginan rakyat yang ingin maju dan tempat mengabdi tokoh-tokoh terkemuka terhadap bangsanya.

Tokoh-tokoh yang pernah menjabat Ketua Budi Utomo, antara lain R.T.Tirtokusumo (1908–1991), Pangeran Aryo Noto Dirodjo dari Istana Paku Alam (1911–1914), R.Ng. Wedyodipura atau Radjiman Wedyoningrat (1914–1915), dan R.M. Ario Surjo Suparto atau Mangkunegoro VII (1915). Oleh karena pemimpin Budi Utomo umumnya berasal dari kaum bangsawan, banyaklah dana yang disumbangkan untuk kemajuan pengajaran. Dengan demikian,  lahirlah badan bantuan pendidikan atau studiefonds yang diberi nama DarmaWara. Hal inilah yang dicita-citakan oleh dr. Wahidin.

Sejak tahun 1908 hingga tahun 1915, Budi Utomo hanya bergerak di  bidang sosial dan budaya terutama pada bagian pengajaran. Namun, setelahtahun 1925 itu Budi Utomo ikut terjun ke dunia politik. Perubahan haluan ini terjadi karena adanya pengaruh dari organisasi pergerakan lain yang bercorak politik, seperti Indische Partij dan Sarekat Islam.
Tujuan Budi Utomo berpolitik adalah untuk mendapat bagian dalam pemerintahan yang akan dipegang oleh golongan pelajar pribumi. Kegiatan Budi Utomo dalam bidang politik, antara lain sebagai berikut.
  1. Budi Utomo ikut duduk dalam komite Indie Weerbaar yang dikirim ke Negeri Belanda untuk membahas pertahanan Hindia Belanda pada tahun 1916–1917.
  2. Budi Utomo juga mengusulkan pembentukan Volksraad (Dewan Rakyat) bagi penduduk pribumi, ketika wakilnya dalam Comite Indie Weerbaar (Panitia Ketahanan Hindia Belanda) berangkat ke Negeri Belanda.
  3. Budi Utomo berpartisipasi dalam pembentukan Komite Nasional untukmenghadapi pemilihan anggota Volksraad.
  4. Budi Utomo berpartisipasi aktif sebagai anggota Volksraad, bahkan menempati dua dalam hal jumlah anggota di antara anggota pribumi.
  5. Budi Utomo mencanangkan program politiknya berupa keinginan mewujudkan pemerintahan parlementer yang berasas kebangsaan.
  6. Pada tahun 1927, Budi Utomo memprakarsai dan bergabung dalam Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) .
  7. Dokter Sutomo banyak mendirikan studieclub yang dalam praktiknya juga dapat membahas soal-soal politik. Pada tahun 1935 Indonesisch Studie Club di Surabaya bergabung dengan Sarekat Madura menjadi Persatuan  Bangsa Indonesia (PBI), kemudian PBI digabung dengan Budi Utomomenjadi Partai Indonesia Raya (Parindra).


Budi Utomo dalam bidang politik meskipun kalah progresif jika dibandingkan dengan Sarekat Islam, Indische Partij, dan PNI, tetaplah sebagai pembuka jalan dan pelopor Pergerakan Nasional Indonesia. Karena peranan dan jasanya  yang besar itulah, tanggal kelahiran Budi Utomo, 20 Mei, ditetapkan sebagaiHari Kebangkitan Nasional dan diperingati setiap tahun oleh bangsa Indonesia.

b. Sarekat Islam (1912)

Rintisan lahirnya Sarekat Islam sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1909 oleh R.M. Tirtoadisuryo di Batavia (Jakarta). Ia telah mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) di Batavia dan Bogor. Pada tahun 1911 para pedagang batik di kota Surakarta juga mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) yang dipimpin oleh Haji Samanhudi. Tujuan pembentukan SDI adalah memperkuat usaha dagang golongan pribumi agar mampu bersaing dengan para pedagang Cina. Pada masa itu usaha dagang mulai dari kota-kota besar sampai di kecamatan memang dikuasai oleh orang-orang Cina. Nama Islam dicantumkan karena\ hampir semua pedagang pribumi beragama Islam, sehingga diharapkan akan tertarik untuk menjadi anggota. Lahirnya SDI mendapat sambutan hangat dari para pedagang pribumi sehingga jumlah anggota dan cabangnya makin besar pula. Melihat perkembangannya yang cerah, Haji Samanhudi ingin organisasinya berbadan hukum. Atas saran Umar Said, nama Sarekat Dagang Islam diubah menjadi Sarekat Islam (SI) agar lebih luas ruang gerak organisasinya. Dengan demikian, orang-orang Islam yang bukan pedagang pun dapat menjadi anggota. Haji Samanhudi menyetujui usul itu sehingga pada tanggal 10 September 1912 berita acara tentang berdirinya Sarekat Islam itu disampaikan kepada notaris untuk disahkan.

Adapun tujuan pendirian Sarekat Islam berdasarkan akta notaris yang akan disampaikan, antara lain sebagai berikut:
  1. memajukan usaha perdagangan golongan pribumi,
  2. memajukan kecerdasan dan kehidupan rakyat sesuai dengan ajaran agama Islam,
  3. menghilangkan paham-paham yang keliru dalam praktik kehidupan\keagamaan menurut Al-Qur’an dan Hadist, dan
  4. memperkuat rasa persaudaraan dan persatuan di antara sesama anggota dan umat Islam.


Asas dan tujuan SI yang praktis dan sifat merakyat menyebabkan\ perkembangan organisasi yang sangat cepat. Melihat perkembangan yang demikian itu, pemerintah kolonial Hindia Belanda pun khawatir tidak akan mampu mengendalikannya. Oleh karena itu, usulan berbadan hukum bagi Sarekat Islam pusat ditolak (30 Juni 1913), tetapi untuk Sarekat Islam sebagai cabang diizinkan. Meskipun demikian, Sarekat Islam tetap berkembang pesat. Buktinya dalam tahun 1914 telah berdiri 56 cabang SI yang berbadan hukum dan pada tahun 1916 menjadi 80 cabang SI yang berbadan hukum dengan jumlah anggota 360.000 orang. Dengan makin banyak cabang SI yang berdiri, H.O.S Cokroaminoto mendirikan Central Sarekat Islam (CSI) yang anggotanya bukan perorangan, tetapi cabang-cabang SI di daerah-daerah.

Sarekat Islam mengadakan kongres pertama di Surabaya pada tanggal 20 Januari 1913. Kongres itu menetapkan bahwa SI bukanlah partai politik. SI tidak akan melawan pemerintah Hindia Belanda, serta Surabaya ditetapkan menjadi pusat SI. Pernyataan demikian itu, sebenarnya hanyalah di atas kertas saja dengan maksud agar tidak dicurigai oleh pemerintah kolonial Belanda. Pada praktiknya, SI sering membahas masalah-masalah politik, memperjuangkan\ nasib rakyat, mendesak pemerintah agar dibentuk volksraad, dan menyebarluaskan cita-cita mencapai pemerintahan sendiri. Tentu saja hal itu menyebabkan aktivitas SI selalu diawasi secara ketat oleh pemerintah kolonial Belanda. SI tetap tegar dan terus maju pantang mundur sebab SI dipimpin oleh orangorang yang berjiwa merdeka dan sangat militan, seperti H.O.S Cokroaminoto, H. Agus Salim, H. Samanhudi, Abdul Muis, H. Gunawan, Wondoamiseno, Sosrokardono, dan Suryopranoto. Mereka juga pengurus besar CSI. Kongres kedua SI diselenggarakan di Surakarta. Kongres menegaskan bahwa SI hanya untuk rakyat biasa, pegawai pamong praja tidak boleh menjadi anggota. Pegawai pangreh praja dilarang menjadi anggota karena dikhawatirkan mereka tidak akan berani menyuarakan aspirasi dan memperjuangkan nasib rakyat. Bahkan, bisa jadi mereka akan memata-matai kegiatan SI.

