Kajian Teori, Mata Pelajaran SD SMP SMP SMA SMK MTS dan Mata Kuliah Mahasiswa

Senin, 25 Juli 2016

Kedudukan dan Peran Sosial - Mobilitas Sosial Vertikal dan Horizontal

Kedudukan dan Peran Sosial - Mobilitas Sosial Vertikal dan Horizontal
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, mobilitas sosial dapat terjadi, baik secara horizontal maupun vertikal. Tidak hanya dilakukan oleh seseorang atau kelompok sebagai orang yang langsung terlibat di dalamnya, tetapi dapat pula terjadi pada keturunannya atau antar-generasi. Pengertian mobilitas inter generasi (antargenerasi) adalah mobilitas antara dua generasi atau lebih, misalnya generasi ayah, generasi anak, generasi cucu, dan seterusnya atau generasi sekarang (dalam keluarga anak, anak adalah kepala keluarga) dan generasi pendahulu (keluarga ayah, ayah sebagai kepala keluarga).

Mobilitas sosial berhubungan dengan kedudukan dan peran seseorang atau kelompok untuk mencapai kedudukan dan mungkin peran lain yang berbeda dengan semula. Untuk mencapai kedudukan yang dianggap baik atau terpandang oleh masyarakat, bukanlah sesuatu hal yang mudah. Demikian pula, kedudukan atau peran sosial yang telah dimiliki oleh seseorang atau masyarakat, tidak selamanya tetap bertahan pada tingkat yang sama, tetapi selalu mengalami perubahan, baik ke tingkat yang lebih tinggi maupun ke tingkat yang lebih rendah, atau berubah dari suatu kedudukan dan peran sosial ke kedudukan dan peran sosial yang lain. Antara kedudukan dan peran merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam mobilitas sosial. Kedudukan seseorang dapat menjadi lebih tinggi atau menurun karena adanya penghargaan yang diberikan kepada peran-perannya. Sebaliknya, keberhasilan seseorang atau masyarakat dalam melakukan perannya juga bergantung pada kedudukannya. Hal ini biasanya berhubungan dengan kekuasaan dan wewenang yang dimiliki. Contohnya, seorang karyawan biasa karena memiliki prestasi dan keterampilan melebihi karyawan lainnya maka ia diangkat menjadi manajer atau kepala personalia; sebaliknya, seorang manajer yang kurang memiliki kemampuan dalam memimpin perusahaan maka ia akan dipindahkan oleh direkturnya ke bagian lain yang lebih rendah menjadi karyawan biasa atau mungkin di PHK.



Gambar: Mobilitas intergenerasi terdiri atas ayah, anak, dan cucu.

Gerak sosial memiliki beberapa dimensi, tetapi yang paling prinsip dari tipe-tipe tersebut adalah gerak sosial yang horizontal dan gerak sosial vertikal.

1. Mobilitas Sosial Horizontal
Mobilitas sosial horizontal terjadi apabila terdapat perubahan kedudukan pada strata yang sama. Perubahan kedudukan terjadi pada orang yang sama disebut mobilitas sosial horizontal intragenerasi. Kedudukan seseorang dapat berubah naik atau turun pada lapisan atau strata yang sama, tanpa mengubah kedudukan yang ber sangkutan. Akan tetapi, peran yang dipegang seseorang dapat berubah. Jika dihubungkan dengan gaji atau imbalan yang didapat oleh seseorang, perubahan kedudukan secara horizontal tidak memengaruhi tingkat imbalan orang yang bersangkutan. 

Misalnya sebagai berikut. 
  • Seseorang bekerja di perusahaan sebagai sekretaris, pada suatu saat dipindahkan menjadi bendahara. Orang yang bersangkutan tetap memperoleh gaji yang sama.
  • Seseorang diberi tugas oleh presiden untuk menjadi menteri pertanian pada suatu kabinet selama lima tahun. Pada per gantian kabinet berikutnya, yang bersangkutan diserahi tugas sebagai menteri perindustrian. 
  • Seorang guru di sebuah SMA di kota A pindah ke SMA di kota B. Guru tersebut tidak mengalami perubahan kedudukan dan peran, tetapi hanya berpindah tempat kerja.

