Kajian Teori, Mata Pelajaran SD SMP SMP SMA SMK MTS dan Mata Kuliah Mahasiswa

Selasa, 09 Agustus 2016

Masuknya Kekuatan Asing ke Wilayah Nusantara Indonesia Melalui Perdagangan Bangsa Portugis Spanyol dan Belanda

Masuknya Kekuatan Asing ke Wilayah Indonesia - Bangsa-bangsa Barat melalui penjelajahan samudra, berhasil mencapai Indonesia. Bangsa Barat yang berhasil mencapai Indonesia, antara lain bangsa Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris. Kedatangan bangsa-bangsa Eropa di Indonesia pada awalnya melalui persekutuan perdagangan. Persekutuan perdagangan bangsa Eropa berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah di Indonesia melalui praktik monopoli.


1. Bangsa Portugis Memasuki Indonesia
Melalui penjelajahan samudra, bangsa Portugis berhasil mencapai India (Kalikut) pada tahun 1498.Bangsa Portugis berhasil mendirikan kantor dagangnya di Goa (1509). Pada tahun 1511 Portugis berhasil menguasai Malaka. Selanjutnya, Portugis mengadakan hubungan dagang dengan Maluku yang merupakan daerah sumber utama rempah-rempah di Indonesia.

Pada tahun 1512 Alfonso de Albuquerque mengirimkan beberapa buah kapal ke Maluku. Pada awalnya masyarakat Maluku menyambut baik dan saling berebut menanamkan pengaruh kepada Portugis. Hal ini dimaksudkan agar Portugis dapat membeli rempah-rempah dan membantu masyarakat Maluku menghadapi musuh-musuhnya.

Pada saat itu, Kesultanan Ternate di Maluku diperintah oleh Kaicil Darus. Sultan Ternate itu meminta bantuan Portugis untuk mendirikan benteng di Ternate. Pendirian benteng tersebut bertujuan agar Ternate terhindar dari kemungkinan serangan dari daerah lain. Pada tahun 1522, Portugis mengabulkan permintaan Sultan Ternate dengan mendirikan Benteng Saint John. Pendirian benteng tersebut harus dibayar mahal oleh Ternate karena Portugis menuntut imbalan berupa hak monopoli perdagangan rempah-rempah di Ternate. Sultan Ternate terpaksa harus menandatangani perjanjian monopoli perdagangan dengan Portugis.


Perjanjian monopoli perdagangan rempah-rempah tersebut ternyata menimbulkan kesengsaraan. Rakyat tidak dapat menjual rempah-rempah secara bebas. Portugis telah menetapkan harga rempah-rempah yang dimiliki rakyat dengan harga yang murah. Di samping itu, rakyat Ternate harus menjual rempah-rempah kepada Portugis. Hal itu merugikan rakyat Ternate, tetapi memberikan keuntungan yang sangat besar bagi Portugis. Oleh karena itu, terjadi permusuhan antara rakyat Ternate dan Portugis.

Selain mengadakan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku, Portugis juga aktif menyebarkan agama Katolik. Salah seorang tokoh Portugis yang giat menyebarkan agama Katolik adalah Fransiscus Xaverius.

2. Bangsa Spanyol Memasuki Indonesia
Pada tahun 1521 bangsa Spanyol berhasil untuk pertama kali mendarat di Tidore (Maluku) kemudian singgah di Bacan dan Jailolo. Mereka tergabung dalam Ekspedisi Magelhaens–Del Cano. Kedatangan bangsa Spanyol disambut baik oleh masyarakat setempat karena pada saat itu rakyat Maluku sedang bersengketa dengan Portugis.

Kedatangan Spanyol di Maluku merupakan keberhasilan bangsa Spanyol dalam mencapai daerah yang diidam-idamkan, yaitu daerah sumber penghasil rempah-rempah. Orang-orang Spanyol senang berdagang di Maluku sehingga jumlahnya makin banyak. Bagi Portugis, kehadiran Spanyol merupakan pelanggaran atas hak monopolinya. Akibatnya, timbul persaingan antara Portugis dan pedagang Spanyol. Persaingan tersebut sejalan dengan pertentangan antara Sultan Ternate dan Sultan Tidore. Sultan Ternate bersekutu dengan Portugis, sedangkan Sultan Tidore bersekutu dengan Spanyol. Puncaknya, Portugis dan Spanyol menempuh jalan perundingan yang dilaksanakan di Saragosa (Spanyol) pada tahun 1529. Perundingan itu menghasilkan kesepakatan yang disebut Perjanjian Saragosa .

Isi Perjanjian Saragosa, antara lain sebagai berikut.
  • Spanyol harus meninggalkan Maluku dan melakukan perdagangan di Filipina.
  • Portugis tetap melakukan kegiatan perdagangan di Kepulauan Maluku.

Dengan perjanjian tersebut, Spanyol segera meninggalkan Maluku. Bangsa Portugis berusaha keras menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku dengan praktik monopoli.

