Kajian Teori, Mata Pelajaran SD SMP SMP SMA SMK MTS dan Mata Kuliah Mahasiswa

Rabu, 01 Januari 2014

Peran Lingkungan di Asia Tenggara Dalam keanggotaan ASEAN

Peran Lingkungan di Asia Tenggara Dalam keanggotaan ASEAN

Kerja sama antarnegara di kawasan Asia Tenggara dewasa ini sudah menemukan bentuknya yang formal sekaligus permanen, yakni ASEAN. Organisasi kerja sama regional ini sejak awal memang dibentuk atas dasar  kesatuan cita-cita: meningkatkan kesejahteraan segenap masyarakat Asia Tenggara. Sebagai salah satu negara anggota yang sekaligus banyak berkecimpung dalam berbagai kegiatan. Apa saja peran Indonesia dalam organisasi ASEAN?


1. Sebagai Salah Satu Perintis Organisasi ASEAN
Kerja sama antarnegara butuh suatu landasan yang kuat. Tanpa adanya suatu landasan kuat, kerja sama yang dilakukan tidak akan berumur lama atau bahkan tidak mungkin terwujud. Biasanya, landasan kerja sama tersebut berupa piagam kesepakatan yang ditandatangani oleh masing-masing negara yang bersangkutan.

Baca: Pengertian Pemerintahan Pusat Daerah Kewenangan

Dalam sejarah perjalanannya organisasi kerja sama di kawasan negara-negara kawasan Asia Tenggara, piagam kesepakatan tadi sempat muncul beberapa nama. Ada nama ASA (Asosiasi Asia Tenggara dengan negara-negara anggota Malaysia,Filipina, dan Thailand). Ada juga nama MAPHILINDO (Malaysia, Philipina,  dan Indonesia) yang merupakan usulan Sukarno, ASPAC (Asia Pacific Council), SEAARC (South East Asian Association for Regional Cooperation), dan terakhir ASEAN (Association of South East Asian Nations).

Adam Malik  (Menteri Luar Negeri RI) dalam pertemuannya dengan Tengku Abdul Rahman (menteri luar negeri Malaysia) di Bangkok tanggal 23 Mei 1967, dengan tegas menyatakan ”tidak ada tempat bagi ASA dan ASPAC untuk Indonesia.”  Akhir perjalanan dari pentingnya landasan kerja sama tersebut, lima menteri luar negeri (Malaysia, Thailand, Filipina, Singapura, dan Indonesia) menandatangani piagam kesepakatan kerja sama negara-negara Asia Tenggara, yakni ”Deklarasi Bangkok”. Deklarasi inilah yang menjadi dasar pendirian organisasi kerja sama regional Asia Tenggara dan hingga sekarang dikenal sebagai ASEAN

2. Penyumbang Penting Gagasan Stabilitas Asia Tenggara
Pada awalnya organisasi ASEAN mengutamakan kerja sama ekonomi. Akan tetapi organisasi kerja sama regional ini dalam perjalanan selanjutnya tidak dapat lepas dari (pengaruh) situasi kawasan  Asia Tenggara itu sendiri. Ada masalah internal ada juga masalah eksternal di kawasan Asia Tenggara.

Masalah internal kawasan Asia Tenggara yang dimaksud adalah konflik (perang saudara) yang terjadi di daratan Indocina misalnya (Vietnam, Laos, dan Kamboja). Ada juga sengketa-sengketa wilayah antarnegara misalnya seperti yang pernah dialami oleh Malaysia dan Filipina.
Selain itu, saat ASEAN terbentuk dua negara super power (Amerika Serikat dan Uni Soviet) sedang gencar–gencarnya beradu kekuatan serta pengaruh melalui apa yang biasa disebut sebagai “perang dingin”. Salah satu bagian dari bentuk perang dingin tersebut adalah campur tangan dua negara super power dalam kancah perang saudara yang terjadi di kawasan Indocina.

Bagaimana tanggapan negara-negara yang tergabung dalam ASEAN terhadap situasi itu? Malaysia mengajukan usul agar semua kekuatan asing di masing-masing negara ASEAN dikeluarkan. Selain itu, negara-negara Adikuasa kelak harus diminta untuk menyetujui sifat netralitas kawasan Asia Tenggara. Negara-negara super power juga diminta untuk menahan diri dan tidak membawa konflik di negara manapun dalam kawasan Asia Tenggara. Terakhir, negara-negara super power diminta untuk memikirkan sarana pengawasan demi menjamin kenetralan kawasan Asia Tenggara.