Pergeseran-pergeseran tersebut tidak menurunkan atau menaikkan posisi yang bersangkutan, tetapi bukan berarti tidak mengalami kesulitan dalam menjalankan tugasnya. Kesulitan yang muncul umumnya terjadi pada saat penyesuaian diri (adaptasi). Adakalanya yang bersangkutan harus mempelajari dan melatih keterampilan yang baru. Begitu pula penyesuaian terhadap kelompok yang didatangi, harus dimulai dengan mengenal dan menerima kembali sifat-sifat dan perilaku rekan sekerjanya agar dapat bekerja sama untuk meningkatkan prestasi kerja di kelompoknya. Eratnya hubungan sosial dan kerja sama yang telah terbina di kelompok yang ditinggalkan, dijalin kembali di kelompok yang baru. 

Mobilitas sosial horizontal antargenerasi (intergenerasi) terjadi apabila anak dan orangtuanya berbeda pekerjaan, tetapi memiliki kedudukan sosial yang sama. Misalnya,
  • Orangtua mempunyai kedudukan sebagai petani kaya dan digolongkan sebagai kelas menengah di masyarakat, tetapi anaknya tidak menginginkan untuk mengikuti jejak orang-tuanya. Anak petani lebih memilih menjadi seorang pedagang yang berhasil dan kaya sehingga keduanya sama-sama berada  pada tingkat sosial kelas menengah.
  • Seorang ayah mempunyai kedudukan pegawai negeri dan berperan sebagai guru di sebuah SMA di kota X, anaknya menjadi pegawai negeri di kantor pemerintah. Keduanya memiliki kedudukan yang sama, tetapi memiliki peran yang berlainan.

Mobilitas horizontal antargenerasi ini terjadi apabila orangtua dan anaknya mempunyai kedudukan yang sama, tetapi peran berbeda. Dengan kata lain bahwa suatu generasi (orangtua) tidak menurunkan segalanya kepada generasi berikutnya (anak).

2. Mobilitas Sosial Vertikal
Mobilitas sosial vertikal adalah perpindahan seseorang atau  kelompok dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lain yang tidak sederajat, baik pindah ke tingkat yang lebih tinggi (social climbing) maupun turun ke tingkat lebih rendah (social sinking).

Setiap orang di masyarakat tidak selamanya memiliki kedu dukan yang tetap, tetapi selalu mengalami  perubahan. Begitu pula halnya dengan seorang karyawan yang tidak ingin selamanya menempati kedudukan sama, Ia akan berusaha untuk naik ke kedudukan yang lebih tinggi. Jabatan yang dipegang oleh seseorang tidak dapat dilepaskan dari kedudukan sosialnya, karena jabatan dapat melambangkan kedudukan sosial. Akan tetapi, jabatan tidak dapat dipegang selamanya karena jabatan suatu saat akan diserahkan kepada orang lain. Orang yang menempati jabatan sebelumnya dapat saja naik untuk menempati jabatan yang lebih tinggi atau selesai bekerja karena pensiun sehingga tidak mempunyai jabatan lagi dan kedudukan sosialnya menurun. Hal tersebut dinamakan gerak naik turun atau mobilitas sosial vertikal.

Murid yang tekun dan giat belaja
Gambar: Murid yang tekun dan giat belajar, kemudian mendapat prestasi yang baik, suatu saat akan mengalami mobilitas sosial vertikal.