3. Masuknya Bangsa Belanda di Indonesia
Sebelum datang ke Indonesia untuk membeli rempah-rempah, para pedagang Belanda membeli rempah-rempah hasil kekayaan alam Indonesia di Lisabon (ibu kota Portugis). Pada masa itu, Belanda masih dalam penjajahan bangsa Spanyol. Pada tahun 1585 Belanda tidak lagi mengambil rempahrempah dari Lisabon karena Portugis dikuasai oleh bangsa Spanyol. Putusnya perdagangan rempah-rempah antara Belanda dan Lisabon mengakibatkan Belanda banyak menderita kerugian. Sejak saat itu, bangsa Belanda mulai mengadakan penjelajahan samudra untuk mencari daerah asal rempah-rempah, yaitu Indonesia. Pada April 1595 Belanda memulai pelayarannya menuju Nusantara dengan empat buah kapal di bawah pimpinan Cornelis de Houtman dan De Keyzer. Pelayaran menuju timur menempuh rute Belanda–Pantai Barat Afrika–Tanjung Harapan–Samudra Hindia–Selat Sunda–Banten. Pada saat itu Banten dibawah pemerintahan Maulana Muhammad (1580-1605). Pelayaran bangsa Belanda ke Indonesia selalu menjauhi jalur pelayaran Portugis. Pelayaran de Houtman memasuki wilayah Nusantara melalui Selat Sunda.

Pada bulan Juni 1596 Belanda berhasil mendarat di Banten. Pada awal kedatangannya, Belanda mendapat sambutan yang baik dari masyarakat Banten. Belanda mendapat izin untuk berdagang di Banten. Akan tetapi, Belanda melakukan penekanan sehingga rakyat Banten berbalik memusuhi dan mengusirnya. Beberapa orang Belanda ditangkap dan barang dagangannya disita. Armada Belanda yang belum mendapat barang dagangan harus mundur dari Banten menuju ke Kepulauan Maluku.

Pada tanggal 2 Oktober 1596 Belanda kembali lagi ke Banten untuk mengadakan perjanjian persahabatan. Orang-orang Belanda yang ditahan ketika pertama kali datang di Banten berhasil dibebaskan setelah Belanda berani membayar mahal. Suasana damai ini pun tidak berlangsung lama karena sejak tanggal 28 Oktober 1596 sudah terjadi ketegangan antara Belanda dan Portugis. Keduanya saling berebut pengaruh terhadap Sultan Banten. Portugis berhasil mendekati Banten dan merusak hubungan Banten dengan Belanda. Dengan demikian, terjadilah perang Belanda melawan Banten dan Portugis. Belanda diusir dari Banten, kemudian berlayar ke arah timur. Sesampainya di Bali mereka berlabuh dan melakukan perdagangan. Pada saat itu, masyarakat Bali tidak mengadakan pengusiran karena Belanda telah mengubah sikap sombongnya.

Pada tanggal 28 November 1598, rombongan baru dari Negeri Belanda di bawah pimpinan Jacob van Neck dan van waerwyck dengan delapan buah kapal tiba di Banten. Pada saat itu hubungan Banten dengan Portugis memburuk sehingga kedatangan Belanda diterima dengan baik. Sikap Van Neck sangat hati-hati dan pandai mengambil hati para pembesar Banten. Pengaruhnya, ketiga buah kapalnya penuh dengan muatan rempah-rempah ketika pulang ke Negeri Belanda. Lima kapalnya yang lain menuju ke Maluku. Keberhasilannya dalam perdagangan rempah-rempah mendorong orang-orang Belanda datang ke Indonesia. Akibatnya, makin banyak bangsa Belanda yang datang ke Indonesia sehingga terjadi persaingan di antara pedagang-pedagang Belanda sendiri. Di Negeri Belanda, banyak berdiri persekutuan dagang dan pelayaran. Setiap persekutuan dagang saling bersaing secara ketat. Di samping itu, mereka masih harus menghadapi persaingan dagang dengan Portugis, Spanyol, dan Inggris. Akibatnya, mereka saling merugi dan berarti tujuan semula dari persekutuan dagang Belanda itu tidak tercapai.

Atas prakarsa pembesar Belanda yang bernama Olden Barneveldt, semua persekutuan dagang Belanda yang ada di Hindia (Indonesia) disatukan menjadi sebuah persekutuan besar. Persekutuan dagang besar di Hindia tersebut disebut Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC). VOC berdiri secara resmi pada tahun 1602 dan membuka kantor pertama di Banten (1602) yang dikepalai oleh Francois Wittert.

Tujuan dibentuknya VOC, antara lain sebagai berikut:
  • Menghindari persaingan yang tidak sehat sesama pedagang Belanda sehingga keuntungan dapat diperoleh secara maksimal.
  • Memperkuat posisi Belanda dalam menghadapi persaingan dengan bangsa Eropa ataupun bangsa Asia lainnya.
  • Membantu pemerintah Belanda yang sedang berjuang menghadapi Spanyol yang ingin menguasai wilayah Belanda.
  • Mendapatkan monopoli perdagangan, baik impor maupun ekspor.


Pada tahap permulaan, VOC belum mempunyai kelebihan apa pun dibandingkan dengan persekutuan dagang bangsa lain, baik dari segi modal, kapal, personalia, maupun persenjataannya. Pada saat itu VOC hanya memiliki satu kelebihan, yaitu memiliki tata kerja yang teratur, rapi, dan terkontrol dalam bentuk organisasi yang kuat. Kelebihan itu sangat menentukan keberhasilan setiap gerak langkah VOC. Belanda mengakui VOC terus bergerak maju. Tindakannya makin mantap dan pengaruhnya makin besar sehingga setapak demi setapak dapat mendesak bangsa-bangsa Eropa lainnya ke luar Indonesia. VOC juga berhasil mematahkan rantai perdagangan bangsa Indonesia yang sebenarnya besar, tetapi tanpa organisasi.

Masuknya Kekuatan Asing ke Wilayah Nusantara Indonesia Melalui Perdagangan Bangsa Portugis Spanyol dan Belanda Rating: 4.5 Posted By: Sekolah Online

0 comments:

Poskan Komentar