Kajian Teori, Mata Pelajaran SD SMP SMP SMA SMK MTS dan Mata Kuliah Mahasiswa

Jumat, 05 Agustus 2016

Makalah Perkembangan Kerajaan Hindu–Buddha di Indonesia Contoh Artikel Sejarah

Perkembangan Kerajaan Hindu–Buddha di Indonesia - Masuknya pengaruh kebudayaan Hindu–Buddha di Indonesia di bidang pemerintahan menyebabkan bergesernya pola pemerintahan dari bentuk sukusuku menjadi kerajaan. Kerajaan-kerajaan yang muncul akibat pengaruh Hindu– Buddha, antara lain sebagai berikut.


1. Perkembangan Kerajaan Hindu–Buddha di Indonesia (Kerajaan Kutai)

Banyak hasil penelitian yang menyebutkan bahwa kerajaan Hindu tertua di Indonesia adalah Kerajaan Kutai.

a. Bidang Politik
Keterlibatan Indonesia dengan dunia luar telah dimulai sejak abad pertama Masehi. Mereka telah mengadakan komunikasi, hubungan dagang, dan diduga juga ada yang menikah dengan orang-orang India. Pernikahan menyebabkan orang-orang India menetap di wilayah Indonesia dan mulailah terjadi perubahan.

Pengaruh datangnya kebudayaan India terutama kebudayaan Hindu menyebabkan Kutai yang semula merupakan kelompok masyarakat yang berbentuk suku berubah sistem pemerintahannya. Kepala pemerintahannya yang semula seorang kepala suku berubah menjadi raja. Bukti yang menunjukkan adanya pengaruh India dalam kelompok masyarakat Kutai adalah penggunaan nama yang berunsurkan India pada salah satu pemimpin mereka dalam salah satu prasasti peninggalannya.

Satu-satunya bukti yang dapat digunakan untuk menguak sejarah kerajaan Kutai sebagai kerajaan Hindu tertua di Indonesia, adalah ditemukannya 7 buah prasasti yupa yang diperkirakan berasal dari sekitar tahun 400M/abad 5M. Yupa adalah tugu batu peringatan dan tempat menambatkan hewan kurban dalam upacara-upacara kurban Hindu. Tulisan di yupa berhuruf Pallawa, berbahasa Sanskerta.

Pada salah satu prasasti yang ditemukan disebutkan bahwa Raja Kutai yang memerintah adalah Mulawarman, anak Aswawarman, cucu Kudungga. Berdasarkan analisis Prof. Dr. Purbacaraka, Kudungga adalah nama asli Indonesia. Dengan demikian, pada saat Kudungga memerintah, diduga pengaruh kebudayaan dari India belum datang. Namun, pada saat Aswawarman mulai memerintah tampaknya pengaruh Hindu mulai datang. Terbukti pada salah satu prasasti yang ditemukan, Aswawarman disebut Wangsakarta yang merupakan bahasa Sanskerta dari India. Wangsakarta berarti pembentuk keluarga.
Perkembangan Kerajaan Hindu–Buddha di Indonesia
Gambar Prasasti Yupa

b. Bidang Sosial Budaya
Masyarakat Kutai mulai mengenal tulisan dan kebudayaan dari luar karena pengaruh agama Hindu. Dengan demikian, Bangsa Indonesia sudah mengakhiri zaman Prasejarah dan mulai memasuki zaman sejarah sebab masyarakat Kutai sebagai bagian dari Indonesia telah mengenal kebudayaan tertulis. 

Bukti yang mendukung pernyataan tersebut adalah penemuan 7 buah yupa yang bertuliskan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Tulisan yang dipahat di yupa adalah tulisan yang lazim digunakan oleh kaum Brahmana di India Selatan.

Prasasti peninggalan Kerajaan Kutai yang ditulis menggunakan huruf Pallawa dan dalam bahasa Sanskerta memberi petunjuk bahwa ada sebagian penduduk Kutai yang hidup dalam suasana peradaban India. Bahasa Sanskerta bukanlah bahasa rakyat biasa, tetapi biasa digunakan oleh para brahmana. Kemungkinan di Kutai pun bahasa Sanskerta digunakan oleh para brahmana. Dengan demikian, para brahmana kemungkinan juga telah menjadi kelompok masyarakat tertentu di Kutai.

Kelompok masyarakat lain yang muncul akibat pengaruh kebudayaan India adalah kelompok ksatria. Di Kutai, kelompok ksatria terdiri atas kerabat Mulawarman atau terbatas pada orang-orang yang erat hubungannya dengan raja. Masyarakat di luar kelompok brahmana dan ksatria masih hidup dalam suasana dan tradisi asli nenek moyang masyarakat Kutai.

c. Bidang Ekonomi
Tidak begitu banyak keterangan yang didapat mengenai kegiatan ekonomi masyarakat di Kerajaan Kutai. Namun, diperkirakan mereka hidup dari hasil pertanian dan peternakan. Kemungkinan hidup dari hasil pertanian didasarkan pada letak Kerajaan Kutai juga berada di pedalaman Kalimatan dan dekat aliran Sungai Mahakam. Kehidupan peternakan juga menjadi andalan hidup mereka mengingat seringnya raja mengadakan upacara persembahan. Misalnya, raja pernah menghadiahkan 20.000 ekor sapi kepada para brahmana. Di Kerajaan Kutai sering juga dilakukan upacara Asmawedha atau upacara pelepasan kuda untuk menentukan batas-batas wilayah kerajaan.

2. Perkembangan Kerajaan Hindu–Buddha di Indonesia )Kerajaan Tarumanegara)

Kerajaan Hindu tertua kedua di Indonesia terdapat di Jawa Barat. Kerajaanitu bernama Tarumanegara. Dalam berita Cina, Tarumanegara disebut To-lomo. Berdirinya Kerajaan Tarumanegara diduga bersamaan dengan Kerajaan Kutai, yaitu pada abad ke-5 M. Bukti yang memperkuat pendapat itu adalah ditemukannya tujuh prasasti, yaitu Prasasti Citarum (Ciaruteun), Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Jambu, Prasasti Pasir Awi (Pasir Muara), dan Prasasti Muara Cianten (di Bogor); Prasasti Tugu (di Jakarta); Prasasti Lebak Munjul (di Banten Selatan). Ketujuh prasasti itu ditulis menggunakan huruf Pallawa dengan menggunakan bahasa Sanskerta.

a. Bidang Politik
Pada abad ke-5 M telah berdiri Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan Tarumanegara diperintah oleh Raja Purnawarman. Raja Purnawarman merupakan raja yang cakap dan berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu, rakyatnya hidup makmur dalam suasana aman dan tenteram.

Pengaruh agama Hindu dan adanya berita dari Cina membuktikan bahwa Kerajaan Tarumanegara telah mengadakan hubungan dengan luar negeri. Adanya hubungan dengan luar negeri menyebabkan kehidupan masyarakat Tarumanegara bertambah maju, baik bidang ilmu pengetahuan maupun bidang perdagangan.

b. Bidang Sosial Budaya
Hasil peninggalan kebudayaan dari Kerajaan Tarumanegara berupa arca dan prasasti. Peninggalan kebudayaan berupa tujuh buah prasasti.

Prasasti Ciaruteun ditemukan di daerah Ciaruteun, Jawa Barat. Dalam Prasasti Ciaruteun, terdapat bekas pahatan tapak kaki yang menerangkan bahwa sepasang tapak kaki yang dipahatkan tersebut milik Raja Tarumanegara yang digambarkan seperti tapak kaki Dewa Wisnu.

Prasasti Kebun Kopi ditemukan di Kampung Muara Hilir, Kecamatan Cibungbulang. Di situ tergambar dua tapak kaki gajah yang diidentikkan dengan gajah Airawata (milik Dewa Wisnu).

Prasasti yang terpenting adalah Prasasti Tugu yang ditemukan di Cilincing, Jakarta. Prasasti itu berisi, antara lain tentang penggalian sebuah saluran air sepanjang 6.112 tombak (11 km) yang diberi nama Gomati. Pekerjan itu dilakukan pada pemerintahan yang ke-22 dan selesai dalam 21 hari. Prasasti itu juga menyebutkan penggalian Sungai Candrabhaga atau Sungai Bekasi sekarang (menurut penafsiran Prof. Dr. Purbacaraka).

Prasasti Jambu ditemukan di Bukit Koleangkak, tepatnya 30 km sebelah barat Bogor. Isi prasasti itu mengagungkan dan menyanjung keperkasaan Raja Purnawarman, baik dalam pemerintahan maupun dalam peperangan.

Prasasti Pasir Awi dan Prasasti Muara Cianten belum dapat terbaca. Sementara itu, Prasasti Lebak ditemukan pada tahun 1947. Meskipun sudah terbaca, prasasti itu juga belum dapat diketahui maknanya.

Di samping tujuh prasasti itu, ditemukan pula Arca Rajarsi dan dua Arca Wisnu dari Cibuaya yang mempunyai langgam seni Pallawa, India Selatan dari abad ke-7 sampai dengan ke-8 M. Arca itu memiliki persamaan dengan arca yang ditemukan Malaya (Malaysia), Siam (Thailand), dan Kampuchea.

Diperkirakan kehidupan sosial masyarakat Tarumanegara bertumpu pada kegiatan pertanian. Aspek gotong royong menjadi pola hidup mereka. Pembuatan saluran air Gomati merupakan salah satu contoh kehidupan gotong royong yang mereka lakukan. Pemberian 1.000 ekor hewan sapi dari Raja Purnawarman kepada para brahmana juga menunjukkan bahwa peternakan merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat Tarumanegara.

d. Bidang Ekonomi
Pada masa pemerintahan Raja Purnawarman, rakyat hidup aman dan teratur. Mata pencaharian penduduknya adalah pertanian. Selain itu, untuk kepentingan rakyat, Raja Purnawarman memerintahkan penggalian saluran air yang diberi nama Gomati dengan panjang lebih kurang 11 km. Manfaat saluran tersebut untuk mengairi sawah dan mencegah bahaya banjir. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tingkat kehidupan masyarakat Tarumanegara sudah cukup tinggi.

3. Perkembangan Kerajaan Hindu–Buddha di Indonesia (Kerajaan Sriwijaya)

Berdasarkan beberapa prasasti yang ditemukan serta berita dari Cina dan Arab dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Sriwijaya berdiri pada akhir abad ke- 7. Berdasarkan berita dari Cina yang dibuat pada masa Dinasti T’ang disebutkan bahwa di pantai timur Sumatra Selatan telah berdiri sebuah kerajaan yang disebut She-li-fo-she. Nama kerajaan itu diidentikkan dengan Sriwijaya. Pendeta Buddha dari Cina, I Tsing juga pernah singgah di Sriwijaya dalam perjalanannya ke India pada tahun 671 M. I Tsing datang lagi ke Sriwijaya pada tahun 685 M untuk menerjemahkan kitab suci agama Buddha selama empat tahun di bawah bimbingan Sakyakirti. Jadi, pada abad ke-7 Sriwijaya telah berkembang menjadi pusat kegiatan ilmiah agama Buddha di Asia Tenggara.

Sekitar tahun 692 M Sriwijaya telah mampu menaklukkan Melayu dan Tarumanegara. Hal itu diperkuat dengan adanya keterangan pada lima prasasti yang dikeluarkan Raja Sriwijaya yang ditulis dengan huruf Pallawa dalam bahasa Melayu Kuno.

Prasasti tertua tentang Sriwijaya ditemukan di Kedukan Bukit, tepi Sungai Tatang dekat Palembang. Prasasti itu berangka tahun 683 M dan terdiri atas 10 baris kalimat. Prasasti itu berisi cerita bahwa pada tahun 683 M ada orang besar bernama Dapunta Hiyang mengadakan perjalanan suci (siddhayatra) dengan membawa 20.000 tentara berangkat dari Minangatamwan naik perahu. Sementara itu, tentara sebanyak 1.312 berjalan darat datang di Melayu dan akhirnya membuat Kerajaan Sriwijaya.

Isi Prasasti Kedukan Bukit yang patut disangsikan adalah jumlah tentara yang mencapai angka 20.000. Benarkah jumlah tersebut? Jika dikaitkan dengan jumlah penduduk pada waktu itu yang belum banyak, kiranya angka 20.000 itu bukan jumlah yang sebenarnya, melainkan hanya untuk menunjukkan betapa banyaknya tentara yang dikirim sehingga sulit dihitung. Hal itu diperkuat oleh isi Prasasti Kedukan Bukit pada baris ke-6 yang menyebutkan bahwa 200 orang menggunakan perahu dan 1.312 berjalan di darat.

Berdasarkan isi Prasasti Kedukan Bukit itu, Prof. Dr. Purbacaraka menyimpulkan bahwa Dapunta Hyang berasal dari Minangkabau. Jika hal itu benar, Sriwijaya berdiri sekitar tahun 685 karena pada tahun 670–673 Sriwijaya tidak mengirimkan utusan ke Cina.

Prasasti berikutnya ditemukan di Talang Tuo, dekat Palembang. Prasasti itu terdiri atas 14 baris kalimat dan berangka tahun 606 Saka atau 684 M. Prasasti itu menyebutkan bahwa atas perintah Dapunta Hyang Sri Jayanaga telah dibuat taman yang disebut Srikesetra untuk kemakmuran semua makhluk.Di samping itu, juga ada doa-doa yang bersifat Buddha Mahayana.

Prasasti lainnya ditemukan di Kotakapur, Bangka, dan Karang Berahi (Jambi  Hulu). Kedua prasasti itu berangka tahun 686 M dan sebagian besar isinya sama, yaitu memohon kepada dewa agar menjaga keamanan dan keselamatan Sriwijaya beserta rajanya serta menghukum setiap orang yang bermaksud jahat dan mendurhakai kekuasaan Sriwijaya. Isi prasasti yang paling menarik adalah pada baris ke-10 yang berbunyi, “Sumpah ini dipahat di batasnya kekuasaan Sriwijaya yang sangat berusaha menaklukkan bumi Jawa yang tidak tunduk kepada Sriwijaya.” Dari prasasti itu jelas bahwa Sriwijaya memang berusaha keras memperluas kekuasaannya dengan menundukkan kerajaan di sekitarnya, seperti Melayu, Tulangbawang, dan Tarumanegara (Bumi Jawa) sehingga pada waktu itu tidak sempat mengirimkan utusannya ke Cina.

Prasasti yang ke-5 ditemukan di Palas Pasemah, Lampung Selatan. Prasasti itu menyebutkan bahwa daerah Lampung Selatan pada waktu itu sudah diduduki Sriwijaya. Raja Sriwijaya menjatuhkan kutukan yang seram bagi mereka yang melakukan kejahatan dan tidak taat terhadap perintahnya.

a. Bidang Politik
Zaman keemasan Sriwijaya terwujud pada abad ke-8 dan ke-9 ketika diperintah Balaputradewa. Menurut Prasasti Ligor (775 M), Sriwijaya saat itu diperintah oleh Raja Dharmasetu dan telah mendirikan pangkalan di Semenanjung Malaya (daerah Ligor). Prasasti itu juga menyebutkan seorang raja yang bernama Wisnu dari keluarga Syailendra. Nama raja itu dijumpai pada prasasti (Jawa Tengah) dengan nama Sanggramadananjaya (Dananjaya atau Wisnu).

Berdasarkan Prasasti Nalanda (India) diketahui bahwa Balaputradewa adalah cucu seorang raja dari Jawa yang berasal dari keluarga Syailendra (Sri Wirawairimathana). Ayahnya bernama Samaragrawira atau Samaratungga yang kawin dengan Dewi Tara putri dari Raja Dharmasetu (Sriwijaya). Samaratungga memerintah tahun 824 M.

Dinasti Syailendra terdesak oleh Dinasti Sanjaya. Balaputradewa yang merupakan keturunan Dinasti Syailendra melarikan diri ke Sriwijaya dan bertakhta menjadi raja. Sejak pemerintahan Dharmasetu, Sriwijaya berhasil membangun negaranya menjadi besar. Dengan armada laut yang kuat, Sriwijaya berhasil menguasai jalur-jalur perdagangan antara India dan Cina, baik di Selat Malaka, Selat Sunda, maupun di Semenanjung Malaya dan Tanah Genting Kra. Sejak saat itu, Sriwijaya tumbuh menjadi kerajaan maritim yang besar di Asia Tenggara dan menguasai perdagangan laut.

