Kajian Teori, Mata Pelajaran SD SMP SMP SMA SMK MTS dan Mata Kuliah Mahasiswa

Jumat, 05 Agustus 2016

Perkembangan Bahasa, Dialek Tradisi Lisan Kepdulian dan Keberadaan dalam Masyarakat

Keberadaan Bahasa, Dialek, dan Tradisi Lisan dalam Masyarakat - Pada bab yang sebelumnya telah dibahas perbedaan pengertian bahasa dan dialek. Berdasarkan sudut pandang politik, bahasa dapat didefinisikan sebagai sistem komunikasi verbal yang secara resmi telah diterima sebagai bentuk bahasa nasional, sedangkan dialek tidak memperoleh kedudukan yang istimewa sebagai bahasa baku di antara dialek-dialek lainnya di suatu negara.


Di dalam masyarakat terdapat beraneka ragam bahasa serta dialek. Berdasarkan stratifikasi atau tingkatan lingkungan sosial budayanya terdapat jenis bahasa baku, bahasa sehari-hari, slang, cant, dan jargon. Selain itu, terdapat pembagian bahasa berdasarkan pada aspek tempat atau geografis suatu bahasa.

Sebuah ragam bahasa yang dipergunakan di suatu daerah tertentu lambat laun akan melahirkan suatu variasi bahasa yang berbeda-beda lafal, tata bahasa, dan tata artinya dengan bahasa lainnya. Menurut para ahli linguistik perbedaan dialek dapat dibagi menjadi lima jenis, antara lain sebagai berikut.

1. Perbedaan fonetik atau alofonetik. Perbedaan fonetik adalah perbedaan tata bunyi vokal atau konsonan suatu bahasa. Perbedaan tata bunyi tersebut menyebabkan pemakai suatu dialek atau bahasa tidak menyadari adanya perbedaan tersebut. Misalnya, tata bunyi kata cerme yang berarti buah cerme dalam bahasa Sunda, ada orang yang mengucapkan careme atau cereme.

2. Perbedaan semantik, yaitu terciptanya kata-kata baru berdasarkan perubahan fonologi, pergeseran bentuk, dan makna kata. Berdasarkan jenisnya, perbedaan semantik suatu bahasa dibagi menjadi dua jenis, antara lain sebagai berikut.

  • Pemberian nama yang berbeda untuk sebuah istilah yang sama di suatu daerah. Misalnya, dalam bahasa Sunda, perbedaan kata turi dan tury untuk menyebut kata pohon turi, serta balingbing atau calingcing untuk menyebut pohon belimbing. Perubahan semantik tersebut dikenal dengan istilah sinonim atau padan kata.
  • Pemberian nama yang sama untuk sebuah istilah yang berbeda di suatu daerah. Misalnya, istilah meri untuk menyebut nama itik dan anak itik dalam bahasa Sunda. Perubahan semantik tersebut dikenal dengan istilah homonim.

3. Perbedaan onomasiologis, yaitu perbedaan istilah di beberapa daerah. Misalnya, istilah menghadiri kenduri di beberapa daerah pemakai bahasa Sunda tertentu ada yang disebut ondangan, kondangan, atau kaondangan, sedangkan di beberapa tempat lainnya disebut nyambungan. Perbedaan ini disebabkan adanya tanggapan atau penafsiran yang berbeda mengenai kehadiran seseorang di tempat kenduri tersebut. Istilah kondangan, ondangan, dan kaondangan didasarkan kepada penafsiran bahwa kehadiran seseorang pada acara tersebut adalah karena diundang oleh pemilik rumah, sedangkan istilah nyambungan didasarkan kepada penafsiran bahwa kehadiran seseorang dalam sebuah acara kenduri adalah karena adanya keinginan untuk menyumbang barang kepada orang yang mengadakan acara kenduri.

Gambar Acara kenduri

4. Perbedaan semasiologis, yaitu pemberian nama yang sama untuk beberapa konsep yang berbeda. Misalnya, pengucapan frase-frase rambutan Aceh, pencak Cikalong, dan orang yang berhaluan kiri yang hanya diucapkan sebagai Aceh, cikalong, atau kiri saja. Padahal apabila dijabarkan istilah Aceh mempunyai lima buah makna, yaitu nama suku bangsa, nama daerah, nama kebudayaan, nama bahasa, dan nama sejenis rambutan.