Setelah Central Sarekat Islam berhasil dibentuk di Surabaya (16 Maret 1916), SI segera mengadakan kongres ketiga di Bandung pada tanggal 17–24 Juni 1916. Kongres itu disebutnya sebagai Kongres Nasional Sarekat Islam dengan alasan sebagai berikut.
  1. Kongres tersebut dihadiri oleh 80 cabang SI lokal di seluruh Indonesia. Jumlah anggota SI pada saat itu telah mencapai 800.000 orang.
  2. SI bercita-cita menyatukan seluruh penduduk pribumi sebagai satu bangsa berdaulat. Kongres ini memang sengaja digunakan sebagai sarana unjuk kekuatan kesatuan umat Islam menuju kesatuan seluruh penduduk pribumi.


Pada tahun 1917, SI mengadakan kongres keempat di Batavia. Dalam kongres itu, SI kembali menegaskan tujuan pembentukan organisasinya, yaitu ingin memperoleh pemerintahan sendiri (kemerdekaan). Dalam kongres itu, SI  juga mendesak agar pemerintah membentuk volksraad. Untuk itu, SI mencalonkan H.O.S. Cokroaminoto dan Abdul Muis sebagai wakil yang akan dudukdalam Volksraad.

Jumlah anggota SI terus meningkat, pada tahun 1919 telah mencapai 2.250.000 orang. Akan tetapi, sangat disayangkan karena sebelum kongreskeempat SI dilaksanakan, organisasi itu telah tersusupi ideologi sosialis kiri yang dibawa oleh Semaun, Ketua SI lokal Semarang. Semaun sebenarnya adalah tokoh ISDV berhalauan Marxisme. Tujuannya menyusup ke dalam tubuh SI adalah untuk menyebarkan paham sosialis kiri yang sangat radikal.

Sehubungan dengan keadaan itu, pada tahun 1921 CSI menerapkan disiplin organisasi dengan melarang anggotanya untuk merangkap menjadi anggota organisasi lain. Akibatnya, Semaun beserta pengikutnya dipecat dari SI. Pada tahun 1923 lewat kongresnya di Madiun (17–20 Februari 1923) SI mengubah namanya menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).

SI Merah pimpinan Semaun juga mengubah namanya menjadi Sarekat Rakyat yang kemudian bergabung dengan Partai Komunis Indonesia pada tahun 1923.

c. Indische Partij (1912)

Indische Partij (IP) didirikan oleh Ernest Francois Douwes Dekker (Danudirjo Setyabudi), dr. Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat di Bandung  pada tanggal 25 Desember 1912. Mereka terkenal dengan sebutan Tiga\Serangkai. Sebelum membentuk Indische Partij, mereka telah memropagandakan Hindia untuk Hindia. Douwes Dekker ingin menanamkan perasaan kebangsaan terhadap orang-orang kulit putih dan kulit berwarna yang lahir di Hindia Belanda (Indonesia). Ia ingin menyatukan orang-orang kulit putih dan kulit berwarna.

Indische Partij adalah organisasi yang pertama kali bergerak dalam bidang politik dengan haluan asosiasi dan kooperatif.

Untuk mewujudkan cita-citanya, Indische Partij dalam program kerja telah menetapkan langkah-langkah sebagai berikut:
1) meresapkan cita-cita kesatuan nasional Hindia (Indonesia),
2) memberantas kesombongan sosial dalam pergaulan, baik di bidang pemerintahan maupun kemasyarakatan,
3) berusaha untuk mendapatkan persamaan hak bagi semua orang Hindia,
4) memperbesar pengaruh pro-Hindia di dalam pemerintahan,
5) meningkatkan pengajaran yang kegunaannya harus ditujukan untuk kepentingan ekonomi Hindia,
6) memperbaiki keadaan ekonomi bangsa Hindia, terutama dengan memperkuat mereka yang memiliki ekonomi lemah,
7) memberantas usaha yang membangkitkan kebencian antara agama yang satu dan agama lainnya. 

Pasal-pasal itu pula yang membuktikan bahwa Indische Partij merupakan partai politik yang pertama muncul di Indonesia. Dalam waktu singkat IP mempunyai 30 cabang dengan anggota lebih dari 7.000 orang.

Karena Indische Partij bersifat progresif dengan tujuan ingin merdeka, pemerintahan Hindia Belanda cemas dan bersikap tegas. Permohonan Indische Partij untuk mendapat pengakuan sebagai badan hukum pada bulan Maret 1913 kepada pemerintah kolonial Belanda ditolak. Alasannya, organisasi itu bersifat politik dan mengancam keamanan umum. Meskipun kemudian ada perubahan dalam anggaran dasarnya, permohonan Indische Partij untuk berbadan hukum tetap ditolak.

Dokter Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat selain memimpinIndische Partij juga memimpin suatu lembaga yang diberi nama Komite Bumiputra. Komite itu memohon kepada Raja Belanda agar pemerintah mencabut peraturan tentang hukuman terhadap orang pribumi yang dicurigai bermaksud jahat. Dokter Cipto Mangunkusumo juga menulis tentang sejarah dan filsafat bangsa Jawa

Suwardi Suryaningrat mengecam pemerintah Belanda dengan menulis artikel yang berjudul Als Ik eens Nederlander was yang berarti Seandainya AkuSeorang Belanda. Akibat tulisan tersebut, Belanda menjatuhkan hukuman pengasingan kepada ketiganya. Douwes Dekker diasingkan ke Timor, dr Cipto Mangunkusumo diasingkan ke Banda, dan Suwardi Suryaningrat diasingkan ke Bangka. Hukuman itu kemudian diubah. Ketiganya boleh memilih tempat pengasingan ke luar negeri. Mereka akhirnya memilih Negeri Belanda. Akibat pengasingan tersebut pengikut dan pendukung Indische Partij bubar dan banyak  yang masuk ke dalam perkumpulan Insulinde, yakni organisasi peranakan Eropadan orang Eropa yang ingin tetap tinggal di Hindia.

Pada tahun 1918, tokoh Tiga Serangkai diperbolehkan pulang ke Tanah Air. Di Tanah Air, ketiga tokoh tersebut segera bergabung dengan Insulinde  dan mempunyai pengaruh besar di dalamnya. Akhirnya, perkumpulan itu dapatmenjadi partai yang berjuang menuju kemerdekaan. Oleh karena pengaruh SI sangat kuat menyebabkan Partij Insulinde makin lemah. Dengan perkembangan baru tersebut, pada bulan Juni 1919 Partij Insulinde diubah namanya menjadi National Indische Partij (NIP). Suwardi Suryaningrat dan Douwes Dekker kembali menjadi pengurus besarnya.