Seseorang yang sudah lama bekerja di suatu kantor atau perusahaan, akan berusaha mendapatkan kenaikan gaji. Dengan adanya kenaikan gaji tidak berarti naiknya kedudukan ke tingkat yang lebih tinggi karena yang bersangkutan tetap menempati jabatan semula. Akan tetapi, apabila yang bersangkutan hanya pegawai biasa atau juru ketik karena prestasi kerja, maka dinaikkan kedudukannya menjadi kepala bagian. Perpindahan kedudukan dari lapisan yang lebih rendah ke lapisan yang lebih tinggi tersebut dinamakan promosi. Contoh lain dari promosi atau mobilitas naik seperti berikut.
  • Seorang guru, karena prestasi dan pangkat yang telah mencukupi, mendapat promosi jabatan untuk menjadi kepala sekolah.
  • Seorang bupati yang mendapat banyak dukungan dari masyarakat dan dewan, kemudian terpilih menjadi gubernur.


Sebagai kepala sekolah atau gubernur, apabila telah habis masa jabatannya dan tidak dapat diangkat lagi, akan kembali ke jabatan sebelumnya atau berhenti sama sekali (pensiun). Jabatan yang dipegang seseorang merupakan peran yang harus dilaksanakan sesuai dengan kedudukan yang dimiliki. Dengan demikian,  mobilitas sosial vertikal naik mempunyai dua bentuk utama, yaitu.
  • masuknya individu-individu atau seseorang yang memiliki kedudukan rendah ke tingkat kedudukan yang lebih  tinggi;
  • pembentukan suatu kelompok sosial baru kemudian ditempatkan pada derajat yang lebih tinggi dari orang-orang pembentuk kelompok tersebut.


Adapun mobilitas vertikal menurun juga memiliki dua bentuk utama, yaitu:
  • turunnya kedudukan seseorang ke tingkat yang lebih rendah daripada sebelumnya;
  • turunnya derajat sekelompok orang dari tingkat sebelumnya, yang disebut dengan desintegrasi atau degradasi.


Mobilitas sosial yang vertikal memiliki beberapa ciri, yaitu sebagai berikut.
  • Masyarakat yang bersangkutan adalah masyarakat yang terbuka, artinya lapisan atau kelas-kelas sosial yang ada di dalam masyarakat tidak menutup kemungkinan untuk naik turunnya kedudukan anggota masyarakatnya.
  • Setiap warga masyarakat (negara) mempunyai kedudukan hukum yang sama tingginya.
  • Gerak naik ke lapisan kedudukan yang lebih tinggi mengan-dalkan kesanggupan seseorang mengatasi sistem seleksi yang semakin berat. Misalnya, setiap orang berhak untuk menempati kedudukan apapun di negara ini asalkan memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan.


Mobilitas sosial vertikal terjadi pada orang yang bersangkutan atau pada keturunannya, terdapat dua bentuk yang dinamakan mobilitas vertikal intragenerasi dan mobilitas vertikal intergenerasi (antargenerasi). Mobilitas vertikal intragenerasi yaitu mobilitas sosial yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok itu sendiri. Mobilitas vertikal intergenerasi (antargenerasi) yaitu mobilitas sosial tidak dilakukan langsung oleh seseorang atau kelompok, tetapi oleh keturunannya, baik anak maupun cucunya. Misalnya, sebagai berikut.
  • Bapak X seorang pengemudi angkutan kota, tetapi anaknya disekolahkan sampai mendapat gelar insinyur (sarjana teknik), kemudian bekerja di perusahaan  pertambangan yang dikelola oleh swasta nasional.
  • Bapak Y seorang pengusaha kaya di kotanya, tetapi anaknya memilih menjadi seniman.


Mobilitas vertikal tidak selalu dilakukan oleh yang ber sangkutan baik gerak naik maupun gerak turun. Kadangkala seseorang ingin mewariskan kedudukan atau menginginkan lapisan dan kelas sosial kepada anaknya agar sama dengan dirinya. Akan tetapi, anak sering memilih hal lain yang berbeda dari pilihan orangtuanya karena anak mempunyai keinginan untuk bebas dalam menentukan nasibnya sehingga kedudukan yang dimiliki anak dapat berbeda dengan orangtua, baik menjadi lebih tinggi maupun menjadi lebih rendah.