5. Perbedaan morfologis, yaitu perbedaan sistem tata bentuk kata.


Perkembangan Bahasa dan Dialek

Pada umumnya, orang beranggapan bahwa suatu bahasa berkaitan dengan keadaan alam, suku bangsa, dan situasi politik di suatu daerah. Selain itu, penentuan batas-batas pemakaian suatu bahasa dan dialek juga didasarkan kepada faktor sejarah, agama, kebudayaan, ekonomi, komunikasi, dan kesediaan masyarakat pemakai suatu bahasa untuk menerima pengaruh-pengaruh dari luar. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa perkembangan suatu bahasa atau dialek dipengaruhi oleh aspek kebahasaan dan nonkebahasaan seperti keadaan yang memengaruhi ruang gerak penduduk setempat untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Pembentukan suatu ragam bahasa atau dialek disebabkan adanya hubungan dan keunggulan bahasa-bahasa atau  dialek-dialek ketika terjadi perpindahan penduduk, perang, dan penjajahan. Pembentukan ragam bahasa juga dipengaruhi oleh kosakata, struktur, dan cara-cara pengucapan atau lafal dialek atau bahasa lainnya. Perkembangan suatu bahasa atau dialek dapat berkembang membaik apabila dipakai secara luas oleh masyarakat dan menjadi bahasa baku atau memburuk apabila suatu bahasa lenyap dan tidak dipakai lagi oleh masyarakat. Contoh perkembangan membaik adalah diangkat dan diakuinya bahasa dan dialek Sunda Kota Bandung sebagai bahasa Sunda baku dan bahasa sekolah di Jawa Barat serta bahasa Jawa Kota Surakarta sebagai bahasa baku bahasa Jawa dan bahasa sekolah di Jawa Tengah. Sebaliknya, contoh perkembangan memburuk adalah lenyapnya bahasa dan dialek Sunda di kampung Legok, Indramayu karena pada saat ini penduduk kampung tersebut hanya dapat menggunakan bahasa Jawa Cirebonan.

Perkembangan memburuk bahasa atau dialek-dialek daerah terjadi pada bahasa daerah yang jumlah pemakainya sedikit dan diancam bahaya kepunahan. Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya perkembangan memburuk suatu bahasa atau dialek, antara lain sebagai berikut.

1. Adanya pengaruh pemakaian bahasa nasional dalam pola penggunaan bahasa daerah dan pengaruh bahasa nasional dan bahasa baku suatu bahasa daerah ke dalam dialek melalui berbagai saluran, baik resmi atau tidak resmi, seperti sekolah, lembaga pendidikan, dan saluran seni budaya.

Gambar Pemakaian bahasa di sekolah

2. Faktor sosial berupa membaiknya taraf kehidupan sosial masyarakat. Dengan bertambah baiknya taraf kehidupan sosial maka kemungkinan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik akan membuka peluang mobilitas status sosial ekonomi seseorang. Misalnya, seorang penduduk desa yang merantau ke kota untuk bekerja atau menuntut ilmu. Di kota, seorang penduduk desa harus hidup dalam lingkungan yang berbeda dengan lingkungan di kampung asalnya. Apabila mereka kembali ke kampung halamannya, mereka akan tetap mempertahankan cara-cara hidup yang pernah mereka terapkan selama di rantau. Misalnya, dalam penggunaan bahasa daerah mereka akan lebih banyak memakai bahasa nasional atau bahasa asing dalam percakapan sehari-hari dibanding penduduk desa yang tidak pernah merantau. Selain itu, dalam penggunaan dialek, seseorang yang pernah merantau akan tetap mempergunakan bahasa baku karena mereka sadar bahwa dialek bahasa daerahnya tidak selengkap bahasa baku.

Bahasa-bahasa daerah yang jumlah pemakainya sedikit dan berada di daerah-daerah terpencil merupakan bahasa-bahasa daerah yang besar sekali kemungkinannya akan lenyap. Namun, dialek yang paling besar kemungkinannya untuk hilang adalah dialek yang ada di kota-kota karena tergeser oleh bahasa baku dan bahasa kebangsaan di kota-kota yang lebih sering digunakan oleh penduduk.

Di Indonesia pengaruh yang berasal dari bahasa Indonesia sebagai bahasa kebangsaan ke dalam bahasa daerah di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan dengan pengaruh bahasa daerah pada bahasa Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh kelebihan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa kebangsaan dan bahasa negara yang tidak dimiliki oleh berbagai bahasa daerah di Indonesia.

Adanya kelebihan-kelebihan tersebut menyebabkan hampir setiap orang berusaha untuk menguasai bahasa Indonesia dengan lancar sehingga tidak jarang mengorbankan pemakaian bahasa daerahnya sendiri. Di samping itu, selain rumpun bahasa-bahasa di Provinsi Papua, bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia pada dasarnya termasuk ke dalam satu rumpun bahasa yang sama, yaitu rumpun bahasa Austronesia sehingga proses pemengaruhan antarbahasa tersebut akan semakin cepat terjadi. Selanjutnya, kesamaan sistem dan struktur bahasa-bahasa serumpun tersebut menyebabkan proses pemengaruhan tersebut seringkali tidak terasa sebagai sesuatu yang dipaksakan.