National Indische Partij menyusun anggaran dasar baru. Maksud dan tujuan organisasinya hampir sama dengan Indische Partij sehingga pada tahun 1923 National Indische Partij dilarang beraktivitas politik pemerintah Belanda. Pemimpin partai kemudian memutuskan tidak akan mendirikan partai lagi dan menganjurkan supaya para anggotanya memasuki salah satu partai yang ada untuk melanjutkan perjuangan.

Douwes Dekker dan Suwardi Suryaningrat melanjutkan perjuangan melalui\ jalur pendidikan. Douwes Dekker membuka perguruan nasional dengan nama Kesatrian Institut setingkat SD di Pasir Kaliki, Bandung. Suwardi Suryaningratpada tahun 1922 mendirikan Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta. Setelah mendirikan Taman Siswa, Suwardi Suryaningrat lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Dokter Cipto Mangunkusumo melanjutkan perjuangan politik secara bebas dan menerbitkan surat kabar berbahasa Jawa yang bernama Panggugah.


d. Perkumpulan-Perkumpulan Berdasarkan Kedaerahan

Organisasi sosial politik yang berkembang pada masa Pergerakan Nasional  Indonesia, selain ingin mencapai Indonesia merdeka, ada pula yang masih inginmemajukan unsur kedaerahan.

Organisasi yang masih ingin memajukan unsur kedaerahan, antara lain sebagai berikut.

1) Pasundan
Organisasi Pasundan berdiri pada bulan September 1914 di Batavia. Perkumpulan ini didirikan karena rasa kurang puas terhadap Budi Utomo. Alasannya, Budi Utomo hanya diperuntukkan bagi masyarakat Jawa (Jawa

Tengah dan Jawa Timur) dan Madura. Dengan demikian, masyarakat Pasundan yang terkadang tidak bersedia disebut Jawa (meski secara geografis, mereka berada di Jawa) merasa tidak tersalurkan keinginannya. Untuk memenuhi hasrat nasionalismenya, masyarakat Pasundan mendirikan organisasi yang disebut  Pasundan. Pasundan pada awalnya banyak bergerak di bidang sosial budaya,tetapi lama kelamaan perkumpulan itu juga bergerak di bidang politik.

Pasundan sangat menjunjung tinggi sikap kooperasi dengan pemerintah kolonial Belanda. Pasundan menginginkan kemajuan ke arah persatuan dan cinta Tanah Air. Oleh karena itu, Pasundan menggabungkan diri dalam Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).

2) Sarekat Sumatera
Perkumpulan Sarekat Sumatera didirikan oleh orang-orang Sumatera yang berada di Batavia pada tahun 1918. Aktivitas perkumpulan Sarekat Sumatera diarahkan pada bidang politik dan ekonomi. Tujuan aktivitasnya dalam bidang ekonomi adalah agar rakyat Sumatera bisa mandiri memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sarekat Sumatera menolak komunisme dan bersifat netral terhadap agama (tidak membatasi agama tertentu) untuk menjadi anggotanya. Sarekat Sumatera juga turut bergabung dalam Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).

3) Organisasi Orang-Orang dari Ambon
Sebelum didirikan Sarekat Ambon pada tanggal 9 Mei 1920 oleh A.S. Patty di Semarang sebagai suatu partai politik di Indonesia, sebenarnya telah terdapat banyak perkumpulan yang didirikan oleh orang-orang Ambon. Perkumpulan itu, antara lain sebagai berikut.
a) Wilhelmina didirikan di Magelang tanggal 1 September 1908.
b) Perkumpulan Ambonsch Studiefonds berdiri tahun 1909.
c) Ambon’s Bond berdiri tahun 1911 di Amboina.
d) Mens Muria berdiri di Semarang tahun 1913.
e) Sou Maluku Ambon didirikan di Ambon.\

Meskipun semua anggotanya adalah pemeluk agama Kristen, Sarekat Ambon tetap berpendirian netral terhadap agama. Mereka mencintai aksi kebangsaan Indonesia. Berbeda dengan Pasundan dan Sarekat Sumatera, Sarekat Ambon tidak bergabung dalam PPPKI karena organisasi itu dianggap terlalu memperjuangkan satu agama saja.

4) Organisasi Orang-Orang dari Minahassa
Pada bulan Agustus 1912, para pemimpin Minahassa mendirikan Rukun Minahassa di Semarang. Tujuan pendirian organisasi itu adalah mencapai derajat hidup yang layak bagi rakyat Minahassa. Anggotanya terdiri atas orang-orang Manado. Rukun Minahassa juga sudah menggabungkan diri dengan PPPKI dan bersikap kooperatif terhadap pemerintah kolonial Belanda.

5) Kaum Betawi
Kaum Betawi didirikan pada tanggal 1 Januari 1923. Tujuan pendirian Kaum Betawi adalah memajukan pengajaran, perdagangan, kerajinan, dan penjagaan kesehatan untuk orang-orang Betawi, khususnya, dan orang pribumi lain, pada umumnya. Sikapnya terhadap pemerintah kolonial adalah kooperatif.

6) Organisasi Orang-orang dari Madura
Perkumpulan orang-orang dari Madura ini didirikan di Surabaya pada bulan Januari 1920. Tujuannya adalah mencapai kemajuan di bidang ekonomi, sosial, dan budaya. Anggota perkumpulan Madura di Surabaya sangat sedikit karena organisasi itu tidak mencampuri urusan politik.

7) Perkumpulan Orang-Orang dari Timor
Perkumpulan orang-orang dari Timor didirikan di Makassar pada bulan September 1921 dengan nama Timor Verbond (Perhimpunan Timor) oleh J.W. Ammolio. Tujuannya adalah mendukung anggota dan mempertinggi keadaan golongan Timor dalam hal kebudayaan, ekonomi, dan sosial. Selain terbentuk Timor Verbond, didirikan juga Sarekat Timor pada bulan Desember 1924.

e. Organisasi Pergerakan Bersifat Keagamaan

Organisasi pergerakan bersifat keagamaan yang lahir pada masa Pergerakan Nasional, antara lain sebagai berikut.

1) Muhammadiyah
Organisasi Muhammadiyah didirikan oleh H. Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912. Asas perjuangannya adalah Islam dan kebangsaan Indonesia. Sifat organisasi Muhammadiyah adalah nonpolitik. Muhammadiyah bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, dan sosial budaya yang menjurus kepada tercapainya kebahagiaan lahir dan batin. Maksud dan tujuan dalam anggaran dasar Muhammadiyah disebutkan “untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yangsebenar-benarnya.”

Tujuan pokok yang tercantum dalam anggaran dasar tersebut dapat dijabarkan lagi menjadi tujuan yang bersifat operasional, antara lain sebagai berikut.
a) Pengembalian ajaran Islam secara murni menurut Al-Qur’an dan Hadits.
b) Peningkatan pendidikan dan pengajaran yang berlandaskan agama Islam.
c) Pendorong umat Islam untuk hidup selaras dengan ajaran agama Islam.
d) Pembinaan dan penyiapan generasi muda agar kelak dapat menjadi pemimpin masyarakat, agama, dan bangsa yang adil dan jujur.
e) Berusaha meningkatkan kesejahteraan hidup umat manusia, pada umumnya, dan umat Islam, pada khususnya. 
f) Ikut menyantuni anak-anak yatim piatu.