1) Hubungan Sriwijaya dengan Kerajaan Pala
Berdasarkan sebagian isi Prasasti Nalanda disebutkan bahwa setelah naik takhta, Balaputradewa segera menjalin hubungan dengan Kerajaan Pala yang diperintah oleh Raja Dewapala. Hubungan itu mengandung tiga maksud, yaitu:
  • membentengi Kerajaan Sriwijaya agar lebih kuat;
  • meningkatkan hubungan perdagangan;
  • memperdalam pengetahuan agama Buddha karena di India telah berdiri Perguruan Tinggi Nalanda.


Karena hubungan baik itu, banyak biksu dari Sriwijaya yang belajar di Nalanda. Untuk keperluan itulah, Raja Dewapala berkenan memberikan hadiah tanah kepada Balaputradewa untuk pembangunan wihara. Wihara itu digunakan bagi kepentingan para peziarah dari Suwarnadwipa (Sumatra) yang sedang belajar agama Buddha dan pengetahuan lainnya di Nalanda.

Setelah menyelesaikan pelajarannya di Nalanda, para biksu pulang dan mengajarkan ilmunya di Sriwijaya. Oleh karena itu, Sriwijaya tumbuh menjadi pusat pengajaran agama Buddha terbesar di Asia Tenggara. Ini terbukti dengan datangnya pendeta Buddha dari Tibet bernama Atisa pada tahun 1011–1023 untuk memperdalam agama Buddha di bawah asuhan pendeta tertinggi di Sriwijaya, yaitu Dharmakirti.

2) Hubungan Sriwijaya dengan Kerajaan Colamandala
Sampai kapan Balaputradewa memerintah, tidak ada bukti-bukti tertulis yang menjelaskan. Akan tetapi, pada tahun 990 Sriwijaya diserang oleh Raja Dharmawangsa dari Jawa Timur. Pada waktu itu Sriwijaya dipimpin Sri Cudamaniwarmadewa. Setelah raja itu mangkat, digantikan oleh putranya, yaitu Marawijayottunggawarman. Ia mengaku keturunan Raja Syailendra. Ia tidak mau mengakui kekuasaan Dharmawangsa. Untuk memperkuat kedudukannya, ia menjalin hubungan dengan Kerajaan Colamandala (India Selatan) yang saat itu diperintah oleh Rajakesariwarman Raja-Raja I.

Hubungan Sriwijaya dengan Kerajaan Colamandala itu berjalan baik sehingga Raja Sriwijaya oleh Raja Colamandala diperbolehkan mendirikan wihara di daerah Nagipattana pada tahun 1006. Berkat kerja sama dengan Colamandala, kekuasaan dan kewibawaan Sriwijaya pulih sehingga dapat menguasai kembali jalur perdagangan India–Cina melalui Selat Malaka.

Dalam perkembangan selanjutnya, kebesaran Sriwijaya dianggap menyaingi dan merugikan perdagangan Colamandala. Sejak saat itu, hubungan kedua kerajaan mulai retak, bahkan berubah menjadi permusuhan. Ketegangan itu terjadi ketika Kerajaan Colamandala diperintah oleh Rajendracoladewa dan Sriwijaya diperintah oleh Sri Sanggramawijayottunggawarman. Pada tahun 1023 Sriwijaya dan Kedah diserang oleh Rajendracoladewa dan diulangi lagi pada tahun 1030. Raja Sriwijaya dapat ditawan. Hal itu diterangkan oleh Prasasti Tanjore yang berangka tahun 1030.

Serangan Rajendracoladewa itu tidak bermaksud untuk menduduki dan menjajah Sriwijaya. Namun, serangan itu hanya untuk menghancurkan kekuasaan laut Sriwijaya. Tujuannya, agar India dapat menguasai lagi jalur perdagangannya dengan Cina melalui Selat Malaka dan Selat Sunda.

3) Hubungan Sriwijaya dengan Cina
Sriwijaya juga menjalin hubungan dengan Negeri Cina. Sriwijaya sering mengirim utusannya kepada Kaisar Cina dengan membawa berbagai macamhadiah. Hal itu dimaksudkan agar Kaisar Cina tidak menyerang Sriwijaya. Para pendeta Buddha dari Cina pun banyak yang belajar agama Buddha di Sriwijaya, misalnya I Tsing.

Raja Sriwijaya, bahkan pada abad ke-9 mengirimkan utusannya ke Cina untuk ikut serta memperbaiki Kuil Taqist di Kanton. Dengan hubungan diplomasi yang baik, Sriwijaya ternyata dapat terhindar dari kemungkinan serbuan pasukan Cina.

b. Bidang Sosial Budaya
Kerajaan Sriwijaya karena letaknya yang strategis dalam lalu lintas perdagangan internasional menyebabkan masyarakatnya lebih terbuka dalam menerima berbagai pengaruh asing. Masyarakat Sriwijaya juga telah mampu mengembangkan bahasa komunikasi dalam dunia perdagangannya. Kemungkinan bahasa Melayu Kuno telah digunakan sebagai bahasa pengantar terutama dengan para pedagang dari Jawa Barat, Bangka, Jambi, dan Semanjung Malaysia.

Penduduk Sriwijaya juga bersifat terbuka dalam menerima berbagai kebudayaan yang datang. Salah satunya adalah mengadopsi kebudayaan India, seperti nama-nama India, adat istiadat, serta tradisi dalam agama Hindu. Oleh karena itu, Sriwijaya pernah menjadi pusat pengembangan ajaran Buddha di Asia Tenggara.

c. Bidang Ekonomi
Untuk menjaga keamanan wilayah lautnya yang luas, Sriwijaya membangun armadanya dengan kuat. Dengan demikian, perdagangan yang berlangsung di Sriwijaya dapat berjalan aman sehingga rakyatnya dapat hidup aman dan makmur. Sebagian besar penduduk Sriwijaya hidup dari hasil perdagangan dan pelayaran. Dari wilayah lautnya yang luas, Sriwijaya banyak memperoleh bea cukai dari kapal-kapal dagang yang melintasi atau singgah di pelabuhan milik Sriwijaya.

Sriwijaya menjual barang-barang produksinya, seperti emas, perak, gading, penyu, kemenyan, kapur barus, lada, dan damar. Para pedagang asing dapat menukarnya dengan aneka porselin, kain katun, dan sutra.

Kemajuan pesat dari Kerajaan Sriwijaya selain karena rajanya cakap, gagah berani, dan bijaksana, juga didukung oleh faktor yang menguntungkan. Faktorfaktor itu, antara lain sebagai berikut.
  1. Letaknya strategis berada pada jalur perdagangan India–Cina.
  2. Sriwijaya telah menguasai Selat Malaka, Selat Sunda, Semenanjung Malaya, dan Tanah Genting Kra sebagai pusat perdagangan.
  3. Hasil bumi Sriwijaya dan sekitarnya sebagai mata perdagangan yang berharga, terutama rempah-rempah dan emas tersedia banyak.
  4. Armada lautnya kuat sehingga mampu menjalin hubungan dan kerja sama dengan Kerajaan India dan Cina.
  5. Pendapatan Sriwijaya melimpah ruah yang berasal dari
    • bea cukai barang dagangan yang keluar-masuk,
    • bea cukai kapal asing yang melalui bandarnya,
    • upeti para pedagang dan raja taklukan, dan
    • hasil bumi serta hasil perdagangan sendiri.

Gambar Peta daerah pengaruh dan kawasan maritim Kerajaan Sriwijaya (Abad VIII–XI)

Menurut berita dari Cina (Chau-Yu-Kua), Kerajaan Sriwijaya mengalami masa kemunduran pada akhir abad ke-12. Hal itu dikuatkan oleh kitab sejarah dari Dinasti Sung yang menyatakan bahwa Sriwijaya mengirimkan utusannya yang terakhir pada tahun 1178.

Penyebab kemunduran Sriwijaya, antara lain sebagai berikut.
  1. Berulang kali diserang oleh Kerajaan Colamandala dari India.
  2. Kerajaan taklukan Sriwijaya banyak yang melepaskan diri dari kekuasaannya, misalnya Ligor, Tanah Kra, Kelantan, Pahang, Jambi, dan Sunda.
  3. Terdesak oleh perkembangan kerajaan di Thailand yang meluaskan pengaruhnya ke arah selatan (Semenanjung Malaya).
  4. Terdesak pengaruh Kerajaan Singasari yang menjalin hubungan dengan Kerajaan Melayu (Jambi).
  5. Mundurnya perekonomian dan perdagangan Sriwijaya karena bandarbandar pentingnya sudah melepaskan diri dari Sriwijaya.
  6. Kemungkinan juga tidak adanya tokoh yang cakap dan berwibawa untuk memimpin kerajaan sebagai akibat dari kurangnya pengaderan.


4. Perkembangan Kerajaan Hindu–Buddha di Indonesia (Kerajaan Mataram Kuno)

Berdasarkan keterangan pada Prasasti Canggal yang ditemukan di Desa Canggal (sebelah barat Magelang), diketahui secara jelas kehidupan politik di Mataram Kuno. Prasasti Canggal diperkirakan dibuat pada tahun 732 Masehi, ditulis dengan huruf Pallawa dengan menggunakan bahasa Sanskerta.

Gambar Peta Wilayah Kerajaan Mataram Kuno

a. Kehidupan Politik
Sebelum Sanjaya berkuasa, Mataram Kuno diperintah oleh Raja Sanna (paman Sanjaya). Berdasarkan kitab Carita Parahyangan, masa pemerintahan Sanna dan Sanjaya dapat diketahui. Berdasarkan Prasasti Sojomerto diketahui bahwa Sanjaya adalah keturunan Raja Syailendra yang beragama Syiwa, tetapi menyuruh anaknya, Rakai Panangkaran, beralih ke agama Buddha (Syaila artinya gunung tempat bersemayam dewa; indra artinya raja).

Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya. Isi utamanya adalah memperingati didirikannya sebuah lingga (lambang Syiwa) di atas sebuah bukit di daerah Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya. Daerah ini letaknya di sebuah pulau mulia, Jawadwipa yang kaya raya akan hasil bumi, terutama padi dan emas. Prasasti Canggal ditemukan di halaman sebuah candi yang sudah runtuh di Gunung Wukir dengan candrasengkala, sruitiindriyarasa (artinya 654 Saka atau 732 Masehi).

Selain dari Prasasti Canggal, nama Sanjaya juga tercantum pada Prasasti  Mantyasih (Prasasti Kedu) yang dikeluarkan oleh Raja Dyah Balitung. Di dalam prasasti itu dituliskan nama raja yang pernah berkuasa di Mataram Kuno sejak Raja Sanjaya sampai dengan Balitung.

Urutan Raja Mataram Kuno adalah sebagai berikut:
1) Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya,
2) Sri Maharaja Rakai Panangkaran,
3) Sri Maharaja Rakai Panunggalan,
4) Sri Maharaja Rakai Warak,
5) Sri Maharaja Rakai Garung,
6) Sri Maharaja Rakai Pikatan,
7) Sri Maharaja Rakai Kayuwangi,
8) Sri Maharaja Rakai Watuhumalang, dan
9) Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung.

Kerajaan Mataram Kuno berkembang pesat karena didukung oleh beberapa faktor berikut ini.
1) Raja-rajanya cukup arif dan bijaksana sehingga menjadi panutan yang baik.
2) Ada kerja sama yang baik antara raja dan para brahmana atau biksu.
3) Wilayahnya amat subur sehingga kehidupan rakyatnya makmur.
4) Ada toleransi yang tinggi antara pemeluk agama Hindu dan Buddha sehingga rakyat hidup rukun berdampingan.
5) Mataram telah menjalin hubungan dengan kerajaan di seberang lautan, misalnya Sriwijaya, Siam (Thailand), dan India.

Sanjaya adalah seorang raja yang besar, gagah berani, dan bijaksana serta sangat toleran terhadap agama lain. Karena kewibawaannya, Sanjaya bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Raja Sanjaya ternyata mempunyai arti dan pengaruh yang besar kepada raja-raja penggantinya sampai sekitar abad ke-10.

Raja Sanjaya sebelum wafat, menderita sakit yang sangat parah karena ingin mematuhi perintah gurunya. Putranya yang bernama Sankhara atau mungkin lengkapnya Rakai Panangkaran Dyah Sankhara Sri Sanggramadhanjaya karena trauma dan takut terjadi seperti ayahnya kemudian meninggalkan agama Syiwa beralih menjadi pemeluk Buddha Mahayana.

Mulai kapan raja ini memerintah, tidak jelas. Dari berbagai sumber, disebutkan bahwa Raja Panangkaran lebih progresif dan bijaksana daripada Sanjaya sehingga Mataram Kuno lebih cepat berkembang. Daerah-daerah sekitar Mataram Kuno segera ditaklukkannya, seperti Kerajaan Galuh di Jawa Barat dan Kerajaan Melayu di Semenanjung Malaya. Selain itu, Selat Malaka pun ingin dikuasainya. Daerah-daerah itu tidak diperlakukan sebagai jajahannya, tetapi berkembang maju dengan bimbingan dan kerja sama dengan Mataram Kuno.

Pada tahun 778 M Raja Panangkaran atau Maharaja Tejah Purnapana Mustika membangun bangunan suci (candi) untuk Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta. Raja kemudian menghadiahkan Desa Kalasan kepada para sanggha (penganut Buddha). Prasasti itu ditulis dengan huruf Pranagari dalam bahasa Sanskerta dan berangka 778 M. Candi Kalasan itu sampai sekarang masih berdiri megah, terletak di Desa Kalasan (12 km ke arah timur dari Yogyakarta).

Sejak pemerintahan Raja Panangkaran, keluarga Syailendra terbagi menjadi dua kelompok penganut agama. Sebagian tetap menganut agama Hindu Syiwa dan yang lain menganut agama Buddha. Meskipun demikian, mereka hidup berdampingan secara damai.

Raja-raja Mataram Kuno beragama Buddha, berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan yang berpusat di Lembah Sungai Progo (Magelang). Daerah itu sangat subur dan dikelilingi oleh gunung-gunung berapi yang banyak memancarkan mata air sehingga sangat ideal untuk kegiatan pertanian. Sungainya penuh terisi oleh batu-batu andesit yang besar-besar dan keras sebagai modal utama dalam membangun candi-candi.

Raja-raja penganut agama Buddha keturunan Syailendra yang pernah memerintah di Jawa Tengah, antara lain Raja Bhanu, Raja Wisnu (Sri Dharmatungga), Raja Indra (Sri Sanggramadananjaya), Raja Samaratungga, dan Ratu Pramodhawardani. Raja-raja itu berkuasa selama satu abad (750–850 M). Saat itu menjadi masa yang cemerlang (zaman keemasan) bagi Mataram Kuno (Buddha). Hal itu dibuktikan dengan pembangunan candi Buddha yang megah, seperti Candi Kalasan, Candi Sewu, Candi Sari, Candi Pawon, Candi Mendut, dan Candi Borobudur.

Untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya, Mataram Kuno menjalin hubungan dengan kerajaan tetangga, misalnya Sriwijaya, Siam, dan India. Selain itu, Mataram Kuno juga menggunakan sistem perkawinan politik. Misalnya, pada masa pemerintahan Samaratungga berusaha menyatukan kembali Wangsa Syailendra dan Wangsa Sanjaya dengan cara anaknya yang bernama Pramodhawardhani (dari Wangsa Syailendra) dinikahkan dengan Rakai Pikatan (Wangsa Sanjaya).

Raja-raja Mataram Kuno beragama Hindu mula-mula berkuasa di Jawa Tengah bagian utara, terutama di sekitar Pegunungan Dieng. Hal itu dapat dibuktikan dengan adanya kompleks bangunan candi Hindu di Dataran Tinggi Dieng, seperti Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Arjuna, dan Candi Sembadra. Kompleks Candi Dieng dibangun sekitar tahun 778– 850. Selain itu, dibangun pula Kompleks Candi Gedong Sanga yang terletak di sebelah selatan Kota Semarang sekarang.

Berkat kecakapan dan keuletan Rakai Pikatan, semangat kebudayaan Hindu dapat dihidupkan kembali. Kekuasaannya pun bertambah luas meliputi seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Rakai Pikatan segera memulai pembangunan candi Hindu yang lebih besar dan indah, yaitu Candi Prambanan (Candi Lara Jonggrang) di Desa Prambanan. Ketika Rakai Pikatan wafat, pembangunan Kompleks Candi Prambanan belum selesai. Pekerjaan diteruskan para penggantinya dan baru selesai pada pemerintahan Raja Daksa sekitar tahun 915. Candi Hindu lainnya adalah Candi Sambisari, Candi Ratu Baka, dan CandiIjo dan candi Barong.