Berikut ini prinsip-prinsip umum bagi mobilitas sosial vertikal, yaitu sebagai berikut.
  • Hampir tidak ada masyarakat yang sistem sosialnya bersifat tertutup sama sekali (mutlak), seperti masyarakat berkasta di India. Walaupun mobilitas sosial vertikal hampir tidak tampak, proses perubahan tetap terjadi. Misalnya, seorang dari kasta brahmana yang berbuat kesalahan besar dapat turun ke kasta yang lebih rendah atau mobilitas sosial vertikal ini dapat terjadi karena perkawinan yang berbeda kasta.
  • Betapapun terbukanya sistem sosial yang berlapis-lapis di masyarakat, tidak mungkin mobilitas sosial vertikal dilakukan sebebas-bebasnya. Hal ini karena tidak mungkin ada stratifikasi (lapisan) sosial yang menjadi ciri tetap dan umum di setiap masyarakat.
  • Mobilitas sosial vertikal berlaku umum bagi semua masyarakat karena setiap masyarakat mempunyai ciri-ciri tersendiri bagi mobilitas sosial vertikal.
  • Laju mobilitas sosial vertikal dapat disebabkan oleh faktor ekonomi, politik, dan pekerjaan yang masing-masing berbeda.
  • Mobilitas sosial vertikal yang disebabkan oleh faktor ekonomi, politik, pekerjaan, tidak ada kecenderungan yang terus berkesinambungan (continue), baik bertambah naik maupun menurun, tetapi akan selalu mengalami perubahan. Hal ini karena orang yang memiliki suatu kedudukan dan peran tidak akan selamanya sama.


Selain itu, mobilitas sosial dapat dibedakan dalam dua jenis yang didasarkan pada keadaan dari tolok ukur bagaimana para individu dalam lapisan sosial berupaya mengubah dirinya, yaitu sebagai berikut.
  • Mobilitas yang disponsori (sponsored mobility) bergantung pada bagaimana kategori dan posisi individu memperoleh pendidikan, keturunan, atau dari kelas sosial yang dianggap memiliki peluang bergerak.
  • Mobilitas sosial tandingan (contest mobility) akan bergantung pada upaya dan kemampuan para individu, karena persaingan itu terbuka maka status elite tertentu mungkin saja akan dicapai seseorang.


Menurut  Pitirim A. Sorokin, mobilitas sosial vertikal di masyarakat terdapat saluran-salurannya karena setiap terjadi mobilitas sosial vertikal akan melalui saluran tertentu yang disebut social circulation. Saluran yang penting untuk terjadinya mobilitas sosial vertikal yaitu sebagai berikut.

a. Angkatan Bersenjata
Angkatan bersenjata memainkan peranan penting dalam mempertahan  kan kedaulatan negara bahkan dengan cara perang sekalipun. Jika di dalam perang terdapat seorang prajurit yang berjasa dalam  pertempuran, yang bersangkutan akan dihargai tanpa memandang kedudukan sebelumnya. Jika prajurit tersebut yang berasal dari kedudukan yang rendah, dapat naik pangkat ke tingkat yang lebih tinggi.

Prajurit TNI yang mendapat penghargaan atau kenaikan pangkat
Gambar: Prajurit TNI yang mendapat penghargaan atau kenaikan pangkat karena jasa jasanya, merupakan indikasi dari mobilitas sosial vertikal.

b. Lembaga Keagamaan
Lembaga keagamaan merupakan salah satu saluran penting dalam gerak sosial. Setiap ajaran agama memandang bahwa setiap orang mempunyai kedudukan yang sederajat. Untuk mencapai tujuan ini, banyak pemuka agama bekerja keras untuk menaikkan kedudukan umatnya dari lapisan rendah ke tingkat yang lebih tinggi agar satu sama lain memiliki derajat yang sama. Misalnya, Nabi Muhammad saw berusaha untuk menaikkan derajat wanita dan budak agar sederajat dengan umatnya yang lain. Di dalam sejarah dikenal Paus Gregorius VII yang jasanya sangat besar dalam pengembangan agama Katolik, padahal beliau adalah putra seorang tukang kayu. Ada pula Siddharta Buddha Gautama, di agama Buddha.