Muhammadiyah merupakan gerakan reformasi Islam di Indonesia.
Muhammadiyah berusaha menghapuskan bidah, takhayul, dan takhlik yang ada dalam masyarakat. Muhammadiyah berani melahirkan pikiran yang sehat dan murni dengan dasar Al-Qur’an dan hadits.

Di antara sekian amal usaha di dalam Muhammadiyah yang paling menonjol ialah usaha di bidang pendidikan dan sosial. Walaupun pada saat itu sudah ada sekolah-sekolah, dirasakan tetap saja belum merata. Padahal pendidikan dan pengajaran merupakan unsur mutlak untuk meninggikan kecerdasan rakyat. Itulah sebabnya Muhammadiyah sangat mementingkan pendidikan dan pengajaran di samping gerakan keagamaan tentunya. Untuk meningkatkan pendidikan pemuda, dibentuk organisasi kepanduan yang disebut Hizbul Wathon. Untuk meningkatkan pendidikan dan kecakapan wanita, Muhammadiyah membentuk organisasi Aisiyah. Dalam perkembangan selanjutnya, pemudi-pemudi Aisiyah membentuk Nasyiatul Aisiyah. Sesuai perkembangan zaman, sekarang Muhammadiyah juga mendirikan rumah-rumah sakit, rumah yatim piatu, sekolah-sekolah, dan usaha-usaha sosial kebudayaan yang lain.

2) Nahdatul Ulama
Nahdatul Ulama (NU) didirikan oleh K.H. Hasyim Asy’ari di Surabaya pada tanggal 21 Januari 1926. K.H. Hasyim Asy’ari adalah pengasuh PondokPesantren Tebu Ireng, Jombang. Asas NU adalah Islam dan kebangsaan ] Indonesia. NU bersifat nonpolitik dan bergerak di bidang agama, pendidikan,sosial, dan budaya.

Tujuan pendirian Nahdatul Ulama adalah menegakkan syariat Islam berdasarkan Mazhab Syafii. Tujuan ini ditempuh dengan cara memelihara hubungan ulama-ulama empat aliran yang terdapat dalam paham tradisional. Keempat aliran atau mazhab tersebut adalah Syafii, Maliki, Hanafi, dan Hambali.  Cara lain yang ditempuh adalah dengan mendirikan sekolah dan pesantren sertamewujudkan pikiran rakyat untuk berjuang mencapai kemerdekaan.

Dalam kongres yang dilaksanakan pada tahun 1928 di Surabaya, Nahdatul Ulama menentang adanya pembaruan dari kaum modernis. NU memandang bahwa kaum Islam reformis dalam beberapa hal bersikap seperti kaum nasionalis yang tidak berdasarkan agama. Misalnya, keinginan kaum Islam reformis untuk mempertinggi kedudukan perempuan dalam mencapai perbaikan kehidupan perkawinan dan keluarga. Oleh karena itu, dalam kongres juga dibicarakan peraturan Islam tentang perceraian. Kongres juga membicarakan kesukarankesukaran perjalanan naik haji dan peraturan-peraturan kesehatan di pelabuhan yang tidak memuaskan.

Nahdatul Ulama mempunyai pengaruh besar terutama di Surabaya, daerah yang berdekatan dengan Karesidenan Kediri, Bojonegoro, dan di sekitar daerah Kudus.

Pada tahun-tahun selanjutnya, ternyata kegiatan Nahdatul Ulama lebih menjurus ke bidang politik. Nahdatul Ulama berani menolak kerja rodi, rencanaperaturan pemerintah tentang perkawinan tercatat, dan wajib militer.

Pada tahun 1946, Nahdatul Ulama, bahkan terjun langsung ke gelanggang politik dengan masuk ke dalam partai Masyumi. Pada tahun 1952, Nahdatul Ulama berdiri sendiri sebagai partai politik.

3) Persatuan Muslimin Indonesia (Permi)
Persatuan Muslimin Indonesia (Permi) adalah nama organisasi hasil peleburan Sumatera Thawalib, yaitu suatu organisasi Islam yang bercorak  nasionalisme radikal. Setelah kongresnya di Bukittinggi, pada tahun 22 Mei1930, Sumatera Thawalib menjelma menjadi Persatuan Muslimin Indonesia] (Permi) yang diketuai oleh Mukhtar Luthfi.

Pada mulanya Permi bergerak di bidang sosial, tetapi sejak tahun 1932 berubah menjadi partai politik yang radikal berhaluan nonkooperatif. Persatuan Muslimin Indonesia (Permi) bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Permi mempunyai pengaruh yang luas di Sumatera. Kegiatan aksinya di Sumatera] meliputi daerah Tapanuli, Bukittinggi, dan Palembang. Karena aksinya yang ]keras, Permi juga mendapat tekanan dari pemerintah kolonial Belanda. Pemimpin-pemimpinnya termasuk Mukhtar Luthfi ditangkap dan dipenjarakan.] Akhirnya, pada tanggal 11 Oktober 1937 Permi dibubarkan.


f. Organisasi Pemuda Bersifat Kedaerahan

Organisasi kepemudaan bersifat kedaerahan yang berkembang pada masa Pergerakan Nasional Indonesia, antara lain sebagai berikut.

1) Trikoro Dharmo/Jong Java
Gerakan pemuda Indonesia sebenarnya telah dimulai sejak berdirinya Budi Utomo. Para pendiri Budi Utomo sebenarnya adalah para pemuda yang masih menjadi mahasiswa STOVIA. Namun, sejak kongres pertama, kepengurusan Budi Utomo diambil alih kaum priayi (bangsawan) dan para pegawai negeri. Tindakan tersebut membuat para pemuda kecewa kemudian keluar dari Budi Utomo.

Pada tanggal 7 Maret 1915, para pemuda mantan anggota Budi Utomo mendirikan organisasi Trikoro Dharmo di Batavia. Para pemimpinnya, antara  lain R. Satiman Wiryosanjoyo (ketua), Sunardi atau Wongsonegoro (wakil ketua),Sutomo (sekretaris), dan pengurus lainnya, seperti Muslich, Musodo, dan Abdul Rachman. Trikoro Dharmo hanya untuk anak-anak sekolah menengah yang berasal dari Pulau Jawa dan Madura. Trikoro Dharmo artinya tiga tujuan mulia.

Adapun tujuan organisasi Trikoro Dharmo adalah sebagai berikut:
a) Mempererat tali hubungan pelajar pribumi pada sekolah menengah dan perguruan kejuruan.
b) Menambah pengetahuan umum bagi anggotanya.
c) Membangkitkan dan mempertajam perasaan buat segala bahasa dan kebudayaan Hindia.
d) Memperkukuh rasa persatuan dan kesatuan di antara para pemuda Jawa, Sunda, Madura, Bali, dan Lombok.