Pengganti Rakai Pikatan adalah Rakai Kayuwangi yang banyak menghadapi persoalan rumit sehingga timbullah benih perpecahan di antara keluarga kerajaan. Zaman keemasan Mataram Kuno mulai memudar. Setelah Rakai Kayuwangi mangkat, perang saudara pun tidak dapat terelakkan.

Menurut Prasasti Munggu Antan, pengganti Rakai Kayuwangi adalah Rakai Gurunwangi (886) dan Rakai Limus Dyah Dawendra (890). Akan tetapi, berdasarkan Prasasti Kedu, pengganti Rakai Kayuwangi adalah Rakai Watuhumalang yang berputra, Dyah Balitung.

Dyah Balitung memerintah sampai tahun 910. Dyah Balitung banyak meninggalkan prasasti (20 buah), sebagian ditemukan di Jawa Timur. Ada prasasti yang menyebutkan bahwa Raja Balitung pernah menyerang Bantan (Bali). Prasasti yang penting adalah Prasasti Mantyasih (Kedu) yang berisi silsilah raja-raja Mataram Kuno dari Sanjaya sampai dengan Dyah Balitung. Pada masa pemerintahan Raja Balitung dikenal tiga jabatan penting, yaitu rakryan i hino (pejabat tinggi sesudah raja), rakryan i halu, dan rakryan i sirikan. Ketiganyamerupakan tritunggal.

Pengganti Balitung adalah Daksa dengan gelar Sri Maharaja Sri Daksottama  Bahubajra Pratipaksaksaya. Sebelumnya, ia menjabat rakryan i hino. Ia memerintah dari tahun 913 sampai dengan 919. Pada masa pemerintahan Raja Daksa inilah Candi Prambanan berhasil diselesaikan.

Pada tahun 919 Daksa digantikan oleh Tulodhong yang bergelar Sri Maharaja Rakai Layang Dyah Tulodhong Sri Sajanasan mattanuragatunggadewa. Masa pemerintahan Tulodhong sangat singkat dan tidak terjadi hal-hal yang menonjol.

Pengganti Tulodhong ialah Wawa. Ia naik takhta pada tahun 924 dengan gelar Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wajayalokanamottungga. Sri Baginda dibantu Empu Sindok Sri Isanawikrama yang berkedudukan sebagai mahamantri i hino.

b. Kehidupan Sosial
Kerajaan Mataram Kuno meskipun dalam praktik keagamaannya terdiri atas agama Hindu dan agama Buddha, masyarakatnya tetap hidup rukun dan saling bertoleransi. Sikap itu dibuktikan ketika mereka bergotong royong dalam membangun Candi Borobudur. Masyarakat Hindu yang sebenarnya tidak ada kepentingan dalam membangun Candi Borobudur, tetapi karena sikap toleransi dan bergotong royong yang telah mendarah daging turut juga dalam pembangunan tersebut.

Keteraturan kehidupan sosial di Kerajaan Mataram Kuno juga dibuktikan adanya kepatuhan hukum pada semua pihak. Peraturan hukum yang dibuat oleh penduduk desa ternyata juga dihormati dan dijalankan oleh para pegawai istana. Semua itu bisa berlangsung karena ada hubungan erat antara rakyat dan kalangan istana.

c. Kehidupan Sosial dan Ekonomi
Pusat Kerajaan Mataram Kuno terletak di Lembah Sungai Progo, meliputi dataran Magelang, Muntilan, Sleman, dan Yogyakarta. Daerah itu amat subur sehingga rakyat menggantungkan kehidupannya pada hasil pertanian. Usaha untuk mengembangkan dan meningkatkan hasil pertanian telah dilakukan sejak masa pemerintahan Kayuwangi.

Usaha perdagangan juga mulai mendapat perhatian ketika Raja Balitung berkuasa. Pada Prasasti Purworejo (900 M) disebutkan bahwa raja telah memerintahkan untuk membuat beberapa pusat perdagangan. Keterangan lain juga didapatkan dari Prasasti Wonogiri (903 M) yang menyebutkan bahwa penduduk di sekitar kanan-kiri aliran Sungai Bengawan Solo diperintahkan untuk menjamin kelancaran arus lalu lintas perdagangan melalu aliran sungai tersebut. Sebagai imbalannya, penduduk desa di kanan-kiri sungai tersebut dibebaskan dari pungutan pajak. Lancarnya pengangkutan perdagangan melalui sungai tersebut dengan sendirinya akan meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat Mataram Kuno.

d. Kehidupan Kebudayaan
Semangat kebudayaan raja-raja Mataram Kuno sangat tinggi. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya peninggalan berupa prasasti dan candi. Prasasti peninggalan dari Kerajaan Mataram Kuno, seperti Prasasti Canggal (tahun 732 M), Prasasti Kelurak (tahun 782 M), dan Prasasti Mantyasih (Kedu). Selain itu, juga dibangun candi Hindu, seperti Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Nakula, Candi Prambanan, Candi Sambisari, Candi Ratu Baka, dan Candi Barong. Selain candi Hindu, dibangun pula candi Buddha, misalnya Candi Borobudur, Candi Kalasan, Candi Sewu, Candi Sari, Candi Pawon, dan Candi Mendut.

e. Masa Kemunduran Kerajaan Mataram Kuno
Pada masa pemerintahan Raja Balitung (907) wilayah Kerajaan Mataram Kuno juga telah meliputi daerah-daerah di Jawa Timur terutama Lembah Sungai Brantas yang subur. Daerah itu amat penting untuk pertanian dan pelayaran sungai menuju Laut Jawa. Sementara itu, kedudukan ibu kota Mataram Kuno makin tidak menguntungkan. Hal ini disebabkan:
1) tidak memiliki pelabuhan laut sehingga sulit berhubungan dengan dunia luar,
2) sering dilanda bencana alam oleh letusan Gunung Merapi,
3) sering terjadi perebutan kekuasaan sehingga kewibawaan kerajaan berkurang, dan
4) mendapat ancaman serangan dari Kerajaan Sriwijaya.

Oleh karena itu, pada tahun 929 ibu kota Mataram Kuno dipindahkan ke Jawa Timur (di bagian hilir Sungai Brantas) oleh Empu Sindok. Kerajaan itu kemudian dikenal sebagai Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur.

5. Perkembangan Kerajaan Hindu–Buddha di Indonesia (Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur)

Beberapa ahli sejarah berpendapat tentang alasan perpindahan Kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur oleh Empu Sindok. Pertama, karena adanya serangan dari Sriwijaya sebagai bentuk hukuman kepada bhumi Jawa. Kedua, adanya bencana alam berupa gunung meletus, mengingat banyak kita temukan gunung berapi di Jawa Tengah.

Kerajaan baru yang dipindahkan Empu Sindok dari Jawa Tengah ke Jawa Timur tetap bernama Mataram. Hal itu seperti yang disebutkan dalam Prasasti Paradah yang berangka tahun 865 Saka (943 M) dan Prasasti Anjukladang yang berangka tahun 859 Saka (973 M). Letak ibu kota kerajaannya tidak ada sumber yang pasti menyebutkan. Berdasarkan Prasasti Paradah dan Prasasti Anjukladang disebutkan bahwa ibu kota Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur adalah Watugaluh. Kemungkinan ibu kota itu berada di Desa Watugaluh sekarang, dekat Jombang di tepi Sungai Brantas. Akan tetapi, berdasarkan Prasasti Taryyan yang berangka tahun 851 Saka (929 M) disebutkan bahwa ibu kota Mataram Kuno di Jawa Timur adalah Tomwlang. Diperkirakan nama Tomwlang identik dengan nama desa di Jombang (Jawa Timur).

a. Bidang Politik
Silsilah raja yang pernah memerintah Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur, antara lain sebagai berikut.

1) Empu Sindok (929–947)
Setelah naik takhta pada tahun 929, Empu Sindok bergelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmattunggadewa. Dia naik takhta karena menikahi putri Wawa. Namun, Empu Sindok menganggap dirinya sebagai pembentuk dinasti baru, yaitu Dinasti Isana. Empu Sindok merupakan peletak batu pertama berdirinya kerajaan besar di Jawa Timur.

Empu Sindok berpengalaman mengatur kerajaan sehingga dapat menjalankan roda pemerintahan dengan lancar, aman, dan tertib. Dengan demikian, perekonomian rakyatnya pun makin baik.

Empu Sindok banyak meninggalkan prasasti. Bahkan, ia pun merestui usaha menghimpun kitab suci agama Buddha Tantrayana. Ini membuktikan betapa besar toleransinya terhadap agama lain dan perhatiannya terhadap bidang sastra. Kitab tersebut berjudul Sang Hyang Kamahayanikan yang berisi ajaran dan tata cara beribadah agama Buddha.

2) Sri Isanatunggawijaya
Setelah Empu Sindok wafat, tampuk pemerintahan dipegang oleh putrinya, Sri Isanatunggawijaya yang menikah dengan Raja Lokapala. Perkawinan tersebut melahirkan Makutawangsawardhana yang nantinya menggantikan ibunya memerintah di Watugaluh atau di Tomwlang.

Masa pemerintahan dan apa yang diperbuat oleh kedua raja tersebut tidakbanyak yang kita ketahui. Makutawangsawardhana mempunyai putri cantik, yaitu Mahendradatta (Gunapriyadharmapatni). Putri itu kemudian menikah dengan Raja Udayana dari keluarga Warmadewa yang memerintah di Bali.

3) Dharmawangsa (991–1016)
Pengganti Raja Makutawangsawardhana ialah Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikramatunggadewa. Siapa sebenarnya Dharmawangsa itu sampai sekarang belum diketahui dengan pasti. Ada yang menduga bahwa Dharmawangsa adalah kakak Mahendradatta putra Makutawangsawardhana.

Nama Dharmawangsa dikenal dari kitab Wirataparwa yang disadur ke dalam bahasa Jawa Kuno atas perintah Dharmawangsa. Kitab Wirataparwa merupakan bagian dari kitab Mahabharata yang terdiri atas 18 bagian. Isi pokok kitab itu  adalah kisah perang besar antarkeluarga Bharata, yaitu Pandawa dan Kurawa. Kitab Mahabharata digubah oleh Pendeta Wyasa Kresna Dwipayana. Di sampingitu, pada tahun 991 disusun kitab hukum Siwasasana.

Dharmawangsa adalah seorang raja yang cakap dan punya cita-cita besar. Ia ingin menguasai seluruh Jawa dan pulau-pulau di sekitarnya. Dharmawangsa juga ingin mengembangkan perekonomiannya melalui perdagangan laut. Untuk mewujudkan cita-citanya, Dharmawangsa segera membangun armada laut yang kuat. Pada masa itu pada saat bersamaan di Sumatra telah berdiri Kerajaan Sriwijaya yang telah berkembang besar dan menguasai jalur perdagangan Selat Malaka, Semenanjung Malaya, Selat Sunda, dan pesisir barat Sumatra. Hal itu dianggap sebagai saingan berat dan penghalang cita-cita Dharmawangsa. Oleh karena itu, Sriwijaya harus dimusnahkan.

Pada tahun 990 Dharmawangsa mengirimkan pasukannya untuk menyerbu Sriwijaya dan Semenanjung Malaya. Pasukan Dharmawangsa berhasil menduduki beberapa daerah pantai Sriwijaya dan memutuskan hubungan Sriwijaya dengan dunia luar. Kejadian itu dibenarkan oleh sumber berita dari Cina (992) yang menyebutkan bahwa utusan Sriwijaya ke Cina tidak dapat kembali (berhenti di Kanton) karena Sriwijaya diduduki musuh.

Sriwijaya menjadi lemah, tetapi secara diam-diam melakukan gerakan bawah tanah (subversi) ke Jawa dan menghasut adipati (raja bawahan) yang kurang loyal terhadap Dharmawangsa agar bersedia memberontak. Usaha itu rupanya termakan juga oleh seorang adipati yang bernama Wurawari (dari daerah sekitar Banyumas sekarang).

Dalam peristiwa penyerbuan ke Kerajaan Dharmawangsa itu ternyata ada tokoh penting yang berhasil lolos dari maut. Dia adalah Airlangga, putra Mahendradatta (dari Bali) yang saat itu sedang dinikahkan dengan putri Dharmawangsa. Airlangga berhasil menyelamatkan diri masuk hutan ditemani pengiringnya yang setia, Narottama.

Setelah keadaan kembali tenang, Airlangga didatangi oleh para pendeta dan brahmana. Mereka meminta Airlangga agar bersedia dinobatkan menjadi raja. Permintaan itu mula-mula ditolak dan baru pada tahun 1019 Airlangga bersedia dinobatkan menjadi raja menggantikan Dharmawangsa.

4) Pemerintahan Airlangga
Airlangga setelah naik takhta bergelar Sri Maharaja Rakai Halu Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Awalnya, Airlangga hanya merupakan raja kecil dengan daerah kekuasaan yang sangat terbatas. Raja-raja bawahan Dharmawangsa tidak mau mengakui kekuasaan Airlangga. Setelah berjuang dan berperang selama tujuh tahun, pada tahun 1035 Airlangga berhasil menyatukan kembali wilayah kerajaannya dan pusat kerajaan dipindahkan ke Kahuripan (1037).

b. Bidang Sosial budaya
Kehidupan keagamaan pada masa pemerintahan Airlangga pun diperhatikan. Hal itu diwujudkan, antara lain dengan mendirikan tempat pemujaan dan pertapaan, misalnya Pertapaan Pucangan di lereng Gunung Penanggungan. Terjadi pula perkembangan di bidang sastra. Pada masa itu telah dihasilkan karya sastra dengan judul Arjuna Wiwaha yang ditulis oleh Empu Kanwa pada tahun 1035. Kitab itu berisi kisah kiasan terhadap kehidupan Raja Airlangga yang diidentifikasikan sebagai tokoh Arjuna. Agama yang berkembang pada saat itu ialah Hindu aliran Wisnu atau Waisnawa sehingga Airlangga dianggap sebagai titisan Dewa Wisnu yang bertugas memelihara perdamaian dunia.

c. Bidang Ekonomi
Pada masa pemerintahan Dharmawangsa, pembangunan dilaksanakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pembangunan itu dilakukan dengan membuat saluran irigasi serta memperbaiki tanggul Sungai Brantas di Waringin Sapta, Pelabuhan Ujung Galuh, dan Kembang Putih di Tuban. Hal itu dimaksudkan untuk memperlancar pelayaran dan perdagangan laut dengan dunia luar, seperti India, Burma (Myanmar), dan Kampuchea.

Airlangga mempunyai beberapa orang putra. Putra sulungnya seorang putrid bernama Sri Sanggramawijaya Dharmaprasadottunggadewi. Dialah yang dicalonkan menjadi pengganti Airlangga. Akan tetapi, ia tidak bersedia dan lebih suka menjadi seorang pertapa yang kemudian terkenal dengan nama Dewi Kilisuci.

Setelah putrinya mengundurkan diri dari hal-hal duniawi, Airlangga memutuskan untuk membagi kerajaannya menjadi Jenggala dan Panjalu (Kediri). Hal itu dimaksudkan agar kelak tidak terjadi perang saudara berebut kekuasaan. Pembagian kerajaan dilakukan pada tahun 1041 oleh Empu Bharada.

6. Perkembangan Kerajaan Hindu–Buddha di Indonesia (Kerajaan Kediri)

Kerajaan Kediri merupakan kelanjutan Kerajaan Kahuripan (Airlangga). Karena mempunyai beberapa orang putra, Airlangga membagi kerajaannya menjadi dua agar tidak terjadi perebutan kekuasaan.

a. Kerajaan Jenggala dengan Ibu Kota Kahuripan
Kerajaan Jenggala diperkirakan terletak di sebelah utara Sungai Brantas. Wilayahnya, meliputi Delta Sungai Brantas, Malang, Rembang, dan Pasuruan. Pemerintahan Jenggala dipegang oleh Raja Panji Garasakan (putra Airlangga).

b. Kerajaan Panjalu atau Kediri dengan Ibu Kota Daha
Kerajaan Panjalu terletak di sebelah selatan Sungai Brantas. Wilayahnya, meliputi Kediri, Madiun, dan daerah di sebelah baratnya. Pemerintahan di Kediri (Panjalu) dipegang oleh Sri Samarawijaya yang sebelumnya menjabat sebagai rakyan mahamenteri i hino menggantikan putri Sri Sanggramawijaya.