c. Lembaga Pendidikan
Sekolah merupakan saluran yang nyata dari mobilitas sosial vertikal, bahkan dianggap sebagai  social elevator  (pengangkat kedudukan sosial) yang bergerak dari kedudukan rendah ke kedudukan tinggi di masyarakat. Pada suatu perusahaan atau pemerintahan di Indonesia pada umumnya mempekerjakan dan memberi gaji para pegawai sesuai dengan jenjang pendidikan yang mereka miliki. Misalnya sebagai berikut.
  1. Pada kolom gaji bagi pekerja yang masuk secara bersamaan. Besarnya gaji lulusan SMP akan berbeda dengan yang gaji lulusan SMA.
  2. Seorang karyawan di sebuah instansi atau lembaga yang bekerja sambil kuliah yang sesuai dengan pekerjaannya, setelah lulus tentu gajinya akan disesuaikan dengan latar belakang pendidikan yang telah diperoleh.


d. Organisasi Politik
Setiap anggota dari kontestan peserta pemilu mempunyai peluang untuk menaikkan kedudukannya ke tingkat yang lebih tinggi. Seseorang yang dicalonkan oleh salah satu peserta pemilu untuk menjadi wakil rakyat harus pandai berorganisasi dan dapat menggerakkan massa. Selain itu, untuk menjadi anggota DPR, yang bersangkutan sebelumnya harus tercantum dalam daftar orang yang berhak dipilih yang mewakili salah satu kontestan pemilu. Agar dapat terpilih, orang tersebut harus membuktikan memiliki kepribadian dan aspirasi-aspirasi yang baik. Apabila seseorang telah menjadi anggota DPR, kedudukannya akan meningkat dari sebelumnya. Dengan demikian, organisasi politik adalah salah satu wadah bagi seseorang untuk melakukan mobilitas sosial vertikal.


Kampanye politik

Gambar: Kampanye politik merupakan salah satu sarana pemimpinnya untuk melakukan mobilitas sosial vertikal.

e. Organisasi Ekonomi
Organisasi ekonomi memegang peranan yang penting dalam mobilitas sosial vertikal. Keadaan ekonomi seseorang di masyarakat akan menentukan kedudukan dan lapisan sosial seseorang. Bagi orang yang berhasil dalam bidang ekonomi berarti yang bersangkutan berada pada lapisan atas di masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka seseorang akan berada pada salah satu organisasi ekonomi sebagai saluran mobilitas sosial vertikal, seperti Perum, PT, atau CV.

f. Organisasi Keahlian
Organisasi keahlian merupakan salah satu wadah atau saluran yang menampung setiap orang yang memiliki keterampilan atau keahlian tertentu, seperti (Ikatan Dokter Indonesia) IDI, (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) ISPI, (Ikatan Sosiologi Indonesia) ISI. Jika seseorang memiliki keahlian, ia berharap dapat menduduki lapisan sosial yang tinggi di masyarakat. Ia akan masuk organisasi yang sesuai dengan keahliannya. Organisasi tersebut akan memper kenal kan hasil karya yang telah dibuatnya kepada masyarakat sehingga dengan sendirinya yang bersangkutan akan dikenal oleh khalayak.

g. Perkawinan
Mobilitas sosial vertikal dapat terjadi karena perkawinan. Melalui perkawinan, kedudukan seseorang dapat terangkat atau bahkan menurun. Seseorang yang menikah dengan orang yang berasal dari lapisan atas, ia dapat ikut naik kedudukannya. Akan tetapi, tidak demikian apabila dia menikah dengan seseorang yang lebih rendah kedudukannya dalam masyarakat.

Kedudukan dan Peran Sosial - Mobilitas Sosial Vertikal dan Horizontal Rating: 4.5 Posted By: Sekolah Online

0 comments:

Poskan Komentar