Pada tahun 1918 lewat kongresnya yang pertama di Solo, nama TrikoroDharmo diubah menjadi Jong Java. Hal itu dimaksudkan agar para pemuda ]dari luar Pulau Jawa yang tata sosialnya berlandaskan budaya Jawa bersedia ]menjadi anggota Jong Java. Kegiatan Jong Java berkisar pada masalah-masalah  sosial dan kebudayaan. Misalnya, pemberantasan buta huruf, kepanduan, dankesenian. Jong Java tidak ikut terjun dalam dunia politik dan tidak pula mencampuri urusan agama tertentu. Anggotanya dilarang menjalankan aktivitas politik atau menjadi anggota partai politik. Akan tetapi, sejak tahun 1924 karena  pengaruh gerakan radikal, Syamsuridjal (ketua) mengusulkan agar anggota yangsudah berusia 18 tahun diberi kebebasan berpolitik dan juga memasukkan program memajukan agama Islam. Usul ini ditolak. Akibatnya, para anggota yang menghendaki terjun ke dunia politik dan ingin memajukan agama Islam  mendirikan Jong Islamieten Bond. Organisasi Jong Islamieten Bond dipimpinoleh Syamsuridjal dengan mengangkat Haji Agus Salim sebagai penasihatnya.

Karena kuatnya pengaruh pergerakan politik, dalam kongresnya di Solo (17–31 Desember 1926) ditegaskan oleh ketuanya, Sunardi Jaksodipuro bahwa tujuan Jong Java tidak hanya terbatas untuk membangun cita-cita Jawa Raya saja, tetapi harus bercita-cita persatuan dan Indonesia merdeka. Untuk itu, anggota yang berusia di bawah 18 tahun hanya diperkenankan mengikuti kegiatan studi, seni, olahraga, dan kepanduan. Anggota yang berusia di atas 18 tahun boleh mengikuti rapat-rapat politik.

2) Jong Sumateranen Bond (9 Desember 1917)
Sejalan dengan lahirnya Trikoro Dharmo (1915) yang berubah nama menjadi Jong Java (1918), pada tanggal 9 Desember 1917 di Batavia berdiri Jong Sumateranen Bond. Adapun tujuannya adalah sebagai berikut:
a) mempererat persaudaraan pemuda pelajar dari Sumatra dan membangkitkan perasaan bahwa mereka terpanggil untuk menjadi pemimpin dan pendidik bangsa
b) membangkitkan perhatian anggotanya dan orang luar untuk menghargai adat istiadat, seni, bahasa, kerajinan, pertanian, dan sejarah Sumatra

Untuk mencapai tujuan itu, dilakukan usaha-usaha sebagai berikut
a) menghilangkan perasaan prasangka etnis di kalangan orang-orang Sumatra
b) memperkuat perasaan saling membantu
c) bersama-sama mengangkat derajat penduduk Sumatera dengan alat propaganda, kursus, dan ceramah-ceramah.

Berdirinya Jong Sumateranen Bond dapat diterima oleh para pemuda Sumatra yang berada di kota-kota lainnya. Oleh karena itu, dalam waktu singkat organisasi ini sudah mempunyai cabang di Bogor, Serang, Sukabumi, Bandung, Purworejo, dan Bukittinggi. Dari organisasi inilah kemudian muncul tokoh-tokoh nasional, seperti Moh. Hatta, Muh. Yamin, dan Sutan Syahrir. Makin tebalnya jiwa nasional di kalangan pemuda Sumatera menyebabkan nama Jong Sumateranen Bond yang menggunakan istilah Belanda diubah menjadi Pemoeda Soematera. 

3) Jong Ambon
Jong Ambon didirikan pada tahun 1918. Sebelum itu, sebenarnya telah lahir berbagai organisasi yang didirikan oleh orang-orang Ambon. Misalnya, Ambonsch Studiefonds (1909) oleh Tehupeilory; Ambons Bond (1911) untuk pegawai negeri: Mena Muria (1913) di Semarang; Sou Maluku Ambon di Ambon. Organisasi tersebut bertujuan memajukan ekonomi suku bangsa Ambon.

4) Jong Minahasa dan Jong Celebes
Jong Minahasa didirikan pada tanggal 25 April 1919 oleh tokoh muda Minahasa, Ratu Langie. Jong Minahasa tampaknya sebagai lanjutan dari organisasi yang telah dibentuk sejak 1912 di Semarang, yaitu Rukun Minahasa. Pada tahun 1917 muncul pula organisasi Minahasa Celebes di Jakarta. Akan tetapi, dalam kenyataan Jong Minahasa dan Jong Celebes tidak dapat tumbuh karena jumlah pelajar dari Sulawesi tidak banyak.

5) Perkumpulan Pemuda Daerah Lainnya

Pergerakan pemuda dari daerah lainnya yang muncul pada masa 
Pergerakan Nasional, antara lain sebagai berikut:
a) Sekar Rukun (1920) didirikan oleh para pemuda Sunda di Jakarta.
b) Pemuda Betawi didirikan oleh para pemuda asli Jakarta yang dipimpin oleh Husni Thamrin.
c) Amorsch Verbond didirikan di Makassar (8 Juni 1922) untuk suku Timor.
d) Jong Batak Bond didirikan untuk suku Batak pada tahun 1926.

g. Organisasi Pemuda Bersifat Keagamaan

Organisasi kepemudaan bersifat keagamaan yang berkembang pada masa Pergerakan Nasional, antara lain sebagai berikut.

1) Muda Kristen Djawi (MKD)
Organisasi Muda Kristen Djawi didirikan pada tahun 1920. Pada awalnya organisasi itu menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar dan pergaulan. Akan tetapi, akhirnya diganti dengan bahasa Indonesia setelah nama organisasinya juga diubah menjadi Perkumpulan-Perkumpulan Pemuda Kristen(PPPK)

2) Jong Islamieten Bond (JIB)
Organisasi Jong Islamieten Bond didirikan pada tanggal 1 Januari 1925 oleh Syamsuridjal (Raden Sam). Semula ia menjabat sebagai ketua Jong Java.Karena dua usulnya dalam kongres Jong Java ditolak, Syamsuridjal bersama kawan-kawannya yang sehaluan keluar dan mendirikan Jong Islamieten Bond ]sebagai organisasi pemuda yang berdasarkan agama Islam. Tujuan Jong Islamieten Bond adalah mempererat persatuan di kalangan pemuda Islam dan memajukan agama Islam bagi anggota-anggotanya. Adapun kegiatannya, antara lain mengadakan kursus-kursus agama Islam, darmawisata, olah raga dan seni, ceramah-ceramah dan kelompok belajar, serta menerbitkan majalah, brosur, dan buku-buku.

3) Persatuan Murid-Murid Diniyah School (PMDS)
Persatuan Murid-Murid Diniyah School adalah organisasi pemuda yang dibentuk di dalam lingkungan sekolah keagamaan (Diniyah School). Organisasi ini didirikan oleh Zainuddin Labai El Yunusy di Padang Panjang (Sumatera Barat) pada tanggal 10 Oktober 1915.

h. Partai Komunis Indonesia

Benih-benih paham Marxis dibawa masuk ke Indonesia oleh seorang pemimpin buruh dari Negeri Belanda yang bernama H.J.F.M. Sneevliet. Ia seorang anggota Sociaal Democratische Arbeider Partij (SDAP) atau lebih dikenal sebagai Partai Buruh Sosial Demokrat. Sneevliet seorang sosialis demokrat yang sangat pandai berbicara dan cepat sekali belajar bahasa Indonesia serta bahasa Jawa. Sneevliet selalu menggunakan kedua bahasa itu dalam berpidato di rapat umum. Isi pidatonya selalu mengemukakan tentang kemelaratan rakyat dan mengecam politik pemerintah Belanda. Sneevliet selalu menggunakan kecaman kapitalisme dan imperialisme dalam setiap rapat maupun saat berpidato.