Sekitar tahun 1044 Masehi terjadi peperangan antara Kediri dan Jenggala. Sri Samarawijaya berhasil dikalahkan oleh Garasakan dari Jenggala. Sejak saat itu, Kerajaan Kediri (Panjalu) tidak terdengar lagi dalam sejarah untuk sementara waktu.

Perebutan kekuasaan antara Jenggala dan Kediri (Panjalu) rupanya berlangsung terus hingga tahun 1052 Masehi. Pada tahun itu Raja Mapanji Alanjung Ahyes berhasil menundukkan Kerajaan Jenggala. Akan tetapi, tampaknya baginda itu tidak lama memerintah karena pada tahun 1059 Masehimuncul seorang raja lain, yaitu Raja Samarotsaha. Raja itu berkuasa di Kerajaan Jenggala. Raja Samarotsaha adalah menantu Raja Airlangga.

Setelah pemerintahan Samarotsaha, kedua kerajaan tadi tidak ada kabar beritanya untuk waktu yang cukup lama (58 tahun). Mungkin selama itu terusmenerus terjadi perebutan kekuasaan. Baru sekitar tahun 1116, Kerajaan Kedirimuncul kembali di pentas sejarah kerajaan-kerajaan Jawa Timur.

1) Bidang Politik
Setelah 58 tahun mengalami masa suram, Kerajaan Panjalu (Kediri) bangkit lagi sekitar tahun 1116. Raja yang memerintah, antara lain sebagai berikut.

a) Rakai Sirikan Sri Bameswara
Raja Bameswara pertama adalah Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Sakalabhuwana Sarwwaniwaryya Wiryya Parakrama Digjayattunggadewa. Hal itu disebutkan pada Prasasti Pandlegan I yang berangka tahun 1038 Saka (1116 Masehi).

Raja Sirikan masih mengeluarkan prasasti lain, yaitu
1) Prasasti Panumbangan berangka tahun 1042 Saka (1120 M)
2) Prasasti Geneng berangka tahun 1050 Saka (1128 M)
3) Prasasti Candi Tuban berangka tahun 1052 Saka (1130 M)
4) Prasasti Tangkilan berangka tahun 1052 Saka (1130 M).

Prasasti lainnya adalah Prasasti Karang Reja berangka tahun 1056 Saka (1136 Masehi), tetapi tidak jelas siapa yang mengeluarkannya. Apakah dikeluarkan oleh Bameswara atau Jayabaya?

Lencana kerajaan yang digunakan adalah tengkorak bertaring di atas bulan sabit yang disebut Candrakapala. Bameswara diperkirakan memerintah hingga tahun 1134 M.

b) Raja Jayabaya
Pengganti Raja Bameswara adalah Jayabaya yang bergelar Sri Maharaja Sri Warmmeswara Madhusudana Wataranindita Parakrama Digjayottunggadewanama Jayabhayalancana. Ia memerintah pada tahun 1057 Saka (1135 M).

Salah satu prasastinya yang menarik adalah Prasasti Talan berangka tahun1508 Saka (1136 M) yang berisi pemindahan Prasasti Ripta (tahun 961 Saka) menjadi Prasasti Dinggopala oleh Raja Jayabaya. Dalam prasasti itu, ia disebutkan sebagai penjelmaan Dewa Wisnu.

Lencana kerajaan yang dipakai adalah Narasingha, tetapi pada Prasasti Talan disebutkan pemakaian lencana Garuda Mukha. Pada Prasasti Hantang (1057 Saka) atau 1135 M dituliskan kata pangjalu jayati, artinya panjalu menang berperang atas Jenggala dan sekaligus untuk menunjukkan bahwa Jayabaya adalah pewaris takhta kerajaan yang sah dari Airlangga.

c) Raja Sarweswara
Pengganti Raja Jayabaya ialah Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Sarweswara Janardhanawatara Wijayagrajasama Singhanadaniwaryyawiryya Parakrama Digjayattunggadewanama. Sarweswara memerintah tahun 1159 hingga 1169. Lencana kerajaan yang digunakan adalah Ganesha.

d) Sri Aryyeswara
Raja Sarweswara kemudian digantikan oleh Sri Maharaja Rakai Hino Sri Aryyeswara Madhusudanawatararijamukha. Masa pemerintahan Raja Sri Aryyeswara hanya sampai tahun 1181 dan digantikan oleh Sri Maharaja Sri Kroncarryadipa Handabhuwanapalaka Parakramanindita Digjayattunggaduwanama Sri Gandra.

e) Sri Gandra
Pada masa pemerintahan Sri Gandra dikenal jabatan senapati sarwajala (laksamana laut). Dengan jabatan itu, diduga Kediri mempunyai armada laut yang kuat. Di samping itu, juga dikenal pejabat yang menggunakan nama-nama binatang, misalnya Kebo Salawah, Lembu Agra, Gajah Kuning, dan Macan Putih.

f) Kameswara
Kameswara memerintah Kerajaan Kediri tahun 1182–1185. Kameswara bergelar Sri Maharaja Sri Kameswara Tri Wikramawatara Aniwaryyawiryya Parakrama Digjayattunggadewanama. Pada masa pemerintahan Kameswara, seni sastra berkembang pesat.

g) Kertajaya
Setelah Kameswara mangkat, raja yang memerintah Kediri adalah Kertajaya atau Srengga. Gelar Kertajaya ialah Sri Maharaja Sarweswara Triwikramataranindita Srenggalancana Digjayattunggadewanama. Kertajaya adalah raja terakhir yang memerintah Kediri. Kertajaya memerintah Kediri tahun 1185–1222.

Pada masa pemerintahannya, Kertajaya sering berselisih pendapat dengan para brahmana. Para brahmana kemudian minta perlindungan kepada Ken Arok. Kesempatan emas itu digunakan Ken Arok untuk memberontak raja. Oleh karena itu, terjadilah pertempuran hebat di Ganter. Dalam pertempuran itu, Ken Arok berhasil mengalahkan Raja Kertajaya. Dengan berakhirnya masa pemerintahan Kertajaya, berakhir pula masa pemerintahan Kerajaan Kediri sebagai kelanjutan Dinasti Isana yang didirikan oleh Empu Sindok.

Keadaan politik pemerintahan dan keadaan masyarakat di Kediri ini dicatat dalam berita dari Cina, yaitu dalam kitab Ling-Wai-tai-ta yang ditulis oleh Chou K’u-fei pada tahun 1178 dan pada kitab Chu-fan-chi yang disusun oleh Chaujukua pada tahun 1225. Kitab itu melukiskan keadaan pemerintahan dan masyarakat zaman Kediri. Kitab itu menggambarkan masa pemerintahan Kediri termasuk stabil dan pergantian takhta berjalan lancar tanpa menimbulkan perang saudara. Di dalam menjalankan pemerintahannya, raja dibantu oleh tiga orang putranya dan empat pejabat kerajaan (rakryan), ditambah 300 pejabat sipil (administrasi) dan 1.000 pegawai rendahan. Prajuritnya berjumlah 30.000 orang dengan mendapat gaji dari kerajaan. Raja berpakaian sutra, memakai sepatu kulit, perhiasan emas, dan rambutnya disanggul ke atas. Jika bepergian, raja naik gajah atau kereta dengan dikawal oleh 500–700 prajurit. Pemerintah sangat memperhatikan keadaan pertanian, peternakan, dan perdagangan. Pencuri dan perampok jika tertangkap dihukum mati.

2) Bidang Sosial Budaya
Kondisi masyarakat Kediri sudah teratur. Penduduknya sudah memakai kain sampai di bawah lutut, rambut diurai, serta rumahnya bersih dan rapi. Dalam perkawinan, keluarga pengantin wanita menerima maskawin berupa emas. Orang-orang yang sakit memohon kesembuhan kepada dewa dan Buddha.

Perhatian raja terhadap rakyatnya sangat tinggi. Hal itu dibuktikan pada kitab Lubdaka yang berisi tentang kehidupan sosial masyarakat pada saat itu. Tinggi rendahnya martabat seseorang bukan berdasarkan pangkat dan harta bendanya, tetapi berdasarkan moral dan tingkah lakunya.

Raja juga sangat menghargai dan menghormati hak-hak rakyatnya. Akibatnya, rakyat dapat leluasa menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari.

Pada zaman Kediri karya sastra berkembang pesat. Banyak karya sastra yang dihasilkan. Pada masa pemerintahan Jayabaya, raja pernah memerintahkan kepada Empu Sedah untuk mengubah kitab Bharatayuda ke dalam bahasa Jawa Kuno. Karena tidak selesai, pekerjaan itu dilanjutkan oleh Empu Panuluh. Dalam kitab itu, nama Jayabaya disebut beberapa kali sebagai sanjungan kepada rajanya. Kitab itu berangka tahun dalam bentuk candrasangkala, sangakuda suddha candrama (1079 Saka atau 1157 M). Selain itu, Empu Panuluh juga menulis kitab Gatutkacasraya dan Hariwangsa.

Pada masa pemerintahan Kameswara juga ditulis karya sastra, antara lain sebagai berikut.
  • Kitab Wertasancaya, yang berisi petunjuk tentang cara membuat syair yang baik. Kitab itu ditulis oleh Empu Tan Akung.
  • Kitab Smaradhahana, berupa kakawin yang digubah oleh Empu Dharmaja. Kitab itu berisi pujian kepada raja sebagai seorang titisan Dewa Kama. Kitab itu juga menyebutkan bahwa nama ibu kota kerajaannya adalah Dahana.
  • Kitab Lubdaka, ditulis oleh Empu Tan Akung. Kitab itu berisi kisah Lubdaka sebagai seorang pemburu yang mestinya masuk neraka. Karena pemujaannya yang istimewa, ia ditolong dewa dan rohnya diangkat ke surga.


Selain karya sastra tersebut, masih ada karya sastra lain yang ditulis pada zaman Kediri, antara lain sebagai berikut.
  • Kitab Kresnayana karangan Empu Triguna yang berisi riwayat Kresna sebagai anak nakal, tetapi dikasihi setiap orang karena suka menolong dan sakti. Kresna akhirnya menikah dengan Dewi Rukmini.
  • Kitab Samanasantaka karangan Empu Managuna yang mengisahkan Bidadari Harini yang terkena kutuk Begawan Trenawindu.


Adakalanya cerita itu dijumpai dalam bentuk relief pada suatu candi. Misalnya, cerita Kresnayana dijumpai pada relief Candi Jago bersama relief Parthayajna dan Kunjarakarna.

3) Aspek Kehidupan Ekonomi
Kediri merupakan kerajaan agraris dan maritim. Masyarakat yang hidup di daerah pedalaman bermata pencaharian sebagai petani. Hasil pertanian di daerah pedalaman Kerajaan Kediri sangat melimpah karena didukung oleh kondisi tanah yang subur. Hasil pertanian yang melimpah memberikan kemakmuran bagi rakyat.

Masyarakat yang berada di daerah pesisir hidup dari perdagangan dan pelayaran. Pada masa itu perdagangan dan pelayaran berkembang pesat. Para pedagang Kediri sudah melakukan hubungan dagang dengan Maluku dan Sriwijaya.

Pada masa itu, mata uang yang terbuat dari emas dan campuran antara perak, timah, dan tembaga sudah digunakan. Hubungan antara daerah pedalaman dan daerah pesisir sudah berjalan cukup lancar. Sungai Brantas banyak digunakan untuk lalu lintas perdagangan antara daerah pedalaman dan daerah pesisir.

7. Perkembangan Kerajaan Hindu–Buddha di Indonesia (Kerajaan Singasari)

Asal usul Ken Arok tidak jelas. Menurut kitab Pararaton, Ken Arok adalah anak seorang wanita tani dari Desa Pangkur (sebelah timur Gunung Kawi). Para ahli sejarah menduga ayah Ken Arok seorang pejabat kerajaan, mengingat wawasan berpikir, ambisi, dan strateginya cukup tinggi. Hal itu jarang dimiliki oleh seorang petani biasa. Banyak kisah yang menyebutkan bahwa Ken Arok ketika muda menjadi pencuri dan perampok. Berkat pengarahan dan bantuan Pendeta Lohgawe, Ken Arok bersedia mengabdikan diri kepada Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung. Ken Arok setelah mengabdi di Tumapel ingin menduduki jabatan akuwu dan sekaligus memperistri Ken Dedes (istri Tunggul Ametung). Dengan menggunakan tipu muslihat yang jitu, Ken Arok dapat membunuh Tunggul Ametung. Setelah itu, Ken Arok mengangkat dirinya menjadi akuwu di Tumapel dan memperistri Ken Dedes yang saat itu telah mengandung. Ken Arok kemudian mengumumkan bahwa dia adalah penjelmaan Dewa Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Hal itu dimaksudkan agar Ken Arok dapat diterima secara sah oleh rakyat sebagai seorang pemimpin.

a. Bidang Politik
Tumapel pada waktu itu menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Kediri yang diperintah oleh Raja Kertajaya atau Dandang Gendis. Ken Arok ingin memberontak, tetapi menunggu saat yang tepat. Pada tahun 1222 datanglah beberapa pendeta dari Kediri untuk meminta perlindungan kepada Ken Arok karena tindakan yang sewenang-wenang dari Raja Kertajaya. Ken Arok menerima dengan senang hati dan mulailah menyusun barisan, menggembleng para prajurit, dan melakukan propaganda kepada rakyatnya untuk memberontak Kerajaan Kediri.

Setelah segala sesuatunya siap, berangkatlah sejumlah besar prajurit Tumapel menuju Kediri. Di daerah Ganter terjadilah peperangan dahsyat. Semua prajurit Kediri beserta rajanya dapat dibinasakan. Ken Arok disambut dengan gegap gempita oleh rakyat Tumapel dan Kediri. Selanjutnya, Ken Arok dinobatkan menjadi raja. Seluruh wilayah bekas Kerajaan Kediri disatukan dengan Tumapel yang kemudian disebut Kerajaan Singasari. Pusat kerajaan dipindahkan ke bagian timur, di sebelah Gunung Arjuna.

Setelah naik takhta, Ken Arok bergelar Sri Ranggah Rajasa Bhattara Sang Amurwabhumi. Dialah pendiri Dinasti Rajasa atau Girindrawangsa. Ken Arok hanya memerintah selama lima tahun, yaitu tahun 1222–1227. Pada tahun 1227, Ken Arok dibunuh oleh seorang pengalasan atas perintah Anusapati, anak Ken Dedes dengan Tunggul Ametung. Ken Arok didharmakan di Kagenengan.

Sepeninggal Ken Arok, Anusapati menjadi Raja Singasari. Anusapati memerintah pada tahun 1227–1248. Pada masa pemerintahannya tidak banyak hal yang dapat diketahui.

Ken Arok dengan selirnya yang bernama Ken Umang mempunyai empat orang putra, yaitu Panji Tohjaya, Panji Sudhartu, Panji Wregola, dan Dewi Rambi. Akhirnya, Tohjaya mengetahui bahwa yang membunuh Ken Arok adalah Anusapati. Oleh karena itu, Tohjaya ingin membalas dendam kematian ayahnya. Pada tahun 1248, Anusapati berhasil dibunuh. Anusapati setelah wafat didharmakan di Candi Kidal.

Pada tahun 1248 itu juga Panji Tohjaya naik takhta. Baru beberapa bulan memerintah, Tohjaya dibunuh oleh Ranggawuni, putra Anusapati, di Katang Lumbang. Setelah itu, Ranggawuni menjadi raja dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardhana. Dalam masa pemerintahannya, Wisnuwardhana didampingi oleh Mahesa Campaka, anak Mahesa Wongateleng. Mahesa Wongateleng adalah anak Ken Dedes dengan Ken Arok.

Wisnuwardhana memerintah tahun 1248–1268. Selama masa pemerintahannya keadaan negara aman dan tenteram. Pada tahun 1264 Wisnuwardhana mengeluarkan sebuah prasasti dan mendirikan benteng di Canggu Lor. Raja Wisnuwardhana meninggal pada tahun 1268 dan di-dharmakan di Weleri sebagai Syiwa dan di Jayaghu (Candi Jago) sebagai Buddha Amoghapasa.

Tidak lama kemudian, Mahesa Campaka juga mangkat. Mahesa Campaka mempunyai seorang anak, yaitu Lembu Tal. Lembu Tal mempunyai anak bernama Wijaya yang nantinya mendirikan Kerajaan Majapahit.

Kertanegara terkenal dengan gagasannya yang tinggi, yaitu ingin memperluas daerah kekuasaannya hingga meliputi seluruh pulau-pulau di wilayah Nusantara. Seluruh Nusantara akan disatukan di bawah panji-panji kebesaran Singasari.