Pada saat ini telah muncul kecenderungan bahasa-bahasa dan dialek lokal turut memengaruhi pembentukan ragam kata bahasa Indonesia seperti penyerapan istilah bahasa atau dialek Jawa dan Sunda dalam ragam kata bahasa Indonesia. Misalnya, di Makassar kata lembek sering dilafalkan dengan dua /e/ pepet (sama seperti orang melafalkan kata pesta) dan konsonan /k/ yang samar (mirip dengan pelafalan umum kata bapak). Sebaliknya, pemakaian istilah ketabrak, ketemu, kepergok, atau kecantol adalah ragam morfologi yang kental dengan pengaruh bahasa Jawa. Selain itu, berdasarkan analisis sintaksis, pengaruh bahasa Sunda terlihat pada pemakaian frase oleh saya, apabila dipakai dalam kalimat, " ..... belum selesai dikerjakan oleh saya” (teu acan didamel ku abdi).

Keberadaan ragam-ragam bahasa atau dialek menunjukkan adanya interaksi yang saling memengaruhi antara bahasa nasional dan bahasa lokal setiap kelompok etnik di Indonesia. Pada awalnya, pengaruh ragam bahasa lokal hanya terjadi pada saat seseorang berkomunikasi secara lisan karena ia cenderung merasa sungkan bila tidak menggunakan bahasa baku dalam komunikasi tulisan. Namun, seiring dengan semakin populernya piranti telekomunikasi berupa pesan elektronik singkat atau SMS (Short Message Service) pada telepon seluler dan internet, pemakaian ragam bahasa dalam novel sastra remaja populer yang disebut teenlit dan chicklit, percakapan, papan iklan, logo, dan aneka lambang perusahaan ragam bahasa lokal semakin dipengaruhi oleh pemakaian bahasa dan dialek lokal. Misalnya, di Bandung akan lahir istilah Rumah Sakit Santo Yusup karena orang Sunda terbiasa mengucapkan lafal /f/ dengan /p/. Contoh tersebut menunjukkan bahwa peluang untuk mengekspresikan bahasa dan dialek lokal dalam berbahasa menjadi semakin luas.

Perkembangan Bahasa, Dialek Tradisi Lisan
Gambar Novel sastra remaja populer


Kepedulian terhadap Pentingnya Keberadaan Tradisi Lisan dalam Masyarakat

Keberadaan tradisi lisan berkaitan erat dengan keberadaan bahasa serta dialek yang tengah berkembang dalam masyarakat. Tradisi lisan merupakan tradisi masyarakat sebelum mengenal tulisan yang dituturkan secara turun-temurun secara lisan berupa bahasa atau dialek lokal, cerita rakyat, adat istiadat, kepercayaan rakyat, dan hukum adat. Tradisi lisan memegang peranan yang cukup penting dalam perkembangan bahasa dan dialek karena sampai saat ini masih banyak bahasa atau dialekdialek lokal yang belum mengenal tradisi tulisan sebagai sarana pewarisan kebudayaan. Karena belum mengenal tulisan maka bahasa dan dialek lokal tersebut hanya bisa diwariskan kepada generasi penerus melalui tradisi lisan. Selain itu, tradisi lisan memegang peranan yang sangat penting bagi kepentingan-kepentingan penelitian bahasa serta dialek-dialek yang ada di dalam masyarakat karena sumber-sumber tradisi lisan tersebut tersimpan di dalam khazanah-khazanah sumber aslinya, yaitu para pemakai bahasa serta dialek-dialek tersebut. 

Namun, seiring dengan semakin pesatnya arus perubahan sosial budaya maka penelitian mengenai tradisi lisan semakin perlu digalakkan.

Apabila penelitian mengenai masalah tradisi lisan tersebut tidak segera dilaksanakan kemungkinan besar suatu saat nanti sumber-sumber lisan tersebut akan mengalami kepunahan.

Pada saat ini telah banyak khazanah sumber-sumber tradisi lisan seperti cerita rakyat serta adat istiadat yang sudah mulai punah. Oleh karena itu, upaya untuk melestarikan bahasa, dialek, dan tradisi lisan dapat dilakukan dengan ikut menjaga dan melestarikannya dalam kehidupan sehari-hari, menghormati bahasa, dialek, dan tradisi lisan masyarakat lain serta mengembangkan potensi bahasa, dialek, dan tradisi lisan yang ada di lingkungan masyarakat.

Perkembangan Bahasa, Dialek Tradisi Lisan Kepdulian dan Keberadaan dalam Masyarakat Rating: 4.5 Posted By: Sekolah Online

0 comments:

Poskan Komentar