Pada tanggal 9 Mei 1914, Sneevliet bersama dengan J.A. Brandsteder, H.W. Dekker, dan P. Bergsma berhasil mendirikan Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) yang berjiwa Marxis. Karena ISDV tidak dapat berkembang, Sneevliet menyusupkan kadernya ke dalam Sarekat Islam (SI) karena pada saat itu Sarekat Islam adalah organisasi yang paling besar dan banyak anggotanya. Sneevliet melakukan infiltrasi dengan cara menjadikan anggota ISDV sebagai anggota SI atau sebaliknya. Di antara kader yang berhasil disusupkan dalam Sarekat Islam adalah Semaun dan Darsono.

Pada tahun 1917 Semaun diterima sebagai anggota pimpinan Sarekat Islam. Dengan cara tersebut, Sneevliet dan kawan-kawan telah mempunyai pengaruh yang kuat di kalangan SI.

Suksesnya Revolusi Rusia (1917) yang dilandasi oleh Marxisme dan berubahnya SDAP pada tahun 1918 menjadi Partai Komunis Belanda (CPN) menyebabkan beberapa anggotanya berasal dari Eropa di dalam ISDV mengusulkan untuk mengikuti jejak itu. Di dalam Kongres ISDV ke-7 bulan Mei 1920 diusulkan untuk menggantikan nama ISDV menjadi Perserikatan Kommunist di Hindia. Hasil pemungutan suara dalam kongres menyetujui pemakaian nama baru itu. Pada bulan Desember 1920 nama Perserikatan Kommunist di Hindia berubah lagi menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Partai Komunis Indonesia yang sudah terbentuk tersebut dipimpin oleh Semaun sebagai ketua dan Darsono sebagai wakil ketua.

Taktik yang digunakan PKI dalam menumbangkan kekuasaan adalah melakukan pemogokan dan pemberontakan. Tindakan PKI yang pernah dilakukan setelah merasa cukup kuat untuk menumbangkan pemerintahan Hindia Belanda, antara lain sebagai berikut:
1) Mengajak mogok buruh kereta api (1923).
2) Melakukan pemberontakan di beberapa tempat, seperti di Batavia, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur (serentak tahun 1926), dan Sumatera Barat (1927).

Dalam waktu singkat pemberontakan PKI dapat digagalkan oleh pemerintah Hindia Belanda dan banyak pengikutnya yang ditangkap dan dibuang ke Digul (Papua).

Akibat tindakan yang dilakukan PKI tanpa perhitungan tersebut, pemerintah Hindia Belanda juga mengadakan tekanan berat terhadap organisasi Pergerakan Nasional yang lain. Akibatnya, Pergerakan Nasional melemah sehingga sangatmerugikan bagi perjuangan ke arah Indonesia merdeka.

i. Perhimpunan Indonesia

Pada mulanya Perhimpunan Indonesia bernama Indische Vereeniging. Organisasi itu didirikan pada tahun 1908 oleh para mahasiswa pribumi yang belajar di Negeri Belanda. Mereka itu, antara lain R.P. Sosrokartono, R. Husein Djajadiningrat, R.N. Noto Suroto, Notodiningrat, Sutan Kasyayangan Saripada, Sumitro Kolopaking, dan Apituley. Indische Vereeniging pada awalnya bergerak dalam bidang kebudayaan. Namun, sejak mendapat pengaruh dari tiga tokoh Indische Partij yang diasingkan ke Negeri Belanda mengubah suasana dan semangat kegiatan Indische Vereeniging ke dalam bidang politik.

Perubahan makin tampak pada Indische Vereeniging setelah datangnya Comite Indie Weerbaar (Panitia Ketahanan Hindia Belanda) yang dibentuk oleh pemerintah kolonial sebagai usaha untuk mempertahankan Indonesia dari ancaman Perang Dunia I. Panitia Ketahanan Hindia Belanda itu terdiri atas R.Ng. Dwijosewojo (BU), Abdul Muis (SI), dan Kolonel Rhemrev seorang IndoBelanda.

Kedatangan tokoh Tiga Serangkai dan Comite Indie Weerbaar tersebut telah memberikan beban dan dimensi pikiran baru kepada para mahasiswa pribumi di Negeri Belanda. Mereka bukan hanya menuntut ilmu, tetapi juga harus] memikirkan dan memperbaiki nasib bangsanya.

Pada tahun 1922 Indische Vereeniging berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging. Pada tahun 1925 berubah nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Organisasi Perhimpunan Indonesia dipimpin oleh R. Iwa Kusumasumantri, J.B. Sitanala, Mohammad Hatta, R. Sastramulyono, dan Darmawan Mangunkusumo. Mereka menyeru kepada seluruh gerakan di di Indonesia supaya bersatu padu memperjuangkan kemerdekaan. Dengan perubahan itu, terjadi pula perubahan dasar pikiran dan orientasi dalam pergerakan ]mereka. Majalah mereka yang terbit sejak 1916 dengan nama Hindia Poetra ] diubah menjadi Indonesia Merdeka (1925). Dengan demikian, terjadilah pergeseran cara berpikir dan gerakan yang sangat radikal karena dengan tegasmereka menginginkan Indonesia merdeka. Para mahasiswa yang sudah lulus dan kembali ke Tanah Air diharapkan dapat menggerakkan semangat juang untuk memperoleh kemerdekaan.

Pada tahun 1924 saat memperingati ulang tahunnya yang ke-15, Perhimpunan Indonesia menerbitkan buku yang berjudul Gedenkboek. Buku itu berisi 13 artikel yang ditulis oleh A.A. Maramis, Ahmad Subardjo, Sukiman Wirjosandjojo, Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, Sulaiman, R.Ng. Purbacaraka, Darmawan Mangunkusumo, dan Iwa Kusuma-sumantri. Isi buku itu ternyata telah menggoncangkan dan menghebohkan kalangan pemerintah Hindia Belanda. Disusul dikeluarkan pernyataan keras dari pengurus PI di bawah pimpinan Sukiman Wirjosandjojo mengenai prinsip-prinsip yang harus dipakai oleh Pergerakan Nasional untuk mencapai kemerdekaan.

Karena Perhimpunan Indonesia makin radikal, pemerintah Belanda mengawasinya dengan ketat. Namun, PI tetap melakukan kegiatan politiknya.

Dalam usaha memperjuangkan tujuannya, PI menyebarkan keyakinan:
1) perlunya persatuan seluruh nusa bangsa Indonesia;
2) perlunya seluruh rakyat pribumi diikutsertakan dalam mencapai kemerdekaan;
3) adanya pertentangan antara penjajah dan terjajah yang tidak boleh dikuburkan;
4) perlunya segala cara yang harus ditempuh untuk memulihkan kerusakan jasmani dan rohani rakyat.

Ide perjuangan kemerdekaan dipropagandakan kepada seluruh penduduk pribumi, baik yang berada di luar negeri maupun di Tanah Air. Propaganda  kepada bangsa-bangsa lain ditujukan kepada Gerakan Komintern (Moskow) sertaLiga Antiimperialisme dan Penindasan Penjajahan (Brussel).

Propaganda PI ke Tanah Air selain melalui majalah Indonesia Merdeka juga dengan memasuki perkumpulan belajar (studieclub) yang ada di berbagai kota, seperti Surabaya, Solo, dan Bandung. Ini dilakukan oleh para alumni yang pulang dari Nederland. Kecuali itu, PI juga merencanakan pendirian suatu perkumpulan bernama Sarekat Rakyat Nasional Indonesia (SRNI) pada 1926. Maksud itu kemudian diurungkan karena PKI masih berdiri dan merupakan partai besar yang radikal (menghendaki perubahan sampai ke akar-akarnya) dan revolusioner (menghendaki kemerdekaan pada saat itu juga).

Pada akhir tahun 1926, Semaun berada di Belanda untuk menghadiri Kongres Liga Antiimperialisme dan penindasan penjajahan bertemu dengan Hatta. Kedua tokoh itu mengadakan perjanjian kerja sama mencapai Indonesia merdeka. Perjanjian itu mencurigakan pemerintah Nederland karena di Indonesia komunis baru saja mempelopori pemberontakan. Hatta bersama Ali Sastroamijoyo, Nasir Datuk Pamuncak, dan Abulmajid Jayadiningrat kemudian ditangkap dan diadili. Di sini Hatta mengemukakan pembelaan yang berjudul Indonesia Vrij (Indonesia Merdeka) dan tidak terbukti bersalah sehingga oleh pengadilan dibebaskan.

j. Partai Nasional Indonesia

Partai Nasional Indonesia (PNI) didirikan oleh kaum muda terpelajar yang dipimpin oleh Ir. Sukarno pada tanggal 4 Juli 1927 di Bandung. Kaum muda terpelajar itu tergabung dalam Algemene Studie Club (Bandung). Kebanyakan dari mereka adalah mantan anggota Perhimpunan Indonesia yang telah kembali ke Tanah Air. Sebagai Ketua PNI dipilih.

Ir. Sukarno. Partai Nasional Indonesia bersikap radikal. Hal itu terlihat dari strategi perjuangannya yang berhaluan nonkooperasi. PNI tidak bersedia menjadi anggota Volksraad yang dibentuk oleh pemerintah.

PNI di dalam anggaran dasarnya menyatakan bahwa tujuan organisasinya ialah Indonesia merdeka. Tujuan itu hendak dicapai dengan percaya pada diri sendiri, artinya memperbaiki keadaan politik, ekonomi, dan sosial budaya yang sudah dirusak oleh penjajahan dengan kekuatan sendiri. Semuanya itu akan dicapai melalui berbagai usaha, antara lain sebagai berikut.

1) Politik
Usaha politik ditempuh dengan cara memperkuat rasa kebangsaan, persatuan, dan kesatuan; memajukan pengetahuan sejarah kebangsaan; mempererat kerja sama dengan bangsa-bangsa Asia; menumpas segala perintang kemerdekaan dan kehidupan politik.

Dalam bidang politik, PNI berhasil menghimpun organisasi pergerakan lainnya ke dalam satu wadah yang disebut Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). PPPKI dibentuk dalam suatu konferensi tanggal 17–18 Desember 1927 di Bandung yang bertujuan untuk mencapai persamaan arah aksi kebangsaan dari berbagai perkumpulan dan menghindarkan perselisihan yang merugikan.

2) Ekonomi
Usaha ekonomi ini dilakukan dengan cara memajukan perdagangan rakyat, kerajinan atau industri kecil, bank-bank, sekolah-sekolah, dan terutama koperasi.

3) Sosial
Usaha sosial ini dilakukan dengan cara memajukan pengajaran yang bersifat nasional, meningkatkan derajat kaum wanita, memerangi pengangguran, memajukan transmigrasi, dan memajukan kesehatan rakyat dengan mendirikan  poliklinik dan memberantas pemadatan (morfinisme), serta mendirikan danmenyokong serikat-serikat pekerja.

Berkat usaha dan perjuangan dari tokoh PNI, seperti Ir. Sukarno, Ali Sastroamidjojo, Sartono, Sujudi, Iskak Cokrohadisuryo, Dr. Samsi, dan Budiarto, PNI berkembang sangat pesat. PNI telah mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap Pergerakan Nasional. Ir. Sukarno sebagai seorang ahli pidato berhasil menggerakkan rakyat sesuai dengan tujuan PNI. Pengaruh PNI makin  meluas ke Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.Pengaruh aksi-aksi PNI menimbulkan suasana kesegaran baru di dalam masyarakat. Pengaruh PNI juga sangat terasa pada organisasi-organisasi pemuda  sehingga melahirkan Sumpah Pemuda dan organisasi wanita yang melahirkanKongres Perempuan di Yogyakarta pada tanggal 22 Desember 1928.

Kegiatan PNI yang bertujuan mencapai kemerdekaan nasional dicap pemerintah kolonial sebagai suatu gerakan nasional yang ekstrem. Walaupun ada peringatan tersebut, cabang PNI tetap tumbuh di seluruh Indonesia. Melihat gerakan dan pengaruh PNI yang makin meluas, pemerintah kolonial menjadi cemas. Untuk itu, dilontarkan bermacam-macam isu untuk menjelekkan PNI. Belanda menuduh PNI akan melakukan pemberontakan pada tahun 1930.  Dengan alasan tersebut, pemerintah Belanda melakukan penggeledahan terhadap kantor dan rumah tokoh-tokoh PNI untuk mencari dokumen yang berisirencana pemberontakan (24 Desember 1929).

Walaupun tidak ditemukan seperti apa yang diinginkan, pemimpin PNI, seperti Ir. Sukarno, Maskun, Supriadinata, dan Gatot Mangkupraja, ditangkap dan dihadapkan ke pengadilan pada tahun 1930. Karena bukti memberontak tidak ada, dicari dasar tuntutan lain, yaitu menghasut dan mengadakan perkumpulan yang bermaksud jahat. Mereka pada tanggal 20 Desember 1930 dijatuhi hukuman oleh hakim di pengadilan kolonial Bandung. Ir. Sukarno dijatuhi hukuman 2 tahun, Maskun dihukum 20 bulan, dan Supriadinata dihukum 15 bulan penjara.

Peristiwa itu merupakan pukulan besar bagi PNI. Atas inisiatif Sartono pada Kongres Luar Biasa Ke-2 PNI (25 April 1931) organisasi tersebut dibubarkan. Sartono kemudian mendirikan Partai Indonesia (Partindo) pada tahun 1931.  Sebagian anggota yang lain mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia (PNIBaru).

k. Partai Indonesia (Partindo)

Partai Indonesia (Partindo) didirikan oleh Sartono. Partindo mempunyai tujuan perjuangan sama dengan PNI, yaitu mencapai Indonesia merdeka. Dasar ]perjuangan Partindo adalah nonkooperatif, tidak menggantungkan diri pada orang lain, serta aktif menentang penjajahan. Tujuan itu akan tercapai dengan cara memperluas hak-hak politik menuju pemerintahan yang demokratis dan perbaikan ekonomi rakyat. Partindo dalam hal agama bersikap netral. Partindo memperjuangkan kebebasan berserikat dan berkumpul, kebebasan pers, mengusahakan perkumpulan-perkumpulan tani, dan pemberantasan buta huruf. Kedudukan Partindo makin kuat setelah Ir. Sukarno membantu memimpin Partindo.