Untuk mewujudkan cita-citanya, Kertanegara melakukan usaha sebagai berikut.

1) Penataan di Dalam Negeri
Penataan di dalam negeri yang dilakukan Kertanegara untuk mewujudkan cita-citanya, antara lain sebagai berikut.
  • Untuk memperlancar pemerintahannya, Kertanegara dibantu oleh tiga orang mahamenteri dengan pangkat i hino, i sirikan, dan i halu. Tugas mereka adalah mengatur dan meneruskan perintah raja melalui tiga menteri pelaksana dengan pangkat rakryan apatih, rakryan demung, dan rakryan kanuruhan.
  • Mahapatih Raganatha digantikan oleh Aragani karena dipandang kurang mendukung gagasan raja. Agar tidak kecewa, Raganatha diangkat menjadi adhyaka (wakil raja) di Tumapel.
  • Banyak Wide yang dianggap masih mempunyai hubungan erat dengan Kediri diasingkan dan diangkat menjadi Bupati Sumenep (Madura) dengan gelar Arya Wiraraja.
  • Angkatan perang, baik prajurit darat maupun armada laut diperkuat persenjataannya.
  • Pemberontakan yang terjadi di dalam negeri ditumpas, misalnya pemberontakan Bhayaraja (1270) dan pemberontakan Mahesa Rangkah (1280).
  • Lawan politiknya diajak bekerja sama, misalnya Jayakatwang, keturunan Raja Kediri, diangkat menjadi raja kecil di Kediri. Bahkan, putranya Ardharaja dijadikan menantu.
  • Raden Wijaya, keturunan Mahesa Campaka juga dijadikan menantu.
  • Untuk mendapatkan simpati dan dukungan dari para pemuka agama, diangkatlah seorang pemimpin agama Buddha dan seorang pendeta mahabrahma untuk mendampingi raja.

2) Ekspansi ke Luar Negeri
Untuk mendukung terwujudnya cita-cita, Kertanegara melakukan tindakan ekspansi ke luar negeri sebagai berikut.
  • Setelah armada lautnya kuat, Kertanegara mulai melebarkan kekuasaan ke luar Jawa. Pada tahun 1275, Kertanegara mengirimkan ekspedisi ke Melayu (Pamalayu) untuk menghidupkan lagi Kerajaan Melayu (di Jambi) agar dapat menyaingi dan melemahkan Kerajaan Sriwijaya. Hal itu sebenarnya dimaksudkan untuk mencegah atau menahan gerakan ekspansi prajurit Mongol di bawah pimpinan Kaisar Kubhilai Khan.
  • Pada tahun 1284 Kertanegara mengirimkan ekspedisi ke Bali dan berhasil menanamkan pengaruh dan kekuasaannya di sana.
  • Pada tahun 1286 Kertanegara mengirimkan sebuah Patung Amoghapasa beserta 14 pengiringnya kepada Raja Melayu, yaitu Mauliwarmadewa. Hal itu dimaksudkan untuk mempererat dan memperkuat pertahanan Singasari– Melayu.
  • Pada tahun 1289 Jawa Barat berhasil ditundukkan, menyusul Pahang di Malaya dan Tanjungpura di Kalimantan yang berhasil dikuasai. Daerah itu sangat strategis untuk menghadang ekspansi tentara Mongol.
  • Menjalin persahabatan dengan raja-raja di Semenanjung Malaka dan Indocina dengan cara menikahkan putri Kertanegara dengan raja di Indocina. Dengan cara itu, kukuhlah persahabatan Singasari–Indocina.


b. Bidang Sosial Budaya
Peninggalan kebudayaan Kerajaan Singasari, antara lain berupa prasasti, candi, dan patung. Candi peninggalan Kerajaan Singasari, antara lain Candi Jago, Candi Kidal, dan Candi Singasari. Adapun patung-patung yang berhasil ditemukan sebagai hasil kebudayaan Kerajaan Singasari, antara lain Patung Ken Dedes sebagai Dewi Prajnaparamita lambang dewi kesuburan dan Patung Kertanegara sebagai Amoghapasa.

Rakyat Singasari mengalami pasang surut kehidupan sejak zaman Ken Arok sampai masa pemerintahan Wisnuwardhana. Pada masa-masa pemerintahan Ken Arok, kehidupan sosial masyarakat sangat terjamin. Kemakmuran dan keteraturan kehidupan sosial masyarakat Singasari kemungkinan yang menyebabkan para brahmana meminta perlindungan kepada Ken Arok atas kekejaman rajanya.

Akan tetapi, pada masa pemerintahan Anusapati kehidupan masyarakat mulai terabaikan. Hal itu disebabkan raja sangat gemar menyabung ayam hingga melupakan pembangunan kerajaan.

Keadaan rakyat Singasari mulai berangsur-angsur membaik setelah Wisnuwardhana naik takhta Singasari. Kemakmuran makin dapat dirasakan rakyat Singasari setelah Kertanegara menjadi raja. Pada masa pemerintahan Kertanegara, kerajaan dibangun dengan baik. Dengan demikian, rakyat dapat hidup aman dan sejahtera.

Dengan kerja keras dan usaha yang tidak henti-henti, cita-cita Kertanegara ingin menyatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah naungan Singasari tercapai juga walaupun belum sempurna. Daerah kekuasaannya, meliputi Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Melayu, Semenanjung Malaka, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.

Sebagai ahli agama, Kertanegara tetap mengkhawatirkan daya sakti pemecah Empu Bharada pada zaman Airlangga. Untuk menangkis daya sakti pemecah  itu, Kertanegara mendirikan patung perwujudan dirinya sebagai Dhyani Buddha di tempat tinggal Empu Bharada (di Wurare). Patung itu sampai sekarang masihdapat dilihat di Surabaya dan lazim disebut sebagai Patung Joko Dolok.

Bersamaan dengan usaha Kertanegara untuk memperluas daerah kekuasaan, Kekaisaran Mongol yang dipimpin oleh Kubhilai Khan juga sedang melakukan ekspansi ke arah selatan, yaitu ke kawasan Asia Tenggara.

Kubhilai Khan mengirimkan beberapa kali utusan ke Singasari untuk meminta Raja Kertanegara mengakui kekuasaannya. Hal itu terjadi pada tahun 1280, 1281, 1286, dan terakhir pada tahun 1289 yang dipimpin oleh Meng Ch’i. Kertanegara merasa kesal sehingga utusan itu dianiaya hingga cacat dan disuruh pulang. Utusan itu begitu tiba di negerinya menceritakan segala perlakuan Raja Kertanegara kepada Kubhilai Khan. Akibatnya, Kubhilai Khan marah sekali. Kubhilai Khan menyiapkan pasukannya untuk menghukum Kertanegara. Akan tetapi, ketika pasukan itu tiba di Jawa pada tahun 1293 Raja Kertanegara telah mangkat.

Sebenarnya, Jayakatwang sebagai raja kecil di Kediri selalu tunduk dan taat kepada Raja Kertanegara. Akan tetapi, Jayakatwang telah dihasut oleh patihnya untuk membalas kematian buyutnya (Kertajaya) yang dibunuh oleh buyut Kertanegara (Ken Arok). Di samping itu, Jayakatwang juga dibujuk oleh Arya Wiraraja dari Madura untuk memberontak terhadap Singasari agar dapat membangun kembali Kerajaan Kediri seperti dahulu. Hasutan dan bujukan itu akhirnya termakan juga oleh Jayakatwang. Oleh karena itu, Jayakatwang segeramempersiapkan sejumlah besar prajurit dan persenjataannya.

Saat yang tepat untuk menaklukkan Singasari tiba. Pada saat itu sebagian besar prajurit Singasari dikirim ke luar Jawa sehingga pertahanan di istana lemah. Selain itu, Kertanegara juga sedang berkonflik dengan Khubilai Khan. Oleh karena itu, tepatlah saatnya untuk menyerbu Singasari. Kerajaan Singasari diserbu dari dua jurusan (utara dan selatan) sehingga tidak mampu menanggulanginya.Akhirnya, seluruh prajurit dan Raja Kertanegara gugur dalam pertempuran itu.

Kertanegara setelah gugur didharmakan sebagai Syiwa Buddha di Candi Jawi. Di Sagala, Kertanegara bersama permaisurinya diwujudkan sebagaiWairocana Locana dan di Candi Singasari dilukiskan sebagai Bairawa (Batara Kala).

c. Bidang Ekonomi
Tidak banyak sumber prasasti dan berita dari negeri asing yang dapat memberi keterangan secara jelas kehidupan perekonomian rakyat Singasari. Akan tetapi, berdasarkan analisis bahwa pusat Kerajaan Singasari berada di sekitar Lembah Sungai Brantas dapat diduga bahwa rakyat Singasari banyak menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Keadaan itu juga didukung  oleh hasil bumi yang melimpah sehingga menyebabkan Raja Kertanegaramemperluas wilayah terutama tempat-tempat yang strategis untuk lalu lintas perdagangan.

Keberadaan Sungai Brantas dapat juga digunakan sebagai sarana lalu lintas perdagangan dari wilayah pedalaman dengan dunia luar. Dengan demikian, perdagangan juga menjadi andalan bagi pengembangan perekonomian Kerajaan Singasari.

7. Perkembangan Kerajaan Hindu–Buddha di Indonesia (Kerajaan Bali)

Kerajaan Bali terletak di Pulau Bali yang berada di sebelah timur Provinsi Jawa Timur sekarang ini. Kerajaan Bali mempunyai hubungan sejarah yang tinggi dengan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa.

a. Bidang Politik
Berdasarkan Prasasti Blanjong yang berangka tahun 914, Raja Bali pertama adalah Khesari Warmadewa. Istananya berada di Singhadwalawa. Raja berikutnya adalah Sang Ratu Sri Ugrasena. Ia memerintah tahun 915–942, istananya berada di Singhamandawa. Kemungkinan Singhamandawa terletak antara Kintamani (Danau Batur) dan Pantai Sanur (Blanjong), kira-kira di sekitar Tampaksiring dan Pejeng atau di antara aliran Sungai Patanu dan Pakerisan. Masa pemerintahannya sezaman dengan Empu Sindok di Jawa Timur. Sang Ratu Sri Ugrasena meninggalkan sembilan prasasti. Pada umumnya, prasasti itu berisi tentang pembebasan pajak pada daerah-daerah tertentu. Selain itu, ada juga prasasti yang memberitakan tentang pembangunan tempat-tempat suci. Setelah wafat, Sang Ratu Sri Ugrasena didharmakan di Air Mandatu. Pengganti Sang Ratu Sri Ugrasena adalah raja-raja yang memakai gelarWarmadewa. Raja yang pertama adalah Sang Ratu Aji Tabanendra Warmadewa. Ia memerintah bersama permaisurinya, Sang Ratu Luhur Sri Subhadrika Dharmadewi. Raja ini yang memerintah tahun 955–967 M.

Pengganti berikutnya adalah Jayasingha Warmadewa. Ada yang menduga bahwa Jayasingha Warmadewa bukan keturunan Tabanendra karena pada tahun960 M (bersamaan dengan pemerintahaan Tabanendra) Jayasingha Warmadewa sudah menjadi raja. Akan tetapi, mungkin juga ia adalah putra mahkota yang telah diangkat menjadi raja sebelum ayahnya turun takhta. Raja Jayasingha telahmembuat telaga (pemandian) dari sumber suci di Desa Manukraya. Pemandian itu disebut Tirta Empul yang terletak di dekat Tampaksiring. Raja Jayasingha Warmadewa memerintah sampai tahun 975 Masehi.

Raja Jayasingha digantikan oleh Janasadhu Warmadewa. Ia memerintah tahun 975–983. Tidak ada keterangan lain yang dapat diperoleh dari raja ini kecuali tentang anugerah raja kepada Desa Julah. Pada tahun 983 M munculseorang raja wanita, yaitu Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi. Menurut Stein Callenfels, ratu itu berasal dari Kerajaan Sriwijaya. Namun, Damais menduga bahwa ratu itu adalah putri Empu Sindok (Jawa Timur). Hal ini didasarkan atas nama-nama jabatan dalam Prasasti Ratu Wijaya sendiri yang sudah lazim disebut dalam prasasti di Jawa, tetapi tidak dikenal di Bali, seperti makudur, madihati, dan pangkaja.

Pengganti Ratu Sri Wijaya Mahadewi adalah raja dari keluarga Warmadewa,  bernama Dharma Udayana Warmadewa. Ia memerintah bersama permaisurinya,yaitu Gunapriya dharmapatni atau lebih dikenal sebagai Mahendradatta, anak dari Raja Makutawangsawardhana dari Jawa Timur. Sebelum naik takhtadiperkirakan Udayana berada di Jawa Timur sebab namanya tercantum dalam Prasasti Jalatunda.

Setelah pernikahan itu, pengaruh kebudayaan Jawa di Bali makin berkembang. Misalnya, bahasa Jawa Kuno mulai digunakan untuk penulisan prasasti dan pembentuk dewan penasihat seperti di pemerintahan kerajaankerajaan Jawa mulai dilakukan.

Udayana memerintah bersama permaisurinya hingga tahun 1001 M karena pada tahun itu Gunapriya mangkat dan didharmakan di Burwan. Udayana meneruskan pemerintahannya hingga tahun 1011 M. Setelah mangkat, ia dicandikan di Banuwka. Hal ini didasarkan pada Prasasti Air Hwang (1011) yang hanya menyebut nama Udayana sendiri. Menurut Prasasti Ujung (Hyang), Udayana setelah mangkat dikenal sebagai Batara Lumah di Banuwka.

Raja Udayana mempunyai tiga orang putra, yaitu Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Airlangga tidak pernah memerintah di Bali karena menjadi menantu Dharmawangsa di Jawa Timur. Oleh karena itu, pengganti Raja Udayana dan Gunapriya ialah Marakata. Setelah naik takhta, Marakata bergelarDharmawangsawardhana Marakata Pangkajasthana Uttunggadewa. Marakata memerintah dari tahun 1011 hingga 1022. Masa pemerintahan Marakata sezaman dengan Airlangga.

Karena persamaan unsur nama dan masa pemerintahannya, Stutterheim berpendapat bahwa Marakata sebenarnya adalah Airlangga. Apalagi jika dilihatdari kepribadian dan cara memimpin yang memiliki kesamaan. Marakata dipandang sebagai sumber kebenaran hukum yang selalu melindungi dan memperhatikan rakyat. Oleh karena itu, Marakata disegani dan ditaati oleh rakyatnya. Selain itu, Marakata juga turut membangun sebuah presada atau candi di Gunung Kawi di daerah Tampaksiring, Bali.

Setelah pemerintahannya berakhir, Marakata digantikan oleh Raja Anak Wungsu. Ia bergelar Paduka Haji Anak Wungsu Nira Kalih Bhatari Lumah i Burwan Bhatara Lumah i Banu Wka. Anak Wungsu adalah Raja Bali Kuno yang paling banyak meninggalkan prasasti (lebih dari 28 prasasti) yang tersebar di Bali Utara, Bali Tengah, dan Bali Selatan. Anak Wungsu memerintah selama 28 tahun dari tahun 1049–1077. Anak Wungsu dianggap sebagai penjelmaan Dewa Wisnu. Anak Wungsu tidak memiliki keturunan. Baginda mangkat pada tahun 1077 dan dimakamkan di Gunung Kawi (dekat Tampaksiring).

Setelah berakhirnya Dinasti Warmadewa, Bali diperintah oleh beberapa orang raja secara silih berganti. Raja yang pernah memerintah Bali, antara lain sebagai berikut.

1) Jayasakti
Jayasakti memerintah dari tahun 1133–1150 M dan sezaman dengan pemerintahan Jayabaya di Kediri. Dalam menjalankan pemerintahannya, Jayasakti dibantu oleh penasihat pusat yang terdiri atas para senapati dan pimpinan keagamaan baik dari Hindu maupun Buddha. Kitab undang-undang yang digunakan adalah kitab Utara Widdhi Balawan dan kitab Rajawacana.

2) Ragajaya
Ragajaya mulai memerintah tahun 1155 M. Kapan berakhir masa pemerintahannya belum dapat diketahui karena tidak ada sumber tertulis yang menjelaskannya.

3) Jayapangus
Raja Jayapangus dianggap penyelamat rakyat yang terkena malapetaka akibat lalai menjalankan ibadah. Jayapangus menerima wahyu dari dewa untukmengajak rakyat kembali melakukan upacara agama yang sampai sekarang dikenal dan diperingati sebagai upacara Galungan. Kitab undang-undang yang digunakan adalah kitab Mana Wakamandaka. Raja Jayapangus memerintahpada tahun 1172–1176.

4) Ekajalancana
Ekajalancana memerintah sekitar tahun 1200–1204 Masehi. Dalam memerintah, Ekajalacana dibantu oleh ibunya yang bernama Sri Maharaja Aryadegjaya.

5) Sri Astasura Ratna Bumi Banten
Sri Astasura Ratna Bumi Banten adalah Raja Bali yang terakhir. Bali ditaklukkan oleh Gajah Mada dan menjadi wilayah taklukan Kerajaan Majapahit.

b. Bidang Sosial Budaya
Struktur masyarakat yang berkembang pada masa Kerajaan Bali Kuno didasarkan pada hal sebagai berikut.

1) Sistem Kasta (Caturwarna)
Sesuai dengan kebudayaan Hindu di India, pada awal perkembangan Hindu di Bali sistem kemasyarakatannya juga dibedakan dalam beberapa kasta. Namun, untuk masyarakat yang berada di luar kasta disebut budak atau njaba.

2) Sistem Hak Waris
Pewarisan harta benda dalam suatu keluarga dibedakan atas anak laki-laki dan anak perempuan. Anak laki-laki memiliki hak waris lebih besar dibandingkan anak perempuan.

3) Sistem Kesenian 
Kesenian yang berkembang pada masyarakat Bali Kuno dibedakan atas sistem kesenian keraton dan sistem kesenian rakyat.

4) Agama dan Kepercayaan
Masyarakat Bali Kuno meskipun sangat terbuka dalam menerima pengaruh dari luar, mereka tetap mempertahankan tradisi kepercayaan nenek moyangnya. Dengan demikian, di Bali dikenal ada penganut agama Hindu, Buddha, dan kepercayaan animisme.

Masyarakat Bali Kuno juga hidup dalam keteraturan dan taat menjalankan hukum. Hal itu juga disebabkan oleh keteladanan para pemimpin negara yang taat hukum. Bahkan, pada masa pemerintahan Raja Sri Jayaksati yang sezaman dengan masa pemerintahan raja Jayabaya dari Kediri, raja sangat patuh pada  hukum yang berlaku, Raja melaksanakan pemerintahan berdasarkan kitab Undang-Undang Uttara Widdhi Balawan dan Rajawacana.

Ada hal yang menarik dalam sistem keluarga Bali yang berkaitan dengan pemberian nama anak, misalnya Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut. Untuk anak pertama golongan brahmana dan ksatria disebut Putu. Diperkirakan pemberian nama seperti itu dimulai pada zaman Raja Anak Wungsu dan ada kaitannya dengan upaya pengendalian jumlah penduduk.

Kehidupan sosial dalam masyarakat Bali, yaitu masyarakat terbagi dalam kasta-kasta yang disebut caturwarna. Ketika Kerajaan Majapahit berhasil menguasai Bali, terbentuklah golongan masyarakat baru yang disebut Wong Majapahit. Wong Majapahit adalah orang-orang keturunan penguasa dan penduduk Kerajaan Majapahit.

Masuknya pengaruh kebudayaan Hindu sangat besar sekali pada masyarakat Bali. Bahkan, sampai sekarang dapat dikatakan bahwa mayoritas penduduk Bali adalah penganut agama Hindu. Agama Buddha juga berkembang di Bali meskipun tidak sepesat perkembangan agama Hindu. Bahkan, pada masa pemerintahan Raja Udayana, agama Buddha juga mendapat tempat sejajar dalam kehidupan kerajaan. Hal itu tentu saja menunjukkan betapa toleransinya rakyat Bali pada agama yang lain.

Seperti telah disebutkan di depan bahwa kesenian Bali juga mengalami perkembangan pesat, meskipun dibedakan atas kesenian rakyat dan kesenian keraton. Hal ini bukan berarti rakyat tidak bisa menikmati bentuk kesenian keraton. Prasasti Julah (987 Saka/1065 Masehi) memberi keterangan adanya kesenian untuk raja (ihaji) dan kesenian yang melakukan pertunjukkan berkeliling (ambaran).

Seni sastra tradisional juga berkembang dan digemari rakyat Bali. Karya sastra Bali pada awalnya merupakan teks sastra kuno yang dikarang di Jawa berdasarkan cerita Ramayana dan Mahabarata. Syair dan tulisan prosa tentang berbagai hal yang berhubungan dengan agama dan sejarah lokal yang dibuat di Jawa pada abad ke-10 sampai dengan ke-16 dialihkan ke Bali. Mulai abad ke- 16, orang Bali mulai menciptakan sastra mereka sendiri berdasarkan cerita klasik Jawa Kuno. Penggunaan bahasa Bali sebagai bahasa sastra baru digunakan pada akhir abad ke-18 untuk cerita rakyat, terjemahan karya klasik, dan syair yang dibuat di Bali.

Kehidupan kebudayaan lain yang juga sampai pada kita sekarang adalah peninggalan berupa candi, prasasti, dan pura. 

Contoh prasasti peninggalan Kerajaan Bali, antara lain Prasasti Blanjong (tahun 914 M) dan Prasasti Air Hwang (1011). Peninggalan kebudayaan Kerajaan Bali yang lain adalah kelompok Candi Padas di Gunung Kawi dan Pura Agung Besakih.

c. Bidang Ekonomi
Kegiatan ekonomi masyarakat Bali dititikberatkan pada sektor pertanian. Hal itu didasarkan pada beberapa prasasti Bali yang memuat hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan bercocok tanam. Beberapa istilah itu, antara lain sawah, parlak (sawah kering), kebwan (kebun), gaga (ladang), dan kasuwakan (irigasi).

Di luar kegiatan pertanian pada masyarakat Bali juga ditemukan kehidupan sebagai berikut.

1) Pande (Pandai = Perajin)
Mereka mempunyai kepandaian membuat kerajaan perhiasan dari bahan emas dan perak, membuat peralatan rumah tangga, alat-alat pertanian, dan senjata.

2) Undagi
Mereka mempunyai kepandaian memahat, melukis, dan membuat bangunan.

3) Pedagang
Pedagang pada masa Bali Kuno dibedakan atas pedagang laki-laki (wanigrama) dan pedagang perempuan (wanigrami). Mereka sudah melakukan perdagangan antarpulau (Prasasti Banwa Bharu).

8. Perkembangan Kerajaan Hindu–Buddha di Indonesia (Kerajaan Sunda/Pajajaran)

Berdasarkan naskah kuno yang ditemukan, di daerah Jawa Barat telah berulang kali terjadi perpindahan pusat kerajaan Hindu sesudah Tarumanegara. Secara berurutan pusat-pusat kerajaan itu adalah Galuh, Prahajyan Sunda, Kawali, dan Pakwan Pajajaran.

a. Bidang Politik
Akibat sumber-sumber sejarah yang sangat terbatas, aspek kehidupan politik tentang Kerajaan Sunda/Pajajaran hanya sedikit saja yang diketahui. Aspek kehidupan politik yang diketahui terbatas pada perpindahan pusat pemerintahan dan pergantian takhta raja.

1) Kerajaan Galuh
Sejarah di Jawa Barat setelah Tarumanegara tidak banyak diketahui. Kegelapan itu sedikit tersingkap oleh Prasasti Canggal yang ditemukan di Gunung Wukir, Jawa Tengah berangka tahun 732 M. Prasasti Canggal dibuat oleh Sanjaya sebagai tanda kebesaran dan kemenangannya. Prasasti Canggal menyebutkan bahwa Sanjaya adalah anak Sanaha, saudara perempuan Raja Sanna. Dalam kitab Carita Parahyangan juga disebutkan nama Sanjaya. Menurut versi kitab Carita Parahyangan, Sanjaya adalah anak Raja Sena yang berkuasa di Kerajaan Galuh.

Sena adalah anak Mandiminyak dari hasil hubungan gelap dengan Pwah Rababu, istri Rahyang Sempakwaja yang merupakan kakak sulung Mandiminyak, sebagai Raja Galuh. Diduga karena raja tidak mempunyai putramahkota, setelah Mandiminyak mangkat, Sena diangkat menjadi raja. Raja Sena berkuasa selama tujuh tahun. Suatu ketika Raja Sena diserang oleh Rahyang Purbasora (saudara seibu) dan mengalami kekalahan. Akibatnya, Raja Sena diasingkan ke Gunung Merapi beserta keluarganya. Di sinilah anaknya lahir dan diberi nama Sanjaya. Setelah dewasa, Sanjaya mencari perlindungan kepada saudara tua ayahnya di Denuh. Akhirnya, Sanjaya berhasil mengalahkan Purbasora, kemudian naik takhta di Kerajaan Galuh.

Menurut naskah Kropak 406, Sanjaya disebut sebagai Harisdarma yang menjadi menantu Raja Tarusbawa (Tohaan di Sunda). Sanjaya kemudian diangkat menjadi raja menggantikan Tarusbawa.

Di Jawa Barat, selain Kerajaan Galuh masih ada pusat kerajaan lain, yaitu Kerajaan Kuningan yang diperintah oleh Sang Sowokarma.

Agama yang berkembang pada masa Kerajaan Galuh adalah Hindu Syiwa.Hal itu dinyatakan dengan jelas pada Prasasti Canggal. Raja Galuh juga menganut Sewabakti ring Batara Upati (upati = utpata = nama lain dari Dewa Yama yang identik dengan Syiwa).

2) Pusat Kerajaan Prahajyan Sunda
Nama Sunda muncul lagi pada Prasasti Sahyang Tapak yang ditemukan di Pancalikan dan Bantarmuncang daerah Cibadak, Sukabumi. Prasasti itu berangka tahun 952 Saka (1030 M), berbahasa Jawa Kuno dengan huruf Kawi. Nama tokoh yang disebut adalah Maharaja Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabhuwanaman-daleswaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa, sedangkan daerah kekuasaannya disebut Prahajyan Sunda.

Prasasti Sanghyang Tapak, antara lain menyebutkan bahwa pada tahun 1030 Jayabhupati membuat daerah larangan di sebelah timur SanghyangTapak. Daerah larangan itu berupa sebagian sungai yang siapa pun dilarang mandi dan menangkap ikan di dalamnya. Siapa pun yang melanggar larangan akan terkena kutukan yang mengerikan, misalnya akan terbelah kepalanya, terminum darahnya, atau terpotong-potong ususnya.

Berdasarkan gelarnya yang menunjukkan persamaan dengan gelar Airlangga di Jawa Timur dan masa pemerintahannya pun bersamaan, ada dugaan bahwa di antara kedua kerajaan tersebut ada hubungan atau pengaruh. Akan tetapi, Jayabhupati berulang kali menyatakan bahwa dirinya adalah haji ri Sunda (raja di Sunda). Jadi, Jayabhupati bukan raja bawahan Airlangga. Sementara itu, perihal kutukan bukanlah sesuatu yang biasa terdapat pada prasasti yang berbahasa Sunda sehingga kemungkinan Jayabhupati bukan orang Sunda asli.

Agama yang dianut Sri Jayabhupati adalah Hindu Waisnawa. Ini ditunjukkan oleh gelarnya (Wisnumurti). Gelar ini ternyata sama pula dengan agama yang dianut Raja Airlangga. Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa agama resmi yang dianut penduduk Jawa pada awal abad ke-11 adalah Hindu Waisnawa.

3) Pusat Kerajaan Kawali
Pada zaman pemerintahan siapa pusat Kerajaan Sunda mulai berada di Kawali tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi, menurut prasasti di Astanagede (Kawali), diketahui bahwa setidak-tidaknya pada masa pemerintahan Rahyang Niskala Wastu Kancana pusat kerajaan sudah berada di situ. Istananya bernama Surawisesa. Raja telah membuat selokan di sekeliling keraton dan mendirikan perkampungan untuk rakyatnya.

Menurut kitab Pararaton, pada tahun 1357 Masehi terjadi peristiwa Pasundan–Bubat atau Perang Bubat, yaitu peperangan antara Sunda dan Majapahit. Pada masa itu Sunda diperintah oleh Prabu Sri Baduga Maharaja(ayah Wastu Kancana) dan Majapahit diperintah oleh Raja Hayam Wuruk. Pada pertempuran itu Prabu Maharaja gugur. Ketika Perang Bubat terjadi, Wastu Kancana masih kecil sehingga pemerintahannya untuk sementara diserahkan kepada pengasuhnya, yaitu Hyang Bunisora. Ia menjalankan pemerintahan selama 14 tahun (1357–1371).

Wastu Kancana setelah dewasa menerima kembali tampuk pemerintahan dari Hyang Bunisora. Wastu Kancana memerintah cukup lama (1371–1471) karena masyarakat mendukungnya. Wastu Kancana didukung masyarakat karena selalu menjalankan agama dengan baik dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Setelah mangkat, Raja Wastu Kancana dimakamkan di Nusalarang.

Penggantinya adalah putranya sendiri, Tohaan di Galuh atau Rahyang Ningrat Kancana. Raja Rahyang Ningrat Kancana memerintah hanya tujuh tahun (1471–1478). Pemerintahan Raja Rahyang Ningrat Kancana berakhir karena salah tindak, yaitu mencintai wanita terlarang dari luar. Setelah mangkat, raja itu dimakamkan di Gunung Tiga.

4) Pusat Kerajaan Pakwan Pajajaran
Setelah Raja Rahyang Ningrat Kancana jatuh, takhtanya digantikan oleh putranya, Sang Ratu Jayadewata. Pada Prasasti Kebantenan, Jayadewata disebut sebagai yang kini menjadi Susuhunan di Pakwan Pajajaran. Pada Prasasti Batutulis Sang Jayadewata disebut dengan nama Prabu Dewataprana Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Sejak pemerintahan Sri Baduga Maharaja, pusat kerajaan beralih dari Kawali ke Pakwan Pajajaran yang dalam kitab Carita Parahyangan disebut Sri Bima Unta Rayana Madura Suradipati. Menurut kitab Carita Parahyangan, raja menjalankan pemerintahan berdasarkan kitab hukum yang berlaku sehingga terciptalahkeadaan aman dan tenteram, tidak terjadi kerusuhan atau perang.

Sang Ratu Jayadewata sudah memperhitungkan terhadap makin meluasnya pengaruh Islam di wilayah Kerajaan Sunda. Untuk membendung pengaruh tersebut, baginda menjalin hubungan dengan Portugis di Malaka. Pada tahun 1512 dan 1521 diutuslah Ratu Samiam dari Sunda ke Malaka. Akan tetapi, pada tahun 1522 ketika Henrique leme memimpin perutusannya ke Sunda, Ratu Samiam sudah berkuasa sebagai raja dan disebut Prabu Surawisesa. Rupanya dialah yang menggantikan Sang Ratu Jayadewata. Ratu Samiam  memerintah selama 14 tahun (1521–1535). Setelah itu, Ratu Samiamdigantikan oleh Prabu Ratudewata yang memerintah tahun 1535–1543. Pada masa itu sering terjadi serangan terhadap Kerajaan Sunda, antara lain dari kelompok Islam yang dipimpin oleh Maulana Hasanuddin dan Maulana Yusuf dari Kerajaan Banten. Keterangan ini tidak bertentangan dengan naskah Purwaka Caruban Nagari, berkaitan dengan sejarah Cirebon. Diceritakan pula dalam naskah itu bahwa pada abad ke-15 M, di Cirebon telah ada perguruan Islam, jauh sebelum Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) berdakwah menyebutkan agama Islam.

Jatuhnya Sunda Kelapa, pelabuhan terbesar Kerajaan Sunda ke tangan pasukan Islam pada tahun 1527 menyebabkan terputusnya hubungan antara Portugis dan Kerajaan Sunda. Keadaan itu ikut melemahkan pertahanan Sunda sehingga satu demi satu pantainya jatuh ke tangan musuh. Keadaan makin buruk karena Prabu Ratudewanata lebih berkonsentrasi sebagai pendeta dan kurang memperhatikan kesejahteraan rakyat. Adapun penggantinya, Sang Ratu Saksi yang memerintah tahun 1443–1551 adalah raja yang kejam dan gemar“main wanita”. Demikian pula penggantinya, Tohaan di Majaya yang  memerintah tahun 1551–1567, suka memperindah istana, berfoya-foya, danmabuk-mabukan. Oleh karena itu, pada masa pemerintahan Raja Nuisya Mulya Kerajaan Sunda sudah tidak mungkin dipertahankan lagi dan akhirnya jatuh ke tangan orang-orang Islam. Sejak tahun 1579 tamatlah riwayat Kerajaan Sunda di Jawa Barat.

b. Bidang Sosial
Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian memberi penjelasan adanya kelompok-kelompok masyarakat di dalam Kerajaan Sunda. Kelompok itu tidak berdasarkan jabatan dalam pemerintahan tetapi berdasarkan fungsi yang dimiliki masing-masing kelompok itu. Kelompok masyarakat itu, antara lain sebagai berikut.

1) Kelompok Ekonomi
Kelompok ekonomi yang dimaksud adalah orang-orang yang melakukan kegiatan ekonomi, misalnya, juru lukis (pelukis), pande dang (pembuat perabot rumah tangga), pande mas (perajin emas), palika (nelayan), rare angon (penggembala), dan penyawah (petani).

2) Kelompok Alat Negara
Kelompok masyarakat yang bertugas sebagai alat negara, misalnya bhayangkara (penjaga keamanan), prajurit (tentara), pam(a)rang (pemerang, tentara) nu nangganan (jabatan di bawah mangkubumi) dan hulu jurit (kepala prajurit).

3) Kelompok Rohani dan Cendekiawan
Kelompok rohani dan cendekiawan adalah kelompok masyarakat yang mempunyai kemampuan di bidang tertentu, misalnya memen (dalang) yang mengetahui berbagai macam cerita; paraguna yang mempunyai pengetahuan berbagai macam lagu dan nyanyian; hempal yang mengetahui berbagai macam permainan; prepatun yang mempunyai berbagai macam cerita pantun; pratanda yang mengetahui berbagai macam tingkat dan kehidupan keagamaan; brahmana yang mengetahui berbagai macam mantra; janggan yang mengetahui berbagai macam pemujaan yang dilakukan di sanggar.

Tidak kalah menariknya pada masa Kerajaan Sunda juga telah diketahui kelompok masyarakat yang melakukan pekerjaan tidak disukai orang. Pekerjaan tidak terpuji itu, antara lain nyepet (mencopet), ngarebut (merampok), maling (pencuri), dan papanjingan (memasuki rumah orang). Pekerjaan seperti itu disebut cakap carut, yaitu sesuatu yang pantang diturut. 

Kehidupan manusia peladang akan menunjukkan ciri masyarakat peladang, yaitu sering berpindah-pindah. Bentuk kehidupan sering berpindah menyebabkan masyarakatnya tidak membuat bangunan permanen dan kukuh. Oleh karena itu, wajar kalau dari masyarakat Kerajaan Pajajaran tidak ditemui peninggalan berupa bangunan, misalnya candi.

Hasil kebudayaan masyarakat Kerajaan Pajajaran yang sampai pada kita umumnya berupa sastra tulis dan sastra lisan. Bentuk sastra tulis itu, misalnya kitab Carita Parahyangan, Sawakanda atau Serat Kanda, dan Sanghyang Siksakandang Karesian. Adapun bentuk sastra lisan yang dijumpai umumnya berupa cerita pantun, seperti Langgalarang Banyak Catra, Haturwangi, dan Siliwangi.

c. Bidang Ekonomi
Masyarakat Kerajaan Sunda umumnya hidup dari pertanian, khususnya ladang. Bukti ini didapat dari kitab Carita Parahyangan, misalnya ada keterangan pahuma (peladang), panggerek (pemburu), dan penyadap (penyadap). Ketiganya merupakan jenis pekerjaan di ladang.

Selain bertumpu pada sektor pertanian, perekonomian Kerajaan Sunda juga didukung oleh perdagangan. Hal itu dibuktikan dengan dimilikinya enam buah bandar yang cukup ramai dan penting. Melalui keenam bandar itu dilakukan usaha perdagangan dengan daerah dan kerajaan lain.

Masyarakat Sunda di dalam melakukan jual beli telah menggunakan mata uang. Mereka sudah tidak melakukan pertukaran barang dengan barang. Mata uang yang digunakan di dalam jual beli, antara lain ceitis, calais, mates, dan tumdaya.

9. Perkembangan Kerajaan Hindu–Buddha di Indonesia (Kerajaan Majapahit)

Kerajaan Majapahit dapat dikatakan sebagai kelanjutan Kerajaan Singasari. Alasannya, Raden Wijaya sebagai pendiri Kerajaan Majapahit merupakan salah seorang pangeran dari Kerajaan Singasari yang berhasil meloloskan diri ketika Jayakatwang dari Kediri menghancurkan Singasari. Raden Wijaya melarikan diri ke Sumenep (Madura) untuk meminta perlindungan kepada Arya Wiraraja. Setelah berada di Madura, Raden Wijaya mulai menyusun taktik dan strategi untuk merebut kembali takhta Kerajaan Singasari.

Atas nasihat Arya Wiraraja, Raden Wijaya menyerah dan berpura-pura bersedia menghambakan diri kepada Jayakatwang agar dapat mengatur siasat menggulingkannya. Atas jaminan Arya Wiraraja, Raden Wijaya diterima mengabdi di Kediri oleh Jayakatwang. Raden Wijaya sangat rajin bekerja dan taat kepada raja sehingga memperoleh kepercayaan penuh. Setelah memperoleh kepercayaan raja, Raden Wijaya dianjurkan oleh Arya Wiraraja agar memohon kepada raja untuk dapat menempati daerah “liar” di utara Pegunungan Arjuna guna membuka permukiman baru di sana. Permohonan itu pun dikabulkan oleh Jayakatwang. Daerah “liar” yang disebut hutan Tarik segera dibuka dengan bantuan para prajurit dari Madura.

Dalam waktu singkat, hutan Tarik cepat berkembang. Penduduk dari daerahsekitar hutan Tarik mulai berdatangan. Raden Wijaya segera menghimpun penduduk, terutama kaum muda. Mereka dilatih menjadi prajurit yang gagah berani dan persenjataannya pun dilengkapi. Makin hari makin mantap persiapannya. Hutan Tarik kemudian terkenal dengan nama Majapahit. Di Madura, Arya Wiraraja pun sudah bersiap-siap dengan prajuritnya untuk membantu Majapahit menyerang Kediri.

Bertepatan dengan selesainya persiapan untuk melawan Raja Jayakatwang, tentara Mongol yang dikirim oleh Kubhilai Khan untuk menghukum Kertanegara telah tiba di Jawa. Mereka dipimpin oleh Shihpi, Ka-Hsing, dan Iheh-mi-shih. Tentara Mongol sebagian mendarat di Tuban dan lainnya mendarat di Sedayu (Sugalu), Gresik. Tentara Mongol setelah mendarat segera berkuda bergerak cepat menuju Kediri.

Ketika bertemu perutusan tentara Mongol, Raden Wijaya berpura-pura bersedia mengakui kekuasaan Kubhilai Khan dan membantu menghukum Raja Jawa di Kediri. Sebagian prajurit Majapahit bergabung dengan tentara Mongol dan bergerak ke arah Kediri.

Jayakatwang tidak kuasa membendung serbuan tentara gabungan Mongol– Majapahit yang datang secara mendadak. Akibatnya, hancurlah pertahanan Kediri. Raja Jayakatwang tertangkap dan dibawa ke benteng pertahanan tentara Mongol di Ujung Galuh. Di sana Jayakatwang dibunuh oleh tentara Mongol. Dengan taktik dan strategi yang jitu, Raden Wijaya dan Arya Wiraraja berbalik menyerbu tentara Mongol dari berbagai jurusan. Tentara Mongol tidak menyangka adanya serangan balik sehingga tidak dapat bertahan. Akibatnya, lebih dari 3.000 tentara Mongol dapat dibinasakan, sedangkan sisanya lari tunggang-langgang menuju ke kapal untuk pulang ke negerinya.

a. Bidang Politik
Kehidupan politik yang terjadi di Kerajaan Majapahit dapat dilihat pada masa pemerintahan raja-raja berikut ini.

1) Raden Wijaya (1293–1309)
Raden Wijaya dinobatkan menjadi Raja Majapahit pertama pada tahun 1293 dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Para sahabatnya yang ikut berjuang tidak disia-siakan. Mereka diangkat menjadi pejabat negara. Arya Wiraraja yang paling berjasa diberi kedudukan tinggi dan berkuasa di daerah Lumajang hingga Blambangan. Nambi diberi kedudukan sebagai rakryan mahapatih, Sora sebagai patih di Daha, dan Rangga Lawe sebagai amanca nagara di Tuban.

Ternyata ada sahabat Raden Wijaya yang tidak puas dengan jabatan yang diterimanya sehingga terjadi pemberontakan. Pemberontakan pertama terjadi pada tahun 1295 yang dilakukan oleh Rangga Lawe (Parangga Lawe) Bupati Tuban. Rangga Lawe memberontak karena tidak puas terhadap kebijaksanaan Kertarajasa yang dirasa kurang adil. Kedudukan Patih Majapahit seharusnya  diberikan kepadanya. Namun, oleh Kertarajasa kedudukan itu telah diberikankepada Nambi (anak Wiraraja). Pemberontakan Rangga Lawe dapat ditumpas dan ia tewas oleh Kebo Anabrang. Lembu Sora, sahabat Rangga Lawe, karena  tidak tahan melihat kematiannya, kemudian membunuh Kebo Anabrang.Peristiwa itu dijadikan alasan Mahapatih yang mempunyai ambisi politik besar di Majapahit menyusun strategi agar raja bersedia menghukum tindakan Lembu Sora.

Lembu Sora membangkang perintah raja dan mengadakan pemberontakan pada tahun 1298–1300. Lembu Sora gugur bersama sahabatnya, Jurudemung dan Gajah Biru.

Untuk memperkuat kedudukannya sebagai Raja Majapahit, Raden Wijaya menikahi keempat putri Kertanegara, yaitu Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Prajnaparamita, dan Gayatri. Hal itu dimaksudkan agar tidak lagi terjadi perebutan kekuasaan oleh anggota keluarga Kertanegara lainnya. Di samping itu, Raden Wijaya juga memperistri Dara Petak, putri dari Melayu yang dibawa oleh prajurit Singasari dari tugasnya di Melayu.

Perkawinan Raden Wijaya dengan Tribhuwaneswari mempunyai anak, yaitu Jayanegara, sedangkan dengan Gayatri memiliki dua orang putri, yaitu Tribhuwanatunggadewi (Bhre Kahuripan) dan Rajadewi Maharaja (Bhre Daha). Keturunan dari Gayatri itulah yang nanti akan melahirkan raja-raja besar di Majapahit.

Susunan pemerintahan Kertarajasa tidak banyak berbeda dengan pemerintahan Singasari. Raja dibantu oleh tiga orang mahamenteri (i hino, i sirikan, dan i halu) dan dua orang pejabat lagi, yaitu rakryan rangga dan rakryantumenggung. Pada tahun 1309 Kertarajasa wafat dan didharmakan di Simping dengan Arca Syiwa dan di Antahpura (di kota Majapahit) dengan arca perwujudannya berbentuk Harihara (penjelmaan Wisnu dan Syiwa).

2) Sri Jayanegara (1309–1328)
Setelah Kertarajasa mangkat, digantikan putranya yang bernama Kala Gemet dengan gelar Sri Jayanegara. Kala Gemet sudah diangkat sebagai raja muda (kumararaja) sejak ayahnya masih memerintah (1296). Ternyata, Jayanagara adalah raja yang lemah. Oleh karena itu, pada masa pemerintahannya terus dirongrong oleh sejumlah pemberontakan.

Pada tahun 1316 timbul pemberontakan yang dipimpin oleh Nambi yang menjabat Rakryan Patih Majapahit. Nambi memusatkan kekuatannya di daerah Lumajang dan Pajarakan. Pemberontakan Nambi mendapat dukungan dari ayahnya (Wiraraja). Raja Jayanegara atas nasihat Mahapati memerintahkan Lumajang dan Pajarakan digempur sampai hancur. Terjadilah pertempuran sengit dan Nambi pun gugur.

Keadaan belum pulih, terjadi lagi pemberontakan Semi pada tahun 1318. Setahun kemudian (1319) terjadi pemberontakan Kuti. Semi dan Kuti adalahdua orang dari tujuh dharmmaputra. Pemberontakan inilah yang paling berbahaya karena Kuti berhasil menduduki ibu kota Kerajaan Majapahit. Jayanegara terpaksa melarikan diri dan mengungsi ke Badander di bawah perlindungan pasukan Bayangkara yang dipimpin oleh Gajah Mada.

Setelah raja dalam keadaan aman, Gajah Mada kembali ke Majapahit untuk  melakukan pendekatan kepada rakyat. Ternyata masih banyak rakyat yang memihak raja dan Gajah Mada pun berhasil menanamkan rasa kebencian kepada Kuti. Dengan strategi yang jitu, Gajah Mada mengadakan serangan secara tiba-tiba ke pusat kerajaan. Pasukan Kuti dapat dihancurkan dan Kuti tewas dalam pertempuran itu. Setelah keadaan benar-benar aman, Jayanegara pulang ke ibu kota untuk meneruskan pemerintahannya. Karena jasanya yang besar, Gajah Mada diangkat menjadi Patih Kahuripan. Dua tahun berikutnya, ia diangkat menjadi Patih Daha menggantikan Arya Tilan (1321).

Pada tahun 1328 terjadilah musibah yang mengejutkan. Raja Jayanegara dibunuh oleh Tanca (seorang tabib kerajaan). Tanca kemudian dibunuh oleh Gajah Mada. Peristiwa itu disebut Patanca. Jayanegara didharmakan di Candi Srenggapura di Kapopongan.

3) Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwarddhani (1328–1350)
Raja Jayanegara tidak berputra sehingga ketika baginda mangkat, takhta kerajaan diduduki oleh adik perempuannya dari ibu berbeda (Gayatri) yang bernama Bhre Kahuripan. Ia dinobatkan menjadi Raja Majapahit dengan gelar Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwarddhani. Selama memerintah, Tribhuwanatunggadewi didampingi suaminya yang bernama Cakradhara atau Cakreswara yang menjadi raja di Singasari (Bhre Singasari) dengan gelar Kertawardhana. Berkat bantuan dan saran dari Patih Gajah Mada, pemerintahannya dapat berjalan lancar walaupun masih timbul pemberontakan.

Pada tahun 1331 timbul pemberontakan Sadeng dan Keta di daerah Besuki, tetapi dapat dihancurkan oleh pasukan Gajah Mada. Karena jasanya itu, GajahMada naik pangkat lagi dari Patih Daha menjadi Mahapatih Majapahit menggantikan Pu Naga. Setelah diangkat menjadi Mahapatih Majapahit, dalam suatu persidangan besar yang dihadiri oleh para menteri dan pejabat negara lainnya, Gajah Mada mengucapkan sumpah untuk menyatukan Nusantara di bawah naungan Majapahit. Sumpahnya itu dikenal dengan nama Sumpah Palapa. Palapa berarti garam atau rempah-rempah yang dapat melezatkan berbagai masakan. Oleh karena itu, sumpah itu dapat diartikan bahwa Gajah Mada tidak akan makan palapa (hidup enak) sebelum berhasil menyatukan Nusantara.

Semula banyak pejabat negara yang menertawakannya, tetapi Gajah Mada  sudah bertekad baja, bersemangat membara, dan maju terus pantang mundur.Gajah Mada mempersiapkan segala sesuatunya untuk mewujudkan sumpahnya, seperti prajurit pilihan, persenjataan, dan armada laut yang kuat. Setelah persiapannya matang, tentara Majapahit sedikit demi sedikit bergerak menyerang untuk menaklukkan wilayah kerajaan lain.

Pada tahun 1334 Bali berhasil ditaklukkan oleh Gajah Mada yang dibantu oleh Laksamana Nala dan Adityawarman. Adityawarman adalah seorang pejabat Majapahit keturunan Melayu dan berkedudukan sebagai werdhamantri dengan gelar Arya Dewaraja Pu Aditya. Setelah penaklukkan Bali, satu demi satu daerah di Sumatra, Semenanjung Malaka, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Irian (Papua) bagian barat berhasil ditundukkan dan mengakui kekuasaan Majapahit. Tugas besar itu tercapai pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Agar pengakuan kekuasaan Majapahit di Sumatra kekal, Adityawarman diangkat menjadi raja di Melayu menggantikan Mauliwarmadewa (1343). Adityawarman segera menata kembali struktur pemerintahan dan meluaskan daerah kekuasaannya hingga Pagarruyung–Minangkabau. Setelah itu, Adityawarman memindahkan pusat kerajaan dari Jambi ke Pagarruyung. Adityawarman memerintah hingga tahun 1375.

Pada tahun 1372 Tribhuwanatunggadewi meninggal dan didharmakan di Panggih dengan nama Pantarapurwa.

4) Raja Hayam Wuruk (1350–1389)
Hayam Wuruk setelah naik takhta bergelar Sri Rajasanagara dan dikenalpula dengan nama Bhre Hyang Wekasing Sukha. Ketika Tribhuwanatunggadewi masih memerintah, Hayam Wuruk telah dinobatkan menjadi rajamuda (kumararaja) dan mendapat daerah Jiwana sebagai wilayah kekuasaannya. Dalam  memerintah Majapahit, Hayam Wuruk didampingi oleh Gajah Mada sebagaipatih hamangkubumi.

Hayam Wuruk adalah raja yang cakap dan didampingi oleh patih yang gagah berani pula. Pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk inilah Majapahit mencapai puncak kebesaran. Wilayah kekuasaannya hampir seluas negara Indonesia sekarang. Bahkan, pengaruhnya terasa sampai ke luar Nusantara, yaitu sampai ke Thailand (Campa), Indocina, dan Filipina Selatan. Dengan kenyataan itu, berarti Sumpah Palapa Gajah Mada benar-benar terwujud sehingga seluruh pembesar kerajaan selalu hormat kepadanya. Kecuali sebagai seorang negarawan dan jenderal perang, Gajah Mada juga ahli hukum. Ia berhasil menyusun kitab Kutaramanawa yang digunakan sebagai dasar hukum di Majapahit.

Pada saat pemerintahan Raja Hayam Wuruk, ada satu daerah di Pulau Jawa yang belum tunduk kepada Majapahit, yaitu Kerajaan Sunda di Jawa Barat. Kerajaan Sunda itu diperintah oleh Sri Baduga Maharaja. Gajah Mada ingin menundukkan secara diplomatis dan kekeluargaan. Kebetulan pada tahun 1357 Raja Hayam Wuruk bermaksud meminang putri Sri Baduga yang bernama Dyah Pitaloka untuk dijadikan permaisuri. Lamaran itu diterimanya. Dyah Pitaloka dengan diantarkan oleh Sri Baduga beserta prajuritnya berangkat ke Majapahit. Akan tetapi, ketika sampai di Bubat, Gajah Mada menghentikan rombongan pengantin. Gajah Mada menghendaki agar putri Kerajaan Sunda itu dipersembahkan kepada Hayam Wuruk sebagai tanda tunduk Raja Sunda  kepada Majapahit. Tentu saja maksud Gajah Mada itu ditentang oleh raja dankaum bangsawan Sunda. Akibatnya, terjadilah pertempuran sengit yang tidak seimbang. Sri Baduga beserta para pengikutnya gugur, Dyah Pitaloka bunuh diri di tempat itu juga. Peristiwa itu terkenal dengan nama Perang Bubat.

5) Raja Wikramawardhana (1389–1429)
Setelah Raja Hayam Wuruk mangkat, terjadilah perebutan kekuasaan di antara putra-putri Hayam Wuruk. Kemelut politik pertama meletus pada tahun1401. Seorang raja daerah dari bagian timur, yaitu Bhre Wirabhumi memberontak terhadap Raja Wikramawardhana. Raja Wikramawardhana adalah suami Kusumawardhani yang berhak mewarisi takhta kerajaan ayahnya (Hayam Wuruk), sedangkan Bhre Wirabhumi adalah putra Hayam Wuruk dari selir.

Dalam kitab Pararaton, pertikaian antarkeluarga itu disebut Perang Paregreg. Pasukan Bhre Wirabhumi dapat dihancurkan dan ia terbunuh oleh Raden Gajah.

6) Raja Suhita (1429–1447)
Wikramawardhana wafat pada tahun 1429 dan digantikan oleh putrinya yang bernama Suhita. Penobatan Suhita menjadi Raja Majapahit dimaksudkan untuk meredakan pertikaian keluarga tersebut. Namun, benih balas dendam sudah telanjur tertanam pada keluarga Bhre Wirabhumi. Akibatnya, pada tahun  1433 Raden Gajah dibunuh karena dipersalahkan telah membunuh BhreWirabhumi. Hal itu menunjukkan bahwa pertikaian antarkeluarga Majapahit terus berlangsung.

7) Raja Majapahit Terakhir
Pada tahun 1447 Suhita meninggal dan digantikan Dyah Kertawijaya. Ia hanya memerintah selama empat tahun (1447–1451) karena pada tahun 1451 meninggal dan didharmakan di Kertawijayapura. Apa yang diperbuat oleh raja tidak ada keterangan yang jelas.

Sepeninggal Kertawijaya, pemerintahan Majapahit dipegang oleh Bhre Pamotan dengan gelar Sri Rajawarddhana. Rajawarddhana juga disebut Sang Sinagara. Dalam kitab Pararaton disebutkan bahwa ia berkedudukan di Keling, Kahuripan. Ini lebih dikuatkan lagi oleh Prasasti Waringin Pitu yang dikeluarkan oleh Kertawijaya (1447).

Sepeninggal Rajawarddhana (1453), Kerajaan Majapahit selama tiga tahun (1453–1456) tidak mempunyai seorang raja.

Pada tahun 1456 Majapahit diperintah oleh Bhre Wengker dengan gelar Girindrawardhana. Bhre Wengker adalah anak Bhre Tumapel Kertawijaya. Masa pemerintahannya berlangsung selama 10 tahun (1456–1466).

8) Keruntuhan Kerajaan Majapahit
Berkembangnya agama Islam di pesisir utara Jawa yang kemudian diikuti berdirinya Kerajaan Demak mempercepat kemunduran Kerajaan Majapahit. Raja dan pejabat penting Demak adalah keturunan Raja Majapahit yang sudah masuk Islam. Mereka masih menyimpan dendam nenek moyangnya sehingga Majapahit berusaha dihancurkan. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1518–1521. Penyerangan Demak terhadap Majapahit itu dipimpin oleh Adipati Unus (cucu Bhre Kertabhumi).

b. Struktur Pemerintahan Kerajaan Majapahit
Wilayah kekuasaan Majapahit pada saat pemerintahan Hayam Wuruk meliputi seluruh Nusantara, termasuk Singapura dan Semenanjung Melayu. Bahkan, pengaruh Kerajaan Majapahit terasa sampai ke luar Nusantara, yaitu ke Filipina Selatan dan Thailand (Campa). Wilayah yang luas itu dibagi-bagi dalam delapan daerah atau disebut Daerah Delapan, yaitu Jawa, Sumatra, Kalimantan (Tanjungpura), Semenanjung Melayu, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Majapahit merupakan kerajaan Hindu yang diketahui agak lengkap struktur pemerintahannya. Struktur pemerintahaan Kerajaan Majapahit mencerminkan adanya kekuasaan yang bersifat teritorial dan sentralisasi. Raja dianggap sebagai penjelmaan dewa yang memegang kekuasaan politik sehingga dengan sendirinya menempati struktur pemerintahan tertinggi di kerajaan.

Dalam menjalankan pemerintahan, raja dibantu oleh sejumlah pejabat. Adapun nama jabatan tersebut adalah sebagai berikut.

1) Rakryan Mahamantri Katrini 
Rakryan Mahamantri Katrini dijabat oleh putra-putra raja yang merupakan gabungan jabatan dari pangkat rakryan mahamantri i hino, rakryan mahamantri i halu, dan rakryan mahamantri i sirikan.

2) Rakryan Mantri Pakira-Kiran
Rakryan Mantri Pakira-Kiran adalah suatu dewan yang terdiri atas lima orangpejabat tinggi kerajaan yang berfungsi sebagai badan pelaksana pemerintahan. Dewan ini terdiri atas patih hamangkubumi (perdana menteri), rakryan tumenggung, rakryan demung, rakryan rangga, dan rakryan kanuruhan. Kelima pejabat itu juga disebut Sang Pancaring Wilwatikta atau Menteri Mancanagara.Selain dewan menteri, masih banyak menteri lainnya, seperti werdhamenteri, yuwamenteri, dan aryadhikara.

3) Dharmmaddyaksa
Dharmmaddyaksa adalah jabatan bidang keagamaan. Jabatan untuk urusan agama Syiwa disebut dharmmaddhyaksa ring kasaiwan, sedangkan jabatan untuk agama Buddha disebut dharmmaddhyaksa ring kasogatan.

Kedua jabatan itu masih dibantu oleh para pejabat bawahannya yang disebut dharmaupapati atau sang pamegat. Jumlah mereka banyak sekali. Akan tetapi, di dalam prasasti-prasasti peninggalan Majapahit biasanya yang disebut paling banyak tujuh orang. Pada zaman Hayam Wuruk dikenal adanya tujuh upapati yang disebut sang upapati sapta. Ketujuh upapati itu adalah sang pamegat i tirwan, sang pamegat i kandamuhi, sang pamegat i manghuri, sang pamegat i pamwatan, sang pamegat i jambi, sang pamegat i kandangat atuha, dan sang pamegat i kandangan rare.

Di samping jabatan tersebut, raja juga mempunyai suatu lembaga yang berfungsi sebagai dewan pertimbangan kerajaan. Dewan pertimbangan kerajaan itu disebut Bhatara Sapta Prabu.

4) Urusan Kelautan dan Angkatan Laut
Urusan kelautan dan angkatan laut dipegang oleh Laksamana Nala. Ia telah berjasa besar dalam berbagai ekspansinya ke luar Jawa untuk menyatukan Nusantara.

c. Bidang Sosial
Pada waktu tertentu diselenggarakan upacara Srrada di ibu kota kerajaan dengan tujuan menghormati arwah nenek moyang. Upacara Srrada dihadiri oleh semua pejabat termasuk para adipati. Upacara Srrada yang paling besar diselenggarakan pada tahun 1362, yaitu pada saat memperingati 12 tahun meninggalnya Rajapatni atas perintah ibunda Raja Tribuwanatunggadewi.

Raja Hayam Wuruk sangat memperhatikan pula keadaan daerah-daerah kerajaan. Beberapa kali ia mengadakan perjalanan kenegaraan meninjau daerah kekuasaan Majapahit dengan disertai para pembesar kerajaan. Di antaranya adalah perjalanan ke daerah
a) Pajang (1351),
b) Lasem (1354),
c) Lumajang (1359),
d) Blitar (1361),
e) Simping sambil meresmikan sebuah candi (1363), dan
f) Kediri (1365).

Pada masa Kerajaan Majapahit berkembang agama Hindu Syiwa dan Buddha. Kedua umat beragama itu memiliki toleransi yang besar sehingga tercipta kerukunan umat beragama yang baik. Raja Hayam Wuruk beragama Syiwa, sedangkan Gajah Mada beragama Buddha. Namun, mereka dapat bekerja sama dengan baik.

Rakyat ikut meneladaninya, bahkan Empu Tantular menyatakan bahwa kedua agama itu merupakan satu kesatuan yang disebut Syiwa–Buddha. Hal itu ditegaskan lagi dalam kitab Sutasoma dengan kalimat Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharmma Mangrwa. Artinya, walaupun beraneka ragam, tetap dalam satu kesatuan, tidak ada agama yang mendua.

Urusan keagamaan diserahkan kepada pejabat tinggi yang disebut dharmmaddhyaksa. Jabatan itu dibagi dua, yaitu dharmmaddhyaksa ring kasaiwan untuk urusan agama Syiwa dan dharmmaddhyaksa ring kasogatan untuk urusan agama Buddha. Kedua pejabat itu dibantu oleh sejumlah pejabat keagamaan yang disebut dharmmaupatti. Pejabat itu, pada zaman Hayam Wuruk yang terkenal ada tujuh orang yang disebut sang upatti sapta. Di samping sebagai pejabat keagamaan, para upatti juga dikenal sebagai kelompok cendekiawan atau pujangga. Misalnya, Empu Prapanca adalah seorang dharmmaddhyaksa dan juga seorang pujangga besar dengan kitabnya Negarakertagama.

Untuk keperluan ibadah, raja juga melakukan perbaikan dan pembangunan candi-candi.

d. Kehidupan Budaya
Pada masa Majapahit bidang seni budaya berkembang pesat, terutama seni sastra. Karya seni sastra yang dihasilkan pada masa Majapahit, antara lain sebagai berikut.
1) Kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca pada tahun 1365. Isinya menceritakan hal-hal sebagai berikut.
  • Sejarah raja-raja Singasari dan Majapahit dengan masa pemerintahannya.
  • Keadaan kota Majapahit dan daerah-daerah kekuasaannya.
  • Kisah perjalanan Raja Hayam Wuruk ketika berkunjung ke daerah kekuasaannya di Jawa Timur beserta daftar candi-candi yang ada.
  • Kehidupan keagamaan dengan upacara-upacara sakralnya, misalnya upacara Srrada untuk menghormati roh Gayatri dan menambah kesaktian raja.


2) Kitab Sutasoma karangan Empu Tantular. Kitab tersebut berisi riwayat Sutasoma, seorang anak raja yang menjadi pendeta Buddha.

3) Kitab Arjunawijaya karangan Empu Tantular. Kitab tersebut berisi tentang riwayat raja raksasa yang berhasil ditundukkan oleh Raja Arjunasasrabahu.

4) Kitab Kunjarakarna dan Parthayajna, tidak jelas siapa pengarangnya. Kitab itu berisi kisah raksasa Kunjarakarna yang ingin menjadi manusia, dan pengembaraan Pandawa di hutan karena kalah bermain dadu dengan Kurawa.

Di samping seni sastra, seni bangunan juga berkembang pesat. Bermacammacam candi didirikan dengan ciri khas Jawa Timur, yaitu dibuat dari bata, misalnya Candi Panataran, Candi Tigawangi, Candi Surawana, Candi Jabung, dan Gapura Bajang Ratu.

Majapahit mencapai puncak kejayaan berkat usaha Patih Gajah Mada dan Raja Hayam Wuruk. Pada tahun 1364 Gajah Mada meninggal. Hal itu menimbulkan kesulitan bagi Raja Hayam Wuruk untuk mencari penggantinya. Oleh karena itu, tugas patih hamangkubumi diserahkan kepada dewan menteri yang terdiri atas Empu Tanding, Empu Nala, dan Patih Dami. Setelah tiga tahun dari kematian Gajah Mada, raja mengangkat Gajah Enggon menjadi patih hamangkubumi.

Pada tahun 1389 Raja Hayam Wuruk mangkat dan didharmakan di Tayung (daerah Berbek, Kediri). Hayam Wuruk mempunyai seorang putri dan seorang putra dari dua orang istri. Dari permaisurinya lahir Kusumawardhani, sedangkan dari selirnya lahir Bhre Wirabhumi.

Berdasarkan sumber sejarah yang ada, baik berupa prasasti maupun kitabkitab kuno, disebutkan bahwa Raden Wijaya sebagai pendiri Kerajaan Majapahit sebenarnya masih kerabat atau pangeran dari Kerajaan Singasari. Untuk keperluan tersebut, buatlah silsilah Kerajaan Singasari dari Ken Arok sampai Raden Wijaya.

e. Bidang Ekonomi
Kegiatan ekonomi yang dijalankan oleh rakyat dan pemerintah Kerajaan Majapahit adalah sebagai berikut.
  • Di Pulau Jawa dititikberatkan pada sektor pertanian rakyat yang banyak menghasilkan bahan makanan.
  • Di luar Jawa, terutama bagian timur (Maluku), dititikberatkan pada tanaman rempah-rempah dan tanaman perdagangan lainnya.
  • Di sepanjang sungai-sungai besar berkembang kegiatan perdagangan yang menghubungkan daerah pantai dan pedalaman.
  • Di kota-kota pelabuhan, seperti Tuban, Gresik, Sedayu, Ujung Galuh, Canggu, dan Surabaya, dikembangkan perdagangan antarpulau dan dengan luar negeri, seperti Cina, Campa, dan India.
  • Dari kota-kota pelabuhan, pemerintah menerima bea cukai, sedangkan dari raja-raja daerah pemerintah menerima pajak dan upeti dalam jumlah yangcukup besar.


Perekonomian yang maju ini membuat rakyat hidup sejahtera dan keluarga raja beserta para pejabat negara lebih makmur lagi.

Makalah Perkembangan Kerajaan Hindu–Buddha di Indonesia Contoh Artikel Sejarah Rating: 4.5 Posted By: Sekolah Online

0 comments:

Poskan Komentar