Masih dalam pembicaraan tentang menanggapi situasi Eksternal, Indonesia dalam hal ini berbeda pandangan dengan Malaysia. Bagi Indonesia, tidak ada landasan kuat untuk mempercayai tuntutan-tuntutan seperti yang diusulkan Malaysia. Mengapa? Tidak lain, karena negara-negara super power itu sendiri memang mengabaikan berbagai kekuatan tradisional negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Selain itu, dua negara super power juga dapat meninggalkan negara-negara Asia Tenggara, lalu memecahkan masalahnya dengan cara-cara mereka sendiri.

Karena itu Indonesia berpandangan, bahwa dalam menanggapi situasi kawasan Asia Tenggara adalah menekankan perlunya sikap ”kelenturan nasional”. Bagi Indonesia, sikap kelenturan nasional tersebut secara bertahap dapat mengantarkan kepada ”kelenturan regional” yang lebih luas.

Akhir tahun 1975 pandangan tentang kelenturan nasional dan kelenturan regional tersebut diterima dengan baik oleh negara-negara anggota ASEAN. Dan pandangan ini kelak punya arti penting dalam keputusan-keputusan penting pada KTT ASEAN pertama di Bali.
 Asia Tenggara Dalam keanggotaan ASEAN


3. Sebagai Penyelenggara KTT ASEAN Pertama
KTT ASEAN pertama berlangsung di Bali tanggal 23-25 Februari 1976. Dalam KTT tersebut dihasilkan dua keputusan penting berkaitan dengan situasi kawasan Asia Tenggara. Masing-masing 1) Declaration of ASEAN Concord dan 2) TAC (Treary of Amity and Cooperationin Southeast Asia) atau perjanjian persahabatan dan kerja sama.
Dalam deklarasi Concord dijelaskan soal tujuan dan prinsip-prinsip stabilitas kawasan, termasuk berbagai bidang program kerja samanya. Melalui deklarasi tersebut, semua negara ASEAN bertekad melenyapkan segala jenis “penyakit” stabilitas. Stabilitas (tiap negara) dalam deklarasi tersebut dianggap merupakan sumbangan penting perdamaian internasional serta penyelesaian secara damai berbagai perselisihan antarnegara ASEAN.

Sementara itu dalam TAC atau perjanjian persahabatan dan kerja sama berisi prinsip-prinsip dan tata tertib negara ASEAN. Salah satu prinsip tersebut antara lain menyatakan bahwa setiap perselisihan antarnegara ASEAN diselesaikan secara damai. Pendek kata, hasil penting dari KTT ASEAN pertama di Bali ini merupakan penegasan kerja sama politik demi terciptanya stabilitas kawasan Asia Tenggara.

4. Ikut Aktif Menjalin Hubungan ASEAN dengan Negara- negara Maju
Salah satu wujud dari cita-cita meningkatkan kesejahteraan segenap masyarakat Asia Tenggara adalah penyelenggaraan berbagai hubungan. ASEAN dalam hal ini menjalin hubungan dengan negara-negara maju maupun organisasi internasional yang lain, terutama di bidang ekonomi.

Sebagai contoh adalah peran Indonesia dalam hubungan dengan MEE (Masyarakat Ekonomi Eropa) saat Prof. Sumitro Djojohadikusumo menjadi ketua  Standing Committee of a Special Coordinating Committee (SCSCC). Juga, peran Indonesia saat menjadi koordinator hubungan ASEAN-Kanada. Termasuk juga perannya menjadi koordinator KTT ASEAN-Cina pada tahun 2006

5. Turut Aktif dalam Penyelesaian Kamboja dan Pengungsi Indocina
Kawasan Indocina masih terus bergolak. Sebelum tahun 1976 terjadi perang saudara di Vietnam. Sesudah tahun 1976 (Vietnam Utara dan Vietnam selatan sudah bersatu), tentara Vietnam malah menduduki Kamboja (17 Januari 1979). Akibatnya kehidupan masyarakat kawasan Indocina tidak tenang dan sebagian di antara banyak yang pergi mengungsi.

Bagaimana sikap negara-negara ASEAN terhadap pendudukan Kamboja tersebut? Tanggal 12 Januari 1979, para menteri luar negeri ASEAN dalam suatu pertemuan di Bangkok mengeluarkan pernyataan bersama. Isi pernyataan tersebut adalah menyesalkan terjadinya peristiwa pendudukan kekuatan bersenjata asing ke Kamboja.

Indonesia dalam hal ini menyediakan Pulau Galang untuk pemrosesan para pengungsi. Tindakan tersebut dilakukan berdasar atas kesepakatan para menteri ASEAN (yang bekerja sama dengan Komisi Tinggi PBB Urusan Pengungsi/UNHCR).

Peran Lingkungan di Asia Tenggara Dalam keanggotaan ASEAN Rating: 4.5 Posted By: Sekolah Online

0 comments:

Poskan Komentar