Karena Partindo bersifat radikal, pemerintah Belanda melakukan tindakan pengawasan serupa dengan PNI. Mulai tahun 1931 pemerintah kolonial Belanda memperketat pengawasannya terhadap Partindo. Pemerintah kolonial Belanda  melarang persidangan Partindo di seluruh Tanah Air dan melarang para pegawainegeri masuk menjadi anggotanya.

Pemerintah Belanda kembali menangkap Ir. Sukarno dan mengasingkannya ke Flores pada tahun 1934. Pada tahun 1938 Ir. Sukarno dipindahkan ke Bengkulu dan pada bulan Februari dipindahkan ke Padang. Ir. Sukarno barubebas pada zaman Jepang (tahun 1942).

Partindo tidak dapat berkembang karena mendapat tekanan keras dari pemerintah Belanda dan para pemimpinnya ditangkap. Pada tahun 1936 Partindo dibubarkan oleh Sartono.

l. Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru)

Pendukung PNI yang menyebut dirinya Gerakan Merdeka dan tidak menyetujui politik Sartono, mendirikan organisasi baru yang disebut Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru). PNI Baru lahir pada tahun 1931. PNI Baru berhaluan nasionalis dan demokrasi. Dari PNI Baru muncul tokoh Sutan Syahrir (20 tahun) yang pada waktu itu masih menjadi mahasiswa di Amsterdam. Ia pulang ke Tanah Air atas permintaan Moh. Hatta untuk menjadi ketua partai. Walaupun cita-cita dan haluan kedua partai itu sama, yaitu kemerdekaan dan nonkooperatif, strategi perjuangannya berbeda. PNI Baru lebih menekankan pada pentingnya pendidikan kader, sedangkan Partindo lebih menekankan aksi massa untuk mencapai kemerdekaan.

Sifat perjuangan PNI Baru adalah nonkooperatif. Oleh karena itu, pemerintah Belanda pun melakukan tindakan serupa dengan Partindo. Drs. Moh. Hatta dan Sutan Syahrir ditahan selama 11 bulan. Pada awalnya, kedua tokoh tersebut diasingkan ke Boven, Digul, kemudian dipindahkan ke Sukabumi. Mereka\ dibebaskan pada saat pendudukan Jepang.Karena pemerintah Belanda mengadakan penekanan dan menangkap para pemimpinnya, perjuangan PNI Baru tidak banyak membawa hasil. Akibat tindakan keras Gubernur Jenderal  de Jonge, PNI Baru pada tahun 1936 tidak berdaya dan mengalamikelumpuhan.

m. Partai Indonesia Raya (Parindra)

Dokter Sutomo pendiri Budi Utomo pada tahun 1931 mendirikan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) sebagai kelanjutan dari Indonesische Studie Club yangdidirikan pada tahun 1924. Dokter Sutomo bermaksud menempuh jalan ]kooperasi dalam satu wadah partai besar. Untuk menyatukan partai-partai kecil agar memperoleh kekuatan besar, pada tanggal 24–26 Desember 1935 di Surakarta diadakan kongres fusi Budi Utomo dengan Persatuan Bangsa Indonesia. Hasil fusi menghasilkan partai baru yang disebut Partai Indonesia Raya (Parindra). Sebagai ketua terpilih dr. Sutomo. Kantor pusat Parindra ditetapkan di Surabaya. Selain Budi Utomo dan PBI, Serikat Sumatera dan Serikat Celebes bergabung pula ke dalam Parindra. Tujuan partai tersebut tercantum dalam namanya, yaitu Indonesia Raya. Untuk mencapai tujuan itu, dilakukan usaha sebagai berikut:
  1. memperkukuh semangat persatuan kebangsaan Indonesia,
  2. menjalankan aksi politik sehingga diperoleh pemerintahan yang berdasarkan demokrasi dan nasionalisme, dan
  3. meningkatkan kesejahteraan rakyat, baik di bidang ekonomi maupun sosial dengan bekerja keras.


Dalam kongresnya yang pertama di Batavia pada tanggal 15–18 Mei 1937,  Parindra mengambil sikap kooperatif. Dengan sikap yang moderat, Parindra]dapat mendudukkan wakilnya dalam Volksraad. Parindra berjuang untuk memasukkan wakil sebanyak-banyaknya dalam Dewan Perwakilan Rakyat sehingga ]dapat memengaruhi politik pemerintah. Parindra banyak bergerak dalam bidang pemberantasan buta huruf dan perbaikan pelajaran. Untuk memperbaiki ]perekonomian rakyat, Parindra membentuk organisasi Rukun Tani, membentuk serikat-serikat pekerja, menganjurkan swadesi ekonomi, dan mendirikan Bank Nasional Indonesia.

Kongres kedua Parindra diselenggarakan di Bandung pada tanggal 24–27 Desember 1938. Karena pada saat itu dr. Sutomo sudah meninggal, kongres memilih K.R.M.H. Wuryaningrat menjadi Ketua Parindra. Kongres itu mengambil keputusan, antara lain sebagai berikut:
1) berusaha keras mengurangi pengangguran;
2) tidak menerima orang-orang Belanda peranakan menjadi anggota;
3) meningkatkan transmigrasi guna memperbaiki kesejahteraan.

n. Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo)

Pada tahun 1936 Partindo dibubarkan oleh Sartono. Para mantan pemimpin Partindo pada tanggal 24 Mei 1937 mendirikan partai baru yang disebut Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Pimpinan Gerindo, antara lain Sartono, Muh. Yamin, dan Amir Syarifudin.

Sesuai dengan situasi pada saat itu, Gerindo melakukan taktik perjuangan kooperatif dengan pemerintah kolonial. Dengan demikian, Gerindo mengizinkan anggotanya duduk dalam Volksraad. Tujuannya adalah mencapai pemerintahan negara yang berdasarkan kemerdekaan politik, ekonomi, dan sosial. Dalam kongres keduanya di Palembang, Gerindo memutuskan bahwa peranakan Eropa, Tionghoa, dan Arab dapat diterima menjadi anggota partai.

Karena kedudukan Muh. Yamin sebagai anggota Volksraad atas tunjukanpartai lain, ia dipecat dari keanggotaan Gerindo. Muh. Yamin kemudian mendirikan partai baru yang disebut Partai Persatuan Indonesia (Parpindo). Partai tersebut bersifat kooperatif dan bertujuan mencapai kemajuan masyarakat dan negara berdasarkan keinginan rakyat.

Makalah Keragaman Ideologi serta Dampaknya terhadap Pergerakan Kebangsaan Indonesia Rating: 4.5 Posted By: Sekolah Online

0 comments:

Poskan